素有「美食王國」之稱的台灣,一向以美食林立自豪。但吃飽,更要吃好,近來台灣民眾追求「舌尖上的幸福」,轉而以安全、無毒為準則。
台灣有機農業耕地約6,000 公頃,約占總耕地面積0.6%,與歐洲有機農業的領頭羊法國16%、奧地利20% 相較,相去甚遠,但環境變遷加上食安危機,加速了台灣無毒農業的腳步,不僅各地小農市
集暢旺,就連百貨超市、量販店也紛紛加入有機蔬果販售的行列,無毒的美麗新世界已然在望。
Taiwan memiliki sebutan “Kerajaan Kuliner” patut bangga, karena memiliki ragam makanan yang lezat. Namun masyarakat tidak hanya ingin makan kenyang, namun harus mengkonsumsi makanan yang sehat. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Taiwan telah memilih pola makan yang aman dan bebas toksin, dibandingkan citarasa dan daya pikatnya.
Luas lahan pertanian organik di Taiwan mencapai 6.000 hektar, yang menduduki sekitar 0,6% dari seluruh luas pertanian di Taiwan. Kondisi ini masih sangat jauh apabila dibandingkan dengan Perancis yang mencapai 16% dan Australia 20%. Namun karena masalah perubahan iklim dan keamanan pangan, ikut mempercepat langkah Taiwan dalam upaya mengembangkan pertanian bebas toksin. Tidak hanya di lingkungan pasar petani kecil, bahkan pasar swalayan, pasar grosir juga telah memulai penjualan sayur dan buah organik. Dengan demikian, maka upaya mewujudkan dunia baru yang bebas toksin telah berada di ambang mata.
Seiring munculnya masalah keamanan pangan yang dating silih berganti, penjualan produk pertanian bebas toksin terus meningkat, “Sekarang asalkan menanam tanaman yang bebas toksin dan organik, tidak perlu khawatir tidak laku terjual”, kata pelopor Pasar Petani 248, Yang Ru-men.
Organik Diakui!
Apakah pertanian organik Taiwan akhirnya sudah mulai diakui?
Dari data statistik yang ada, distributor produk organik di Taiwan berjumlah lebih dari 1.600 unit. Selain beberapa Toko Berantai Produk Organik seperti Leezen, Yogi House, Sun Organism dll., sekarang seperti PXMart, Welcome, Sungching serta grosiran seperti Carefour, RTMart, A-Mart juga ikut menawarkan produk organik di rak khususnya. Bahkan saat ini Taman Budaya Songshan, Eslite cabang songyen sudah menjual sayuran dan buah-buahan organik.
Namun sebetulnya, tempat pertama kalinya petani dan konsumen bertemu adalah dimulai dari Pasar Petani.
Berdasarkan data statistik “Frontier Foundation Taiwan”, sampai saat ini di seluruh Taiwan terdapat 63 unit Pasar Petani. Dimana Pasar Petani yang mendapat sebutan “Produsen Paling Ramah”, baru memasuki usia yang ke 8 tahun.
Kembali ke Oktober 2006, berkat dukungan dari penanggung jawab Perkebunan Dongli, Chen Meng-kai, Dosen Universitas Providence Jurusan Kesejahteraan Anak-Anak Tao Fan-ying, perwakilan dari “Be Farmer”, Feng Xiaofei, lahirlah Pasar Petani “Hope Market” yang berlokasi di Distrik Xitun, Kota Taichung.
Pada bulan September 2007, Dosen Universitas Negeri Chung Hsing (NCHU), Jurusan Manajemen Bio-Industri, Dong Shi-rui, mencetuskan “Pasar Petani Organik NCHU” dengan mengumpulkan lebih dari 20 petani organik, membentuk mereka menjadi Pasar Petani kedua yang memiliki organisasi dan bervisi misi.
Pada Juli 2008, petani kelahiran Erlin, Kabupaten Changhua, Yang Ru-men, bersama dengan cendikiawan, kalangan rganisasi masyarakat dan Hope Market, mendirikan “Pasar Petani 248” di Utara Taiwan, yang memiliki visi “Pedesaan yang berkesinambungan, mengembangkan industri pertanian, petani yang bahagia”. Selama 7 tahun ini, selain para petani berhasil mendapatkan tempat di wilayah Kota Taipei, bahkan mulai menjalar dan bercabang di tempat yang baru.
Mencari Masa Depan di Pasar Petani
Yang Ru-men menyampaikan, permintaan dari Pasar Petani 248 kepada para petani kecil sangat sederhana: Tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimia. Dalam 5 tahun ini, lebih dari 200 petani kecil diundang untuk turut serta dalam program ini. Selain itu juga telah berhasil menciptakan lebih dari 20 merek produk pertanian, seperti yang sudah tidak asing lagi, Es Lilin “Spring Trading Company”, Chun Yi Zhi, selai buah “Red on tree”, Maltosa “Lai Chun Ma”, produk laut “A He Shi”, beras bebas kimia “Rice99” dan masih banyak lagi.
Walau kelihatannya perjalanan industri pertanian bebas toksin berjalan lancar, namun awal perkembangan Pasar Petani 248 sangatlah berat. Pada 2 tahun pertama, karena penjualan yang tidak laku, banyak petani yang menyerah, hampir saja Pasar Petani ini bangkrut. Sampai pada akhirnya, para petani yang masih ada, mulai mengadakan acara dapur pasar, memasak nasi tradisional dimana para petani dan konsumen saling berbagi. Ketika saat itulah, keterikatan di antara para petani mulai menguat dan semakin dekat dengan para konsumen.
Lewat “Wadah komunikasi antara produsen dan konsumen pasar petani”, Yang Ru-men meminta para petani menggunakan 5% ketekunan untuk pemasaran, selebihnya yaitu 95% digunakan untuk ‘ngobrol’ dengan pembeli. “Namun ada petani tua yang merasa bertanam lebih mudah daripada ‘ngobrol’ dengan orang lain”, ujar Yang Ru-men, sembari terus memberikan himbauan kepada para petani, bahwa pola pikir konsumen baru akan berubah setelah melalui komunikasi secara reguler.
“Apabila dibandingkan dengan harga, ada mitos mengatakan, banyak orang percaya bahwa yang organik itu sama dengan kata Mahal, hanya orang kaya yang mampu. Sebenarnya, dari semua barang yang dibeli, 1/3nya dibuang, di dalam lemari es ada kue keranjang tahun lalu, kue bulan…, tersimpan makanan yang sudah kadaluwarsa, ini semua sangat sia-sia. Kenapa tidak membeli dengan harga yang sedikit lebih mahal untuk mendapatkan barang yang berkualitas baik, dan dapat dihabiskan.”
“Diharapkan, para petani melalui Pasar Petani ini, dapat berkomunikasi dengan para konsumen, dan dalam kurun waktu 1,5 hingga 2 tahun dapat membuka jalur pemasaran mereka”, tutur Yang Ru-men. Pengelola hotel, restoran dan toko organik datang berkunjung ke Pasar Petani untuk mencari mitra bisnis. Bagi mereka yang sudah terkenal namanya, kini hanya cukup menunggu di kebunnya untuk menyambut pembeli.
“Pasar Petani tidak saja hanya menjadi wadah bagi para petani, namun juga memiliki arti untuk sosialisasi kepada masyarakat”. Seorang petani wanita A Bao di Gunung Lishan, Taichung, karena ibunya yang sudah tua dan tidak bisa naik ke atas gunung lagi untuk bercocok tanam, maka 6 tahun yang lalu ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Yilan dan mulai bertani, menanam gabah, bahkan mendirikan “Aliansi pertanian yang ramah”. Sebulan sekali mereka mengadakan Pasar Petani dengan mengundang lebih da sepuluh hingga dua puluhan petani. Setelah berjalan 4 hingga 5 tahun lamanya, akhirnya tahun lalu aktivitas ini dihentikan yang kemudian diambil alih oleh Pemerintah Kabupaten Yilan. A Bao mengatakan, misinya sudah selesai. Selanjutnya ia menjadi koordinator “Lokakarya mengawal Yilan”, mulai memperhatikan limbah rumah petani, ekosistem persawahan dan masalah-masalah lingkungan pertanian.
Pasar Swalayan Sayur Buah Organik
Dengan bertemunya produsen dan konsumen di Pasar Petani secara langsung, maka terciptalah kepercayaan di antaranya, sehingga semakin banyak orang yang bersedia mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli kesehatan dan mendukung industri pertanian bebas toksin.
Dosen Universitas Negeri Taiwan (NTU) jurusan Agronomi, Prof. Warren H.J Kuo yang telah bergerak di industri pertanian organik lebih dari 2 dekade mengatakan, bahwa setiap hari Sabtu ia membeli sayuran di Water Garden Organik Farmer’s Market samping Museum Air Minum untuk porsi 1 minggu, Jalan Shuiyuan, Kota Taipei, mendukung industri pertanian organik lewat aksi. “Petani organik sangat susah, jadi bila anda yang mampu ekonominya bisa mendukung mereka, sehingga kemudian perlahan-lahan baru bisa merakyat”, kata Kuo.
Beberapa tahun belakangan ini, Pasar Swalayan Berantai mulai menggunakan sistem Pertanian Kontrak untuk ikut dalam penjualan sayur dan buahan organik, dengan demikian harganya lebih “merakyat”. Contohnya, di PXMart harga sayuran organik dijual 29 dolar Taiwan per bungkus. Ini adalah harga termurah yang pernah ada.
Sampai sekarang, harga sayuran organik di PXMart tetap sama, tidak berubah. Pasalnya, yang pertama PXMart menandatangani kontrak dengan petani organik, sehingga para petani dapat dengan tenang dan fokus bertanam, tidak perlu khwatir dengan jalur pemasaran.
“Tanpa jalur pemasaran, maka orang yang menanam organik dan produk beridentitas akan makin kerja makin sedih”, kata Lee Wen-zong, penanggung jawab Departemen Pembelian Produk Segar, PXMart. Mitra kerjasama PXMart adalah petani yang telah memiliki sertifikat organik atau produk yang memiliki identitas, sebelum produknya dijual harus mendapatkan sertifikat bebas dari 251 jenis pestisida
Kedua, PXMart menekan keuntungan brutonya, mendahulukan keuntungan kecil dengan penjualan besar. Lee Wen-zong menuturkan, dibandingkan dengan yang lain, harga jual sayuran organik PXMart lebih murah di atas 10 dolar Taiwan per bungkusnya. Hal ini dikarenakan kebanyakan dari mereka mendapat keuntungan kotor 30 hingga 40%, sedangkan PXMart menekan sampai 10 hingga 12%.
Asisten Marketing PXMart Chu Gui-min menyampaikan, hinggai akhir tahun 2013, luas tanah Pertanian Kontrak produk beridentitas telah mencapai 400 hektar, dengan total produksi tahunan mencapai 67 juta bungkus buah dan sayuran. Program kerjasama ini akan terus dilaksanakan dengan target 100 juta bungkus per tahun.
Lee Wen-zong menyampaikan, produk yang resiko penggunaan pestisidanya tinggi seperti, kacang-kacangan, kacang kapri, paprika, ketimun, selada Taiwan, bok choy dll., PXMart tidak akan menjualnya apabila tidak menggunakan sistem Pertanian Kontrak atau tidak melampirkan surat identitas. Hal ini dilakukan untuk mengurangi resiko yang ada.
Penjualan Langsung Perkampungan Qian Jia
Sejak tahun lalu, Dewan Pertanian (COA) memperketat peraturan standar sertifikat “organik”, bagi yang belum mendapatkan sertifikat tidak boleh menyebut produknya “organik”, sehingga banyak petani yang menanam dengan cara organik namun tidak bersertifikat semuanya menjadi petani bebas toksin.
Warren Kuo menuturkan, apabila sudah terpercaya tentu tidak perlu sertifikat, namun apabila skalanya menjadi besar sampai tingkat tertentu dan adanya distributor, maka kepercayaan itu akan putus. Oleh karena itu perlu adanya sertifikasi sebagai pendukungnya.
Beberapa tahun belakangan ini juga, A Bao menggunakan kalimat “Pertanian yang ramah" menggantikan kata “Organik”. Ia mengatakan “Saya berharap dapat membangkitkan pikiran konsumsi organik”. Setelah ada hukumnya, malah menyimpang dari semangat dasar organik yang ramah lingkungan, keluar dari kebiasaan. Hal ini menyia-nyiakan tenaga, produk organik yang dijual di toko-toko kebanyakan adalah impor, dan ini bertentangan dengan semangat organik.
Memang, sertifikasi adalah cara yang terpaksa harus dilakukan, kepercayaan baru bisa muncul karena antara konsumen dan produsen saling kenal, saling mengerti. Untuk menciptakan rasa saling kenal dan pengertian, maka satusatunya cara yang bisa ditempuh untuk mendekatkan jarak adalah membeli langsung ke tempat produsen. Untuk mengenali produk pemasaran ditempat, yakni sistem sertifikasi Pertanian yang Didukung Komunitas Masyarakat (Community Supported Agriculture, CSA) dan sudah diimplementasikan oleh beberapa orang, seperti “Klub Gu Dong” yang terkenal di Yilan serta “Pemukiman Qian Jia” di Hsinchu yang telah menjadi sebuah acuan CSA.
Pemukiman Qian Jia dekat dengan Taman Sains Hsinchu, terletak di pinggiran kota dan desa Hsinchu, menggunakan teknik budidaya metode tanah tebal, untuk tanah yang sudah dikeruk, dengan lahan yang terbatas ditanam berbagai macam sayuran, seperti kacangkacangan, tomat, umbi-umbian, setidaknya terdapat lebih dari dua puluhan jenis.
“Waktu yang dibutuhkan oleh kita lebih lama 1 minggu dari sayuran biasa, dengan waktu tanamnya yang cukup maka rasanya lebih enak”. Penanggung jawab program Pemukiman Qian Jia, Komite Urusan Kesejahteraan Sosial, Institut Penelitian Teknologi Industri (ITRI) Chen Jien-tai mengatakan, ada juga karyawan di Kawasan Sains yang mendukungnya, sehingga Pemukiman Qian Jia hanya fokus kepada bertani, tidak perlu khawatir dengan penjualan.
“Kekuatan ramah itu sangat kuat sekali”, kata Chen Jian-tai. Hsinchu yang berada di perbatasan kota dan pedesaan, tempat berkumpulnya orang kalangan akademis dan insinyur, kebutuhannya sangat tinggi, sehingga tidaklah sulit bagi Qian Jia untuk mendapatkan dukungan.
“Petani Muda” Ekspansi Pemasaran Internet
Dalam beberapa belakangan tahun ini Taiwan diramaikan dengan trendi Sarjana dan Dokter turun ke sawah. Kaum intelektual yang terjun ke industri pertanian ini, telah menjadi penyebar industri pertanian organic terbaik. Tahun 2004, Lai Qing-song di Kecamatan Yuanshan, Kabupaten Yilan yang mendirikan “Klub Gu Dong”, dan mendapat sebutan sebagai pencetus “Petani Muda”. Setelah itu semakin banyak kaum intelektual yang juga ikut terjun dalam industri ini.
Yang Wen-quan pria berusia lebih dari 50 tahun ini di Shuiyuan, kampung Neicheng dataran Lanyang, Yilan menyewa tanah seluas 1,5 Jia (甲, ukuran sepetak tanah di Taiwan, 1 Jia=0,97 Hektar), dengan senang hati menjadi “Dokter Petani”. Tidak hanya itu, ia bahkan mempunyai cita-cita mempunyai “200 Jia” yang dapat digunakan untuk melatih petani baru dan mencarikan tanah untuk mereka sebagai tempat untuk bimbingan teknis.
Yang Wen-quan yang semula bekerja di Yayasan Pengembangan dan Perencanaan Kota Universitas Negeri Taiwan, karena menemui hambatan yang sulit di bidang administrasi, maka 2 tahun yang lalu memutuskan untuk meninggalkannya lalu turun ke sawah.
“Bertani itu punya iramanya, sangat menyenangkan”, kata Yang Wen-quan sambil tertawa. Semua orang berkata kalau bertani itu bergantung kepada langit, namun rupa bos belum tentu lebih baik dari rupa langit.
Yang Wen-quan dengan yakinnya mengatakan, dulu hambatan untuk menjadi petani sangat tinggi, sekarang sudah ada bantuan dari perantara 200 Jia. Dalam kurun 20 tahun ini, dataran Lanyang akan sebanyak 200 Jia yang ramah.
Wu Jia-lingyang berusia 28 tahun, adalah putrid petani asal Yunlin. Demi menjadi petani di Yilan, ia menghentikan sementara pendidikan Magister Juruan Pengembangan Sosial Universitas Shih-Hsin. Ia mengatakan “Saya ingin membalikan paradigma orang terhadap pertanian”. Awal tahun ini ia menyewa tanah seluas 4 Jia untuk bertani dan mendirikan “Sanggar You Tien You Mi”,
“Bertani itu tidak susah, tinggal menghubungi 3 telepon saja”, ujar Wu Jia-ling. Tingkat mekanisasi pertanian sekarang sangat tinggi, dari mengolah tanah, penanaman dan panen tinggal menghubungi tukang tanam saja. Namun menurutnya, pembibitan, menanam, penyiangan, pembibitan ulang, pengendalian hama dst., semua dilakukan sendiri oleh Wu Jia-ling, dan kesibukan ini berjalan terus hingga bulan Juli baru bisa dipanen.
Panen padi Yilan setahun hanya sekali, setengah tahun berikutnya ia sibuk dengan pemasaran.
Kemampuan bertanam padi Wu Jia-ling mungkin tidak sehebat petani senior, namun ia mampu menggunakan teknologi internet, sehingga pemasaran dan jalur komunikasinya tidak terhambat. Ia sering kali menuliskan dan membagikan pengalaman serta cerita yang unik di sawah lewat sosial media Facebook, cukup mengharukan, sehingga menarik banyak pengikutnya.
Walau hasil panen tahun pertama bahkan tidak cukup untuk makan sendiri, tapi seperti kata Wu Jia-ling, “Bekerjalah seperti profesi itu”. Mutu beras tahun ini diharapkan dapat semakin lebih baik.
Setelah melalui komunikasi dan kegigihan baik itu lewat Pasar Petani, Hipermarket, Penjualan Ditempat atau internet, akhirnya sekarang konsep Pertanian Bebas Toksin bias menggugahkan hati konsumen.
Era Petani Kecil Tiba
“Gigih, baru bisa dilihat orang”, kata Yang Ru-men. Selama lebih dari 5 tahun, Pasar Petani 248 mengharuskan, apapun yang terjadi, hujan badai tidak menghalangi, para petani harus tiba di pasar tepat waktu, karena ini adalah komitmen kepada konsumen.
“Saya yakin pertanian organik Taiwan pada akhirnya akan mempunyai masa depan yang cerah, asalkan jumlah orang yang peduli dengan isu ini cukup banyak, memiliki pola pikir yang tepat, upaya yang diberikan cukup dalam. Walaupun begitu banyak masalah yang ada di depan mata, seperti kebiasaan konsumen, teknik produsen, pola pikir dan sikap pemasar…, jalan yang harus ditempuh masih jauh”, ini adalah kalimat yang tertulis dalam buku “Catatan Petani Wanita” karya A Bao 14 tahun yang lalu dan sampai saat ini tetap menyentuh hati.
Jalan yang harus ditempuh petani organik Taiwan mungkin masih tetap sulit dilalui, namun ada hal yang patut disyukuri adalah di kalangan petani kecil Taiwan hadir banyak sosok seperti “A Bao” yang gigih. Berkat kegigihan anda dan saya di dalamnya, maka dunia bebas toksin bukanlah impian belaka.