Lukang Seni Baru Gang Kuno Batu Bata di Kota Kecil
Penulis‧Zhu Li-Qun Foto‧Zhuang Kun-Ru
Desember 2015
俗諺「一府、二鹿、三艋舺」,說明了歷史上,台南府城、彰化鹿港及台北艋舺,開台初期3大通商港市的繁華景況。
鹿港走過清領及日據,古城今日的面貌,就像捺了彩妝,遠看是現代美,細看則是時間沉澱後的靜謐與古樸。走看鹿港,必須以「慢遊」的節奏與「漫遊」的閑情,才能觸摸到豐富的歷史底蘊。
Pepatah “Satu Tainan, Kedua Lukang, Ketiga Bangka,” menggambarkan sejarah kota Tainan, Lukang Changhua dan Bangka Taipei yang merupakan 3 pelabuhan terbesar dengan kondisi perdagangan kota yang ramai di masa awal perkembangan Taiwan.
Tahun 1784 (Penanggalan QianLong tahun 49), Lukang di tunjuk sebagai “Pelabuhan utama” oleh pemerintahan Dinasti Qing, yaitu ditunjuk resmi sebagai pelabuhan komersil, sehingga Lukang memiliki posisi yang penting dalam sejarah Taiwan.
Melewati pemerintahan Dinasti Qing dan era penjajahan Jepang, wajah kota kuno saat ini seakan diberi warna yang berbeda. Terlihat cantik modern dari jauh, namun setelah diperhatikan dengan jelas, terlihat ketenangan dan ke-kunoan sederhana yang terendam oleh waktu. Mengunjungi Lukang, haruslah berwisata dengan langkah berirama “Pelan” dan “Penelusuran” yang nyaman, sehingga dapat merasakan warisan yang kaya akan sejarah.
Sejak pelabuhan Lukang dibuka, perkembangannya menjalar dari pelabuhan hingga ke area jalan raya dan pemukiman. Dikarenakan dataran daerah pesisir laut rendah, pada era Dinasti Qing, digunakan cara menimbun tanah untuk meninggikan permukaan tanah untuk membentuk jalan utama, yang sekarang disebut dengan jalan Zhongshan.
Lukang kuno terkenal dengan “3 hal yang tak terlihat” yakni: Tak terlihat langit, Tak terlihat tanah, dan Tak terlihat perempuan. “Tak terlihat langit” menggambarkan toko yang ada di kedua sisi jalan Zhongshan. Agar pengusaha bisa menjalankan bisnis sepanjang tahun, dibuatlah kanopi di atas jalan untuk menghalangi hujan dan menutup matahari sehingga saat pejalan kaki mendongak ke atas, langit tak dapat terlihat. Ini membuktikan bahwa kondisi bisnis yang dijalankan di atas jalan ini pada masa itu sangatlah baik. Yang dimaksud dengan “Tak terlihat tanah” adalah permukaan tanah yang tertutup oleh batu bata merah sehingga tanah tidaklah terlihat. Sedangkan “Tak terlihat perempuan” adalah karena pada era tersebut memiliki tradisi mengikat kaki, tidak baik bagi kaum perempuan bila terlihat di luar rumah.
Dan kini, selain jalan tua Lukang dengan batu bata merah yang telah direnovasi masih terlihat, kondisi “Tak terlihat langit” dan “Tak terlihat perempuan” sudah lenyap sejak lama. Lukang saat ini digambarkan dengan “3 kelebihan” yaitu: Banyak bangunan kuno, Banyak cemilan dan Banyak ahli seni kerajinan. Lukang kuno juga memiliki sudut baru. Marilah kita mulai berwisata santai dari Osmanthus Valley Artist Village (桂花巷藝術村) Lukang.
Mall budaya seni kreasi Osmanthus Valley Artist Village (Kampung Seni Osmanthus Valley)
Pada tahun Showa di era penjajahan Jepang, orang Jepang membangun rumah dengan cara menimbun tanah di atas sungai, serta membangun asrama ala Jepang untuk dihuni oleh pejabat. Setelah Restorasi Taiwan, pemerintah menjadikannya sebagai asrama pegawai negeri. Seiring berjalannya waktu, para pendahulu satu per satu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, dan jumlah penghuninya pun semakin berkurang. Setelah perundingan dengan pemerintah untuk relokasi, maka tersedialah ruang kosong yang dapat digunakan, dan setelah deretan asrama ala Jepang direnovasi ulang, tempat inipun dinamakan “Osmanthus Valley Artist Village.”
Di tengah-tengah Kampung Seni terdapat jalan raya, dan sejak tahun 2010, terbuka pendaftaran bagi para seniman dan pengrajin untuk bermukim di asrama ala Jepang yang bertempat di dua sisi jalan, dan hingga saat ini telah bermukim 10 orang seniman dan pengrajin. Para seniman menjadikan bangunan asrama ala Jepang dari kayu ini sebagai sanggar kreasi seniman dan barang seni. Pola bangunan “asrama” ini mencerminkan kedekatan antara pengrajin dan seniman. Bagi pengunjung, tempat ini dikelilingi oleh suasana seni. Seniman yang berada di Kampung Seni ini, masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda, diantaranya seni interaktif dan fotografi, seni lukisan, pertunjukan musik tiup, gambar kartun buku anak-anak dan ilustrasi, menjahit kain perca, dan kreasi tulisan kaligrafi. Mereka menggabungkan “trend” baru dengan nuansa “tradisional”.
Shi Jun-Xiong pembuat kepala barongsai, salah seorang seniman yang mencolok.
Budaya barongsai Taiwan, koleksi Taiwanese Lion Heads Making Studio
“Tempat saya ini dipenuhi oleh ‘binatang buas,’ sebagian anak-anak tidak berani masuk”, ujar seniman pembuat kepala barongsai Shi Jun-xiong (55 tahun) ketika menjelaskan Taiwanese Lion Heads Making Studio miliknya yang berada di Osmanthus Alley No 15. Pertunjukan barongsai di acara kuil, tempat seni bela diri atau akrobat rakyat memerlukan kepala barongsai. Selama 36 tahun, Shi Jun-xiong mengoleksi puluhan ribu buah kepala barongsai dalam berbagai ukuran, diantaranya terbagi menjadi 40 jenis dan aliran dalam seni bela diri, dan merupakan bukti bisu bahwa ia adalah sang ahli kepala barongsai di Taiwan. Di dinding Taiwanese Lion Heads Making Studio, terpampang belasan buah koleksi kepala barongsai milik Shi Jun-Xiong.
Pembuatan kepala barongsai bukan seni tradisional yang hanya terdapat Lukang, namun jika ingin melihat jenis-jenis kepala barongsai terlengkap, maka harus mencari Shi Jun-xiong di Lukang. Ayah Shi Jun-xiong berprofesi sebagai pembuat mainan ala Tionghoa, memproduksi tamborin mini, kepala barongsai mini dan mainan anak lainnya, kadang-kadang ia juga membuat kepala barongsai besar. Sejak kecil, Shi Jun-xiong sudah bisa melukis kepala barongsai, dan setelah menyelesaikan wajib militer, dia kembali ke Lukang untuk meneruskan usaha keluarganya. Bidang ini membuatnya semakin lama semakin tertarik, mempelajari agar kepala bisa masuk kedalam kepala barongsai dan pengoleksiannya. Ketika pelanggan memesan satu kepala barongsai, maka ia akan membuat sebanyak 2 buah dimana yang satu untuk dikoleksi, sehingga sekarang terkumpul sekian banyak hasil koleksi.
Setiap tempat seni bela diri memiliki budaya dan cara pembuatan kepala barongsai warisannya masing-masing, saat membantu pembuatan kepala barongsai di tempat seni bela diri, Shi Jun-xiong juga mencatat jenis-jenis kepala barongsai dari berbagai tempat. Contohnya, kepala barongsai dari Daratan Tiongkok terbagi menjadi barongsai Beijing, Guangdong dan Fujian; sedangkan barongsai Taiwan adalah barongsai Fujian, dimana lebih dominasi dengan warna biru dan hijau.
Barongsai Taiwan sendiri juga dibedakan sesuai dengan nama wilayah. Shi Jun-xiong mengatakan, kepala barongsai dari Taiwan bagian Utara memiliki mulut yang bisa bergerak, disebut sebagai “Utara mulut terbuka,” kepala barongsai dari kampung hakka disebut sebagai “barongsai Hakka mulut terbuka,” sedangkan kepala barongsai dari wilayah Sentral dan Selatan kebanyakan adalah “barongsai mulut tertutup.” “Ada lagi perbedaan antara wilayah Sentral dan Selatan, barongsai dari Taiwan Sentral memiliki dahi yang menonjol; untuk wilayah Tainan ke Selatan, kepala barongsai Song Jiang-zheng memiliki dahi yang lebih rata, ciri khas ini sangatlah menonjol”, kata Shi Jun-xiong.
Kebanyakan wisatawan yang mengunjungi Taiwanese Lion Heads Making Studio, akan terkejut dengan kepala barongsai berhidung babi. Shi Jun-xiong berkata sambil tertawa, pernah ada seorang aborigin memesan kepala barongsai berciri khas aborigin, tanpa memberikan contoh, hal ini membuatnya pusing. Akhirnya ia menyarankan membuat kepala barongsai yang berhidung babi hutan, yang terlihat seperti singa dan pelanggan tersebut langsung menyetujuinya, sehingga terciptalah sebuah kepala barongsai yang tidak masuk di akal.
Kunjungi Kuil Lungshan dan Matsu Lukang
Lo Ta-yu, penyanyi dan penulis lagu, yang belum pernah berkunjung ke Lukang, namun pada era tahun 1980-an ia justru menulis lagu klasik Mandarin yang berjudul “Kota Kecil Lukang”, dan lagu ini seakan-akan menjadi bukti pesona dan sejarah budaya Lukang. Orang yang pernah mendengar lagu ini dan begitu sampai di Lukang, pasti akan mengunjungi Kuil Matsu, dimana lirik lagu itu dinyanyikan berulang kali , serta jalanan tua yang penuh dengan batu bata merah.
“Datang ke Lukang untuk melihat bangunan bersejarah dengan menyusuri jalanan batu bata merah, dijamin tidak akan tersesat”. Chen Shi-xian, penanggungjawab sanggar sejarah budaya Sui Chao Thang yang juga menerbitkan belasan buku penelitian terhadap sejarah budaya Lukang dan buku pemandu bangunan bersejarah Lukang, berbagi tips cara menelusuri Lukang. Berdiri pada akhir kekaisaran Dinasti Ming dan awal kekaisaran Dinasti Qing, kelenteng Lungshan yang dipindahkan pada tahun 1786 tempatnya berdiri sekarang ini, adalah bangunan kuno nasional Lukang, yang juga merupakan kelenteng yang direkomendasikan oleh Chen Shi-xian selain kelenteng Matsu dan wajib untuk dikunjungi di Lukang. Lokasi dua kelenteng ini berada di dua ujung jalan Zhongshan, di tengah-tengah jalanan tua batu bata merah yang saling berhubungan, dan membuat pengunjung yang berkunjung ke bangunan bersejarah menjadi lebih praktis.
Bangunan kelenteng tua di Lukang memiliki ciri khas masing-masing, dan sudut pandang yang berbeda-beda. Saat Chen Shi-Xian memandu wisata ke bangunan bersejarah kelenteng Matsu, pasti mengingatkan para turis untuk memperhatikan ukiran batu, kayu, serta lukisan yang ada di kelenteng-kelenteng Lukang. Di kelenteng Lungshan, turis akan diingatkan untuk mendongakkan kepala untuk memperhatikan bagian atas langit-langit kelenteng, di mana terdapat ukiran trigram segi delapan kuno dengan hasil ukiran yang halus yang dilestarikan sejak dulu, serta tata ruang yang masih utuh semenjak dibangunnya kuil ini. Dan kemudian gang batu bata merah berkelok-kelok (Jiu Qu Lane), bangunan “Yilou” dengan halaman yang luas, bangunan “Shiyilou” yang dulu merupakan tempat berkumpulnya para komentator, serta pintu anti pencuri yang membedakan batas kekuatan masing-masing, semua ini pantas untuk di amati lebih jauh.
Selain itu, jika Anda tertarik dengan kue-kue khas Lukang, jangan lupa berkunjung ke toko kue “Yu Jen Jai” yang merupakan pencetus kue Fengyan Lukang yang terletak di jalan Minzhu. Toko ini dibangun pada tahun 1877, dan memiliki sejarah yang sudah lama.
Kue Fengyan¸kue lidah sapi, pesona kue tradisional yang tak tergantikan
Kue pastri juga merupakan salah satu daya tarik dari kota kecil Taiwan, masing-masing kota kecil yang ada di Taiwan memiliki ciri khas masing-masing. Contohnya, kue taro Dajia, kue pusar Miaoli, serta kue isi nanas Sunhill yang kini terkenal sebagai oleh-oleh khas Nantou.
Toko kue pastri Lukang diwakili oleh toko kue Yun Jen Jai, Teng Xing-zen dan Teng Yu-zen. 3 toko kue ini berhubungan erat dengan ahli kue Fu Teng-chui, yang di undang dari Quanzhou China ke Taiwan.
Li Meng-jun, wakil dosen Chienkuo Technology University General Education Center berkata, keluarga Yu Jen Jai pada awalnya menjalankan usaha kain, kemudian mengundang Teng Chui yang pada waktu itu baru berusia 16 tahun untuk melakukan penelitian, membantu usaha keluarga dengan mengembangkan usaha kue pastri. Lalu, Teng Chui menjadi pencetus bersama dengan Teng Xing-zen dan Teng Yu-zen. Pada saat itu Teng Chui datang ke Taiwan dengan membawa sebuah buku mengenai resep rahasia kue dan membuat kue Fengyan dengan sangat cekatan. Pada era penjajahan Jepang ia mengikuti lomba kue Jepang dan memperoleh medali emas, ini pun membuat kue pastri Lukang menjadi terkenal. Kue Fengyan yang berbentuk tipis dan dibuat menyerupai mata dengan bentuk agak memanjang, sejak itu terdaftar sebagai merek dagang kue Lukang.
Selain itu, kue lidah sapi Lukang juga memiliki ciri khas tersendiri. Kue lidah sapi asal Yilan dengan bentuk yang tipis terasa renyah dimulut, sedangkan kue lidah sapi Lukang berkulit tebal, bertekstur lembut, dan diisi dengan berbagai rasa, misalnya stroberi, talas, dll.
Seiring bangkitnya perekonomian bidang kuliner, dan persaingan kue pastri di Lukang tidak hanya menghadapi kota-kota lain, juga dari seluruh dunia kuliner. Li Meng-jun menyarankan, apabila dapat diperkuat dengan menggabungan antara produk dengan sejarah budaya Lukang dan menceritakannya ulang dengan kisah yang menarik, maka kue pastri Lukang akan lebih diminati oleh para wisatawan.
Kota kecil kuno Lukang yang beragam. Kunjungi Lukang, pasti memberikan Anda pengalaman yang tak terlupakan.