Songgao, Paduan Inovasi dengan Tradisi
Kudapan tradisional penganan beras lokal lainnya adalah songgao buatan tangan ── jajanan khas Pasar Nanmen yang berasal dari “dapur perantau Tiongkok”.
“Tok, tok, tok”, bunyi ketukan berirama yang menandakan bahwa songgao putih nan lembut baru saja diangkat dari pengukus, semerbak aroma beras dan isiannya mengepul ke udara.
Dahulu, suara ini hanya akrab di telinga pelanggan setia Pasar Nanmen. Kini, berkat Hoshing 1947, gaungnya menjangkau lebih banyak orang, mengundang rasa penasaran para pelancong yang melintas di depan toko.
“Apa itu?” Pertanyaan yang sering terlontar dari para pelanggan ini, menunjukkan bahwa songgao tak lagi familier bagi generasi masa kini. Kerinduan untuk memperkenalkan kembali songgao kepada generasi mudalah yang kemudian mendorong pasangan Jen Chia-lun dan Cheng Kuang-yu, generasi ketiga toko kue tradisional Hoshing, untuk mendirikan Hoshing 1947.
Upaya mendandani tradisi dengan inovasi ini selaras dengan semangat perpaduan lama dan baru di Distrik Pertokoan Dihua. Tirai jingga di pintu masuk, tusuk gigi bambu sebagai teman mencicipi songgao, hingga benang merah yang menghiasi kotak kemasannya, semua adalah interpretasi dari pasutri Jen dengan Cheng atas busana panggung Dadaocheng untuk kue tradisional.
Sosok utama di atas panggung ── songgao, dengan rupa yang lebih mungil dan menawan. Cheng Kuang-yu bercerita tentang perjalanan panjang mereka mendesain dan mengukir mesin yang tepat untuk mencetak songgao mini. Berbagai pameran makanan dan mesin mereka jajaki berdua, diiringi rentetan kegagalan, hingga akhirnya menemukan cetakan jiwa yang mampu melahirkan songgao mini yang sempurna.
Kunci lain yang membuat songgao menjadi lezat adalah proses penggilingan beras putihnya. Setelah beras penglai dipilih, dicuci, dan direndam, kemudian digiling menjadi tepung dan diayak, lalu dimasukkan ke dalam cetakan dan dikukus hingga menjadi songgao yang lezat. Ukuran butiran tepung yang pas adalah kunci tekstur songgao yang lembut dan halus. Namun, tantangan baru muncul saat ukuran kue dikecilkan, yakni songgao mudah mengeras setelah dingin. “Kami pun bereksperimen dengan menyesuaikan kehalusan ayakan tepung untuk menjaga kelembapannya, sekaligus menciptakan tekstur yang kenyal,” jelas Cheng Kuang-yu.
Dengan dukungan sang ayah, Jen Tai-shing, pasangan ayah dan anak ini terus menapaki jalan baru untuk songgao tradisional sejak tahun 2016. “Mengembangkan varian rasa baru dan berkolaborasi dengan berbagai industri adalah cara kami untuk memperkenalkan songgao kepada khalayak yang lebih luas. Dengan demikian, semakin banyak orang mengenal Hoshing,” harap Cheng Kuang-yu.
Ia menuturkan, ada seorang pemuda mengajak orang tuanya mencicipi songgao di Dadaocheng. Tak disangka, orang tua mereka mengenali kue ini. Sepotong kue kecil pun menjadi jembatan komunikasi antar generasi. “Sama seperti kami yang tengah berinovasi, menemukan kembali ruang untuk berdialog dengan orang tua,” ungkap Cheng Kuang-yu.

Selain wijen dan kacang tanah, Pan En-ping juga berinovasi dengan menambahkan cokelat, matcha, bahkan nasi ayam khas Chiayi untuk menciptakan beragam varian rasa zhuang yuan gao.

Pasangan Jen Chia-lun dan Cheng Kuang-yu mengintegrasikan bantuan mesin dalam proses pembuatan songgao untuk meringankan beban fisik para pembuat kue senior. Namun, langkah-langkah penting seperti pemadatan songgao yang ikonik tetap dilakukan secara manual.

Pasangan Jen Chia-lun dan Cheng Kuang-yu mengintegrasikan bantuan mesin dalam proses pembuatan songgao untuk meringankan beban fisik para pembuat kue senior. Namun, langkah-langkah penting seperti pemadatan songgao yang ikonik tetap dilakukan secara manual.