Pulau adalah Kapal, Laut adalah Jalan
Masyarakat Austronesia adalah struktur dari kelompok orang dan wilayah geografis yang dibangun berdasarkan penggunaan bahasa Austronesia. Namun Fang Chun-wei, Kepala Divisi Pameran dan Pendidikan, memulai ceritanya dari pintu masuk ruang “Austronesia Hall”, kurator menggunakan proyeksi Mercator untuk menampilkan peta dunia, hanya dengan mengarahkannya ke atas bagian timur matahari terbit. Begitu sudut pandang berubah, kami melihat daratan bercampur lautan, pulau-pulau yang ditempati masyarakat Austronesia tersebar di Samudra Pasifik, bagaikan gugusan mutiara.
“Bagi masyarakat Austronesia, pulau sepertinya sebuah kapal, saling membantu satu sama lain dan berbagi nasib dalam keterbatasan sumber daya kapal. Laut adalah jalan, samudra bukanlah penghalang, melainkan jalan yang menghubungkan antar pulau.” Demikian penjelasan Fang Chun-wei. Dalam pemikiran budaya masyarakat Austronesia mungkin tidak ada yang namanya “tanah tempat tinggal permanen”, lebih banyak jiwa petualang yang mengalir dalam darah mereka, “Mereka lebih bersedia menjalin hubungan, pertukaran, mendapatkan sumber daya dengan pulau-pulau tetangga. Terdapat banyak sekali jaringan pertukaran dalam budaya Austronesia, ini juga adalah perlindungan dari bencana alam, berlindung ke pulau tetangga, dan sangat sejalan dengan konsep ketahanan sekarang ini.”
Kehidupan penjelajahan dari pulau ke pulau seperti ini membuat masyarakat Austronesia mengarungi lautan. Mereka adalah sekelompok pelaut tangguh, bahkan sebelum teknologi navigasi barat ditemukan, masyarakat Austronesia dengan mengandalkan pengamatan bintang, cuaca, arus laut dan lainnya sudah bermigrasi hingga ke tanah yang tak berpenghuni terakhir di permukaan bumi ini. Jika mengilas balik ke abad 14 ketika gelombang perpindahan paling akhir ke Selandia Baru terjadi, penjelajahan bumi dari masyarakat Austronesia setidaknya lebih awal ratusan tahun dari orang barat. Makna di balik ini menunjukan “Dilihat dari jaringan hubungan antar pulau, mereka tidak pernah berada dalam keadaan terisolasi, termasuk Taiwan, selalu mengikuti denyut nadi dunia dari dulu hingga sekarang.”

Fang Chun-wei menjelaskan, slogan dari Austronesia Hall adalah “Di Sinilah Pertemuan Taiwan dan dunia”, menceritakan kisah Taiwan selalu mengikuti denyut nadi dunia dari dulu sampai sekarang.