Dalam perjalanan hidup manusia yang panjang, “pulang ke rumah” seringkali tidak hanya perpindahan geografis, melainkan suatu sukma pencarian akar. “Taiwan Panorama” edisi kali ini mengajak pembaca berjalan pada sebuah jalan yang tertata dengan indera, ingatan dan tujuan hidup, untuk melihat sinar kehangatan dari kisah-kisah “renaisans” di sebidang tanah ini.
Seuntai jalan ini mungkin bermula dari sentuhan rasa asin pada lidah. Pada Ladang Garam Zhounan, para profesional dengan teliti mencatat perubahan iklim dan dunaliella salina, agar setiap butir garam dapat menceritakan kisah perubahan alam. Pemahaman dari tanah ini juga berkembang dan membuahkan hasil di Komunitas Zhaoyang, Nan’ao. Gerai Cha Tzu Tang meluncurkan “Proyek Renaisans Minyak Kamelia”, yang tidak saja meningkatkan tingkat swasembada tetapi juga melalui transformasi estetika dan pemberdayaan industri, para petani tua dapat dengan bangga mewariskan usahanya, juga agar generasi kedua dapat melihat kemungkinan pulang ke kampung halamannya untuk berkembang.
Budaya adalah petunjuk jalan yang paling khas dalam perjalanan ini. Bagi Takbanuaz Ishahavut Pune, seorang penduduk asli suku Bunun, jahe cangkang adalah penuntun untuk kembali ke kampung halaman. Melalui teknik anyaman khas keluarganya sendiri, ia memadukan pengetahuan suku Bunun yang diwariskan selama ratusan tahun ke dalam serat anyaman, agar dapat mengangkat jahe cangkang, dari peralatan sehari-hari menjadi seni modern, bahkan menjadi akar budaya bagi kaum muda yang tinggal di kampung halamannya. Begitu pula dengan bambu gunung, Doktor Bambu dan para pelopor muda yang tengah mematahkan kutukan industri senja, menggunakan teknologi pelestarian hijau dan perpaduan bahan-bahan yang berbeda agar kerajinan bambu dengan kesegaran dan modisnya dapat kembali masuk dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Jalinan adalah sukma dari perjalanan ini. Jembatan Xiluo dengan 31 lengkungan besi baja, pernah menjadi titik awal bagi banyak warga Xiluo untuk ke daerah utara mewujudkan impian mereka, kini telah bertransformasi menjadi jembatan budaya dan pariwisata, mengusung kekuatan religi Prosesi Dupa Mazu dengan pemandangan matahari terbenam yang puitis. Jalinan hubungan ini melampaui batasan negara. Melalui rajutan jalinan oleh “Mekong Cultural Hub/MCH)”, para pekerja seni Taiwan dan Asia Tenggara, dengan menggunakan bahasa bersama rempah-rempah, film dan raga, mengekslorasi kemungkinan kesejahteraan bersama dalam dialog lintas budaya.
Kami mengundang Anda untuk menyimak majalah edisi ini, dan bergabung bersama kami untuk merasakan bagaimana para pegiat Taiwan mendedikasikan hidup mereka melindungi keindahan tanah ini.