Tampilkan Semangat Taiwan Dengan Film Dokumenter
A Chip Odyssey
Penulis‧Joanna Wang Foto‧Chung Kung-ju Penerjemah‧Farini Anwar
Februari 2026
Film dokumenter “A Chip Odyssey” ditayangkan pada musim panas 2025 di Taiwan, penjualan tiket menembus NT$30 juta dalam waktu tidak sampai 3 bulan, menjadi salah satu dari lima besar film dokumenter dalam sejarah Taiwan. Film dokumenter ini melampaui jurang pemisah lintas generasi dan domain, membangkitkan perasaan orang terhadap tanah ini.
Disutradarai oleh peraih Penghargaan Kuda Emas, Hsiao Chu-chen, dalam pembuatan “A Chip Odyssay” menghabiskan waktu 5 tahun, mewawancarai tokoh-tokoh legendaris dari kalangan industri teknologi Taiwan, mengeksplorasi jejak perkembangan industri semikonduktor Taiwan.

Dengan dorongan bersama terobosan teknologi, strategi bisnis dan bantuan kebijakan, industri semikonduktor Taiwan mulai dari tidak ada menjadi ada, hingga menjadi pemimpin global.
Pulihkan Sejarah, Sulutkan Kegigihan Taiwan
Film ini mendeskripsikan perjalanan fantastis semikonduktor Taiwan, mulai dari nol bergerak menuju panggung teknologi global secara bertahap, juga berhadapan dengan ketegangan geopolitik internasional, situasi globalisasi perubahan pembagian kerja dan tantangan serta peluang baru yang dihadapi semikonduktor Taiwan.
Hsiao Chu-chen menegaskan, ia bukan menciptakan mitos heroik, melainkan berupaya memulihkan sejarah untuk menunjukkan cerita yang paling mendekati kebenaran.
Semua orang yang diwawancarai dalam “A Chip Odyssey” tidak melihat hasil pembuatan film sebelum penayangan perdana. Bahkan salah satu karakter utama dalam film, Shih Chin-tay, profesor kehormatan Universitas Tsinghua, yang juga mantan ketua Institut Penelitian Teknologi Industri Taiwan (Industrial Technology Research Institute/ITRI) baru pertama kali melihatnya di layar lebar pada hari penayangan perdana film tanggal 10 Maret. Mantan Chairperson Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) Morris Chang juga harus mengeluarkan uang dari kocek sendiri membeli tiket bioskop untuk menontonnya. Kegigihannya membuat “A Chip Odyssey” terhindar dari tudingan konflik kepentingan, menjaga kemandirian yang tidaklah mudah untuk dilakukan.

Tahun 1976, Institut Penelitian Teknologi Industri (ITRI) mengutus anggota ke Amerika untuk mengikuti pelatihan di RCA, urutan dari kiri ke kanan gambar: Tsao Hsing-cheng, Ni Chi-liang, Tseng Fang-churng, Tai Pao-tung, Liu Ying-da, Chen Pi-wan, dan Shih Chin-tay. (Foto: ITRI)
Program RCA Pengalaman dari Barat
Shih Chin-tay adalah salah satu dari 19 orang yang dikirim pemerintah ke Radio Corporation of America (RCA) untuk mendapatkan pelatihan di masa-masa awal. Pada tahun tersebut ia menjadi pemimpin “divisi proses produksi” sekaligus juga menjadi supir, karena hanya dia dan 2 - 3 orang saja yang pernah ke Amerika Serikat dan mempunyai SIM, sementara yang lainnya kebanyakan baru pertama kali menginjakkan kaki di Amerika Serikat.
Pada saat tiba di Amerika Serikat, mereka sangat antusias dan penuh rasa ingin tahu, “Ternyata jalan tol seperti ini”, “Ternyata lampu jalanan di Amerika Serikat juga tidak dipadamkan pada malam hari”. Namun, dalam kesenjangan seperti ini dapat terlihat dan merasakan kekurangan Taiwan, memahami perlunya untuk mempercepat langkah kaki mengejar kekurangan.
Tahun 1976, kelompok muda yang dikirim ke Amerika Serikat untuk mendapat pelatihan ini, meskipun rata-rata usia mereka tidak sampai 30 tahun, tetapi mengetahui bahwa mereka memanggul misi besar di pundak mereka. Tidak ada yang menyangka, pengalaman dari perjalanan ke Amerika Serikat ini ternyata memiliki pengaruh penting yang menentukan keberadaan dan perkembangan industri semikonduktor Taiwan.
Dunia luar sempat mencurigai bahwa ini adalah sebuah “pencurian”, tetapi Shih Chin-tay mengklarifikasi, hampir semua dari mereka memiliki gelar master atau doktoral, sehingga ke Amerika Serikat bukan hanya sekedar menyalin saja, melainkan juga memahami secara mendalam kaidah-kaidah di baliknya, bahkan pada akhir masa pelatihan, mereka masih membantu pabrik RCA menyelesaikan masalah teknis. Beberapa bulan kemudian, mereka pulang ke Taiwan dan mendirikan pabrik eksperimental di Institut Penelitian Teknologi Industri (ITRI), dengan tingkat pengembalian mencapai 70% dalam waktu singkat setengah tahun, jauh berada di atas RCA yang sebesar 50%. Teknologi ini berhasil diterapkan dan menjadi dasar bagi industri sirkuit terpadu Taiwan.
“Pertama, kami belajar dengan sungguh-sungguh, kedua, kami mengetahui bisa menemukan metode kerja baru.” Ujar Shih Chin-tay. Setelah peralatan dan proses produksi di pabrik eksperimental diperbaiki dan dioptimalkan, maka sudah berbeda dengan yang ada di Amerika Serikat. Pencapaian ini membuat keyakinan pemerintah semakin kuat, pada tahun 1980, ITRI mengalihkan teknologi wafer dan tim penelitian pengembangan ke sektor swasta, mendirikan pabrik semikonduktor pertama Taiwan “United Microelectronics Corporation”, kemudian bertumbuhlah Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) yang juga dimulai dari benih-benih kecil ini.
Tidak Saja Kesuksesan, Tapi Kelangsungan Hidup
Awal memulai industri bukanlah sebuah jalan mulus. A Chip Odyssey membawa pemirsa kembali ke era tahun 1970 – 1980 nya Taiwan, era sulit penuh risiko dan guncangan.
Amerika menghentikan bantuan pada tahun 1965, dan Taiwan dipaksa mundur dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1971; Putus hubungan diplomatik dengan Jepang tahun 1972; Lalu menghadapi krisis minyak pertama, dalam situasi bergejolak dan sangat tidak stabil pada tahun 1973, membuat perekonomian terhantam keras dan terpuruk dalam kesulitan. Dalam situasi yang mengenaskan seperti ini, Taiwan memutuskan untuk bertaruh di industri semikonduktor, menjadikannya sebagai upaya menyelamatkan dan memperbaiki situasi sulit negara. Pengambilan keputusan ini merupakan sebuah ajang pertaruhan besar, Hsiao Chu-chen dengan penuh perasaan mengatakan, “Apabila pada waktu itu kondisi negara sangat baik, maka tidak akan ada keajaiban industri semikonduktor Taiwan.”
Dalam film, Yang Ding-yuan, kini berusia hampir 80 tahun yang pada waktu itu memimpin tim RCA berangkat ke Amerika Serikat, tak kuasa menahan air mata saat mengenang perkataan dari Menteri Ekonomi Sun Yun-suan, “Hanya boleh berhasil, tidak boleh gagal”. Sebenarnya, tidak hanya dia saja, banyak senior di dunia teknologi juga masih tidak dapat menyembunyikan kegembiraan dan haru saat mengenang misi nasional pada tahun itu.

Saat muda, Shih Chin-tay tercengang melihat gambar apollo mendarat di bulan. Merasakan kesenjangan yang begitu besar semasa ia belajar di Amerika Serikat, membuatnya bertekad akan kembali dan berkontribusi bagi Taiwan seusai studinya.
Tekad Kolektif dan Warisan
Tentu saja tidak semua upaya dapat berjalan lancar, seperti Vanguard International Semiconductor Corporation pernah mencoba menggunakan mikroteknologi untuk mengembangkan DRAM, tetapi akhirnya gagal. Hsiao Chu-chen membocorkan, dalam penyuntingan ia sempat “potong sambung” untuk bagian sejarah ini, beberapa kali mempertimbangkan untuk menghapusnya, tetapi pada akhirnya memutuskan tetap memakainya, karena “perencanaan tidak melulu berhasil, juga ada yang gagal”, ini juga agar penonton dapat memahami kejayaan industri semikonduktor Taiwan diperoleh dengan susah payah.
Semikonduktor Taiwan tak tergoyahkan bukan karena bergantung pada satu legenda saja, melainkan buah hasil dari tekad kolektif dan warisan. Setiap tahapan kunci, selalu ada sekelompok orang yang diam-diam mengolahnya, mengambil tindakan yang diperlukan serta mewariskan obor api kepada penerus.
Shih Chin-tay mengemukakan, kebangkitan industri semikonduktor Taiwan adalah buah hasil dari kebijakan teknologi, penempatan sumber daya manusia, strategi industri dan hubungan internasional. Penulis keuangan senior, Lin Hong-wen beranggapan, yang membuat TSMC menjadi raksasa wafer chip global bukan hanya karena teknologi saja, melainkan pada kerja sama dan kredibilitas. Bersama mitra global menciptakan nilai, membangun ekosistem industri dengan hidup berdampingan dan kemakmuran bersama.
Penulisan Budaya dan Saksi Zaman
Sang sutradara mengakui, saat mulai mempersiapkan syuting film ini pada tahun 2019, ia sama sekali tidak mengira bisa terjadi perubahan begitu besar.
Pada tahun 2019, saat itu nilai pasar Samsung, TSMC dan Intel kurang lebih sama, tidak ada orang yang menyangka datangnya pandemi COVID-19 memicu kekurangan chip global, diikuti dengan munculnya teknologi kecerdasan buatan dan merebaknya ChatGPT, kendaraan listrik, robot dan berturut-turut terjadi peristiwa besar lainnya. TSMC dengan kapasitas produksi chip yang unggul, membuatnya beberapa kali muncul di berita utama internasional. Beberapa tahun ini, semua pengunjung internasional yang datang ke Taiwan pasti membicarakan tentang chip, semua berharap dapat berbagi dan bahkan mendapatkan pencapaian dan pengaruh yang diwakili TSMC.
“Belum pernah membuat film dokumenter seperti ini, dengan isu-isu baru terus bermunculan dan semuanya adalah berita besar yang menggegerkan global.” Hsiao Chu-chen setiap hari memikirkan bagaimana menyesuaikan dan memperbaiki konten, orang yang diwawancarai juga bertambah banyak hingga 80 an orang, skala produksi jauh melebihi perkiraan. Bahkan hingga Maret 2025, ketika penyuntingan film telah selesai, tapi ketika ia melihat Chairperson TSMC, Wei Che-chia memasuki Gedung Putih, diikuti dengan gambar Istana Presiden di Taiwan, ia dengan jelas memahami bahwa momen penting ini tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, meskipun tanggal penayangan perdana sudah dekat, ia masih melakukan penyesuaian, karena ia berharap film dokumenter ini tidak saja mengilas balik yang dulu, melainkan juga mengingatkan orang: Dunia sudah berubah, tidak boleh terbuai dengan kesuksesan masa lalu.
Misi Budaya Pekerja Film
Hsiao Chu-chen mengatakan, ia yang sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan isu teknologi, sampai ketika mengikuti upacara mengenang Hu Ding-hua, sang promotor penting semikonduktor Taiwan, dan mendengarkan para tetua dari industri ini membicarakan sentimen revolusioner masa muda mereka, membuatnya memutuskan untuk membuat film dokumenter. Film ini bukan dibuat atas permintaan pemerintah atau perusahaan manapun, melainkan misi penulisan budaya, berharap dapat melestarikan kenangan berharga era transformasi Taiwan tahun 1970 – 1980 an. Itu adalah era perintis teknologi, juga periode penting transisi demokrasi dan inovasi budaya, kini banyak dari mereka yang mengalaminya sudah berusia di atas tujuh puluh tahun dan berangsur-angsur pudar, untuk itu kisah-kisah mereka harus segera dilestarikan.
Hsiao Chu-chen menyampaikan, para ilmuwan tidak boleh meremehkan kekuatan budaya yang ditampilkan oleh gambar, dan juga benar-benar memiliki nilai yang patut dijunjung tinggi oleh para pekerja budaya.

Sutradara Hsiao Chu-chen tidak mengira, sebuah film dokumenter tentang industri teknologi karena pengaruh dari perubahan dramatis dunia bisa menjadi isu terkini. (Foto: CNEX)
Semangat Pembangun Gunung
Hsiao Chu-chen mengatakan, film ini tidak saja membuat orang-orang dapat melihat keberhasilan Taiwan, melainkan adalah legenda harapan: Semangat dari pembangun gunung. Ketika orang-orang tidak mempercayai Anda, bahkan meremehkan Anda, apakah Anda bersedia melakukan upaya terbaik untuk menjaga keyakinan demi negara, karier atau keluarga? Kesediaan Anda untuk berjuang sampai akhir adalah semangat “pembangun gunung”.
Dan sejalan dengan ini, Shih Chin-tay berharap pemerintah dapat memberikan lebih banyak bantuan praktis bagi perkembangan usaha kecil dan menengah, memperkuat investasi dalam pelatihan sumber daya manusia. Taiwan memiliki merek besar seperti TSMC yang membanggakan, tetapi usaha kecil dan menengah juga penuh dengan vitalitas, inovasi dan fleksibilitas, setiap orang bisa menjadi “sekrup penting” yang tidak boleh kurang apalagi tidak ada.
Gunung berikutnya ada di mana? Apakah Taiwan telah siap menyambut tantangan berikutnya yang lebih berat, mengejar impian yang lebih tinggi dan lebih jauh?
Gaung Kekuatan Budaya
Tema “A Chip Adyssey” meskipun kaku, membosankan tetapi mampu memicu respons kuat dari pemirsa, membangkitkan ingatan kolektif dan identitas sosial yang mendalam dari masyarakat Taiwan.
Seorang insinyur menyaksikan ulang film ini sampai tiga kali, pertama mengajak orang tuanya, karena pada era 1970–1980 merupakan masa penuh perjuangan mereka; kedua kali mengajak anak-anaknya, berharap keluarganya dapat memahami kesibukan kerja dan keharusannya untuk sering lembur kerja. Usai penayangan film, Sutradara Hsiao Chu-chen bertanya kepada anak-anak, “Sekarang kalian mengetahui mengapa ayah bekerja keras?” dan anak-anak pun mengangguk, sang insinyur menatap anaknya dengan pandangan mata penuh kepuasan, Hsiao Chu-chen juga sangat terharu.
Ia mengemukakan, banyak orang yang mengkritik bahwa orang Taiwan kecanduan kerja (workaholic), budaya lembur yang sangat kental, “Namun kita seharusnya memahami hal ini dengan latar belakang era yang lebih luas.” Dalam banyak bidang, orang Taiwan bekerja keras bergelut dengan semangat tinggi, ini adalah sejenis kesepakatan kolektif, “Saya harus lebih berkontribusi dari orang lain agar bisa mendapatkan jalan untuk bertahan hidup”. Pada era tersebut, Taiwan sudah tidak memiliki jalan untuk mundur, kalau tidak berupaya sekuat tenaga, mungkin Taiwan sudah tidak memiliki apa-apa.
Hsiao Chu-chen menyampaikan, ini adalah kekuatan budaya yang membangkitkan rasa identitas dan kebanggaan setiap orang Taiwan. DNA kelangsungan hidup dan martabat sudah sejak lama mengakar dalam benak hati, menjadikan sebagai simbol spiritual Taiwan.

SEMICON Taiwan 2025 yang berlangsung di Gedung Pameran Nangang Taipei, acara tahunan besar diperuntukan bagi mitra semikonduktor global ini telah menyaksikan transisi Taiwan dari pembagian kerja hingga kerja sama inovasi selama 30 tahun terakhir.











