來自柬埔寨的林麗蟬是台灣第一位新住民立法委員,她操著流利中文和台語,為新住民和移工發聲。林麗蟬1997年嫁來台灣,從平凡主婦、志工、十大傑出青年、碩士到出任國會議員,一步一腳印,寫下動人的新住民奮鬥故事。
-50.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Lin Li-chan (kanan) selalu prihatin terhadap imigran baru dan generasi keduanya. (Foto: Kantor Legislator Lin Li-chan)
Lin Li-chan dari Kamboja adalah legislator imigran baru pertama di Taiwan. Fasih berbahasa Mandarin dan Taiwan, ia bersuara untuk imigran baru dan buruh imigran. Lin Li-chan menikah ke Taiwan pada 1997, seorang ibu rumah tangga, sukarelawan, remaja teladan, meraih gelar doktor sampai terpilih sebagai anggota parlemen, dia menulis halaman baru dalam sejarah imigran baru di Taiwan.
Semangat melayani rakyat dan latar belakang bervariasi imigran baru, Lin Li-chan akhir tahun lalu diajak bergabung oleh Ketua Partai Kuomintang Eric Chu, didaftarkan sebagai calon legislator nasional urutan keempat, dengan lancar terpilih sebagi anggota Yuan Legislatif priode ke 9, menjadi seorang tokoh politik nasional terkemuka.
Tiga tahun lalu, pada saat terpilih sebagai pemenang Penghargaan 10 Remaja Teladan atas jasanya melayaninya rakyat, Lin Li-chan untuk pertama kali menjadi fokus perhatian media massa. Saat itu, dia masih tampak malu-malu, tapi sekarang Lin Li-chan kembali menarik perhatian rakyat karena kedewasaan dan percaya diri dalam bersuara untuk rakyat di parlemen.
-path.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Lin Li-chan sangat kritis, sama sekali tidak terkekang karena posisinya sebagai orang baru di parlemen. (Foto: Kantor Legislator Lin Li-chan)
Peduli Imigran Baru dan Buruh Migran
Dari dekorasi di kantor legislator Lin Li-chan, kita bisa mengetahui betapa terikatnya hati Lin pada imigran baru dan buruh imigran. Topi dan kerudung petani yang digantungkan di sekat ruangan, lukisan gulung Thailand di atas papan pintu, uang kertas negara-negara Asia Tenggara di atas meja tamu, boneka kain gajah di atas jendela dan tas tradisional Vietnam di tempat gantungan pakaian dan topi, semuanya menampilkan ciri khas pola Asia Tenggara.
Sejak menjabat sebagai legislator, Lin Li-chan tetap berpegang pada semangat melayani rakyat dan bersuara untuk imigran baru. Lin menemukan, pengantin Daratan Tiongkok yang juga memiliki status imigran baru diperlakuan berbeda dengan pengantin dari Asia Tenggara, oleh karena itu ia memutuskan memperjuangkan hak-hak mereka. Lin Li-chan menggagaskan kesetaraan hak, berusaha mempersingkat waktu pengantin Daratan Tiongkok untuk memperoleh kartu tanda penduduk dari enam menjadi empat tahun, tidak berbeda perlakuannya dengan yang dinikmati imigran baru lain.
Buruh migran berjumlah besar di Taiwan juga merupakan fokus atensi Lin Li-chan. Jumlah buruh migran saat ini telah melampaui 600 ribu jiwa, namun 51.000 diantaranya berstatus kaburan atau ilegal. Lin Li-chan beranggapan, atas pertimbangan keamanan dan jaminan hak asasi manusia, Kementrian Tenaga Kerja seharusnya lebih mengutamakan masalah buruh migran, menggunakan “Dana Stabilisasi Ketenagakerjaan” untuk mengatasi masalah dari akarnya, lewat bimbingan kehidupan serta perlindungan hak, dengan demikian masalah kaburnya buruh migran baru bisa diatasi.
-40.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Lin Li-chan menekuni regulasi dan data-data, menangani setiap isu dengan berhati-hati, karena setiap keputusan berhubungan dengan kesejahteraan massa. (Foto: Lin Ge-li)
Promosikan Pendidikan
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Lin Li-chan (keempat dari kanan) terpilih sebagai salah satu dari Sepuluh Remaja Teladan 2013, menjadi imigran baru pertama di Taiwan yang meraih penghargaan tersebut. (Foto: Kantor Legislator Lin Li-chan)
Generasi Kedua Imigran Baru
Lin Lin-chan juga aktif dalam mempromosikan interaksi antara Taiwan dan negara-negara Asia Tenggara. Saat ini, terhadap 10 negara ASEAN, Taiwan telah memberikan perlakuan bebas visa bagi Singapura dan Malaysia, visa elektronik dan visa on-arrival bagi Brunei, sedangkan untuk tujuh negara lain diberlakukan visa umum atau visa yang bisa dimohon melalui internet. Berkat upaya Lin Li-chan, Yuan Eksekutif telah memutuskan menyederhanakan prosedur permohonan visa turis bagi tujuh negara tersebut, termasuk Kamboja, dan juga negara-negara Asia Selatan seperti India. Kelak, Lin akan terus mengupayakan interaksi selanjutnya antara Taiwan dan Asia Tenggara, terutama hubungan Taiwan dan Kamboja.
Mengenai “Kebijakan menuju ke Selatan yang baru” Pemerintah Tsai Ing-wen, Lin Li-chan berpendapat, kendala utama yang dihadapi pemerintah baru dalam memajukan hubungan dengan Asia Tenggara adalah kurangnya tenaga ahli. Menurutnya, jumlah imigran baru di Taiwan telah melampaui 510 ribu orang, populasi generasi kedua imigran baru juga telah melampaui 360 ribu jiwa, banyak darinya menjalin hubungan erat dengan negara-negara Asia Tenggara, mereka memiliki keunggulan, baik dari segi garis keturunan, budaya dan bahasa, merupakan modal penting bagi Taiwan untuk mengembangkan pasar Asia Tenggara, maka pemerintah yang sekarang harus mengutamakan pendidikan imigran baru, agar mereka bisa menjadi kekuatan bagi Taiwan untuk mengembangkan hubungan ekonomi, perdagangan serta diplomatik dengan Asia Tenggara.
Berdasarkan perencanaan Lin Li-chan, pendidikan generasi kedua imigran baru tidak hanya bisa membangun duta diplomatik, juga akan membantu meningkatkan status imigran baru dalam masyarakat Taiwan. “Program Pendidikan Generasi Kedua Imigran Baru” yang digagaskan bersama Direktorat Jenderal Keimigrasian dan dirinya sendiri telah mendapat tanggapan yang baik, tujuannya adalah mendorong agar anak-anak imigran baru pulang ke rumah kakek dan neneknya, menikmati hidup di kampung halaman ayah dan ibunya, mempelajari bahasa dan budaya baru, dan membangun kemampuan Sumber Daya Manusia yang beranekaragam.
Disaat yang bersamaan, Lin Li-chan juga sangat prihatin terhadap pengakuan dari masyarakat Taiwan serta pelajaran yang dapat diperoleh dari budaya imigran baru, dan juga pendidikan bahasa Asia Tenggara. Lin beranggapan, ini akan membantu toleransi dan penghormatan mutual. Salah satu program yang direncanakan adalah penambahan pelajaran bahasa imigran baru (yang fokus kepada bahasa negara-negara Asia Tenggara) dalam program pendidikan nasional 12 tahun yang akan mulai dilaksanakan tahun 2018. Untuk melancarkan program pendidikan ini, kata Lin, mutu guru bahasa Kamboja, Filipina dan Malaysia masih perlu ditingkatkan.
-50.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Lin Li-chan, sukarelawan jangka panjang di Stasiun Kereta Api Changhua dan ia akan mengajukan Rancangan Undang-Undang untuk meningkatkan keamanan kereta api Taiwan. (Foto: Kantor Legislator Lin Li-chan)
Satu Langkah, Satu Jejak
Setelah menjadi tokoh politik, Lin Li-chan tidak hanya tidak merasa terkekang, sebaliknya dia selalu maju dengan agresif dan penuh inisiatif. Bagi Lin, semua hal yang tampak sangat umum ini adalah hasil yang dicapai setelah banyak rintangan didobrak melalui upaya keras.
Seperti layaknya imigran baru di Taiwan, Lin Li-chan memutuskan menikah ke Taiwan melalui jasa perantara pernikahan lintas negara yang hanya berlangsung dua jam. Dia kemudian terbang dari Pnom Penh, Kamboja, ke Taiwan dan tinggal di sebuah keluarga sederhana di Desa Huatan, Changhua, tinggal bersama suaminya Hsie Shui-chin, seorang pengolah logam dan juga bapak dan ibu mertuanya. Menurut Lin, pertama tiba di Taiwan, tekanan sangat terasa sekali karena hidup di tempat yang
Di Pnom Penh, dia dilahirkan sebagai generasi ketiga di keluarga keturunan Tionghoa. Dibesarkan dibawah perlindungan ayah yang berdagang, kehidupan keluarganya masih lumayan. Tapi setelah ayahnya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas saat dia masih SMA, keluarganya kehilangan dukungan ekonomi, dia bahkan tidak mampu membayar biaya sekolah. Dia tidak mampu menerima kenyataan bahwa ayahnya telah meninggal dunia dan merasa kehilangan topangan batinnya.
Setiap kali menghadapi kesulitan dan merasa frustrasi, Lin Li-chan selalu berdoa pada ayahnya, mencari dukungan dan memohon kekuatan. Dia berkata, “Saya hidup bagaikan mimpi di siang hari, kenyataan hanya datang di malam hari.” Inilah kehidupannya dalam sepuluh tahun pertama di Taiwan.
Seiring lahirnya anak laki dan perempuannya, anak-anaknya menjadi sumber kekuatan baru bagi Lin Li-chan. Ibu yang punya semangat pantang menyerah ini mulai belajar bahasa Mandarin, menjadi sukarelawan, berpartisipasi dalam pekerjaan komunitas, berusaha berbaur dengan masyarakat Taiwan. Kekuatan pendorong semua ini adalah dari tekad untuk melindungi anak-anaknya, dan harapan bisa menghapuskan label negatif yang dikaitkan dengannya.
Untuk meningkatkan pengetahuan agar bisa membantu lebih banyak orang, Lin Li-chan bersekolah di Departemen Sains Kecantikan di Universitas Teknologi Chienkuo, Kursus Kredit Pendidikan Berkelanjutan bidang Pekerjaan Sosial di Universitas Providence, Program Master untuk Manajemen Organisasi Non-Profit di Universitas Chi Nan Nasional, dan musim gugur tahun ini akan meneruskan studi di Program Doktor Departemen Penelitian Asia Tenggara di Universitas Chi Nan Nasional, berharap bisa berkontribusi lebih banyak bagi imigran baru dan Taiwan.
Lin Li-chan sangat bersimpati terhadap imigran baru, selalu menemani mereka untuk belajar dan mendirikan “Asosiasi Perkembangan dan Komunikasi untuk Imigran Baru,” berfungsi membantu kehidupan imigran baru serta generasi keduanya di Taiwan.
Menganggapnya sebagai misi, Lin Li-chan selalu berupaya mempromosikan perkembangan budaya multi-rupa dan pendidikan anak-anak imigran baru, karena dia percaya, imigran baru dan generasi keduanya adalah kekuatan baru bagi masa depan Taiwan.
Dua puluh tahun di Taiwan, Lin Li-chan bertranformasi dari seorang wanita sama sekali tidak mampu berbahasa Taiwan dan tidak mengenal huruf Mandarin, sampai sekarang menjadi anggota parlemen yang turut berperan untuk menetapkan kebijakan negara. Ceritanya adalah legenda bagi imigran baru, yang telah menjadi ilham bagi seluruh masyarakat Taiwan.
-35.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Lin Li-chan (kedua dari kanan) turun ke jalanan untuk menuntut hak pengantin Daratan Tiongkok. (Foto: Kantor Legislator Lin Li-chan)