Progres Seni Taiwan dan Asia Tenggara
Jalinan Jaringan Pertukaran MCH
Penulis‧Chen Jun-fang Foto‧Chuang Kung-ju Penerjemah‧Farini Anwar
April 2026
Pada April 2025, CEO We ART Together Foundation, Wu Wei-wei yang berasal dari Taiwan diundang oleh Mekong Cultural Hub (MCH) untuk menjadi juri dalam pemilihan pertunjukan tarian modern “Chakto Program”, ia menggambarkan karya inovasi para penari, “Seperti kendaraan Tuk Tuk yang melaju dengan energik dan menggugah hati melintasi gang-gang jalan di kota.”
Pada Oktober 2024, Mekong Cultural Hub (MCH) mengelar Titik Pertemuan Seni (Meeting Point on Art) dan Aksi Sosial di Asia (Social Action in Asia) di Laos, mengumpulkan pekerja seni Taiwan dan Asia Tenggara, membangun jembatan yang menjalinkan seni di benua Asia.
Di suatu minggu yang cerah pada Mei, “muncul” bioskop pondok kayu kecil yang eksotis di lorong National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), menayangkan “Mekong 2030”, film karya lintas negara yang diprakarsai oleh Festival Film Luang Prabang Laos (LPFF). Film bertema Sungai Mekong menampilkan film karya dari Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam, menceritakan kehidupan berdampingan dan kehancuran antara manusia dan alam dalam konteks eksploitasi berlebihan dan perubahan lingkungan.
Manajer program Mekong Cultural Hub (MCH) yang bertanggung jawab atas perencanaan kegiatan “Voice of the Mekong” Jennifer Lee menyampaikan, sangat senang dapat menyalurkan energi seni negara-negara Asia Tenggara ke NTUST. MCH bertugas membantu seniman dan pekerja seni yang berkomitmen mempraktikkan tanggung jawab sosial; Sedangkan NTUST membina pola pikir pembangunan berkelanjutan pada mahasiswanya, menjadikan kedua belah pihak serasi dan selaras, dengan bahasa yang sama yaitu peduli dengan kerja berkelanjutan, menciptakan pertemuan antara seni dan teknologi.


Sebuah pondok kayu muncul di lorong National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), menayangkan film tentang Sungai Mekong, membangkitkan rasa ingin tahu mahasiswa terhadap negara-negara Asia Tenggara.
Pertemuan Sains dan Seni Gemparkan Kampus
Direktur Festival Film Blue Chair Laos, Sean Chadwell dalam lokakarya “Seni, Sains Teknologi dan Kisah Sungai Mekong”, menayangkan film pendek dan meminta para guru dan murid untuk membagi kelompok dan berbagi peran sebagai produser film independen, pemerintah yang melakukan inspeksi, perusahaan yang menjadi sponsor dan peran lainnya, membahas konteks naratif dari sudut pandang yang berbeda, agar peserta memahami permasalahan lingkungan hidup lokal, juga melihat tantangan yang dihadapi dalam berkreasi seni lokal.
Ajang lainnya dibawakan oleh Direktur Prayoon for Art Foundation Thailand, Wayla Amatathammached, menghadirkan lokakarya “Menari Bersama Alam: Membayangkan Kembali Kehidupan di Thailand”, dan Wayla mengintegrasikan pengamatan yang dilakukan dalam jangka panjang, dengan konsep menyerupai peta diagram untuk berbagi lingkungan dan perubahan budaya di Thailand, bersamaan dengan itu mengundang peserta untuk menuliskan kata kunci sesuai dengan situasi sendiri, dan terakhir menggunakan kata kunci tersebut membentuk peta relasi baru, menginspirasi peserta untuk berpikir mengenai tantangan lingkungan, tradisi, masyarakat sosial dan tantangan lainnya, serta memikirkan kemungkinan langkah selanjutnya.

Direktur Prayoon for Art Foundation Thailand, Wayla Amatathammached, berbagi perubahan budaya dan lingkungan di Thailand.
Seni Sebagai Katalis Perubahan
Mungkin “penyembuhan tak terduga” ini sebenarnya adalah salah satu dari niat awal yang ingin diberikan MCH. Jennifer Lee menyampaikan, MCH adalah Organisasi Seni Kehidupan Internasional (Living Arts International/LAI), mendirikan kantor di Taiwan tahun 2018 dengan rencana regional untuk mempromosikan dan melayani para pekerja budaya yang datang dari Kamboja, Thailand, Myanmar, Taiwan, Thailand dan Vietnam.
Konsep inti dari LAI dan MCH menekankan pada penggunaan seni dan budaya sebagai katalis dalam metode reformasi budaya masyarakat sosial. Jennifer Lee menyampaikan, pendiri LAI Arn Chorn-Pond adalah pengungsi pada era rezim Khmer Merah di Kamboja, yang diadopsi dan dibesarkan di Amerika Serikat, setelah beranjak dewasa, akhirnya ia baru memiliki kesempatan menapakkan kaki di kampung halamannya. Namun ia menemukan, negerinya ini hancur dan jutaan warganya tewas akibat perang, serta kesenian tradisional lokal mengalami kerusakan parah. Untuk itu Arn Chorn-Pond menggalang dana mendirikan LAI, karena ia sangat yakin bahwa budaya dan seni dapat menyembuhkan luka masyarakat.
Perjodohan LAI dengan Taiwan bersumber dari Direktur Utama LAI, Phloeun Prim mendapat undangan menjadi anggota Komite Penasihat Asia Tenggara Pertama di Kementerian Kebudayaan (MOC) Taiwan, dan menjalin perkenalan dengan pekerja seni Taiwan, lalu menemukan potensi untuk menjalin budaya Taiwan dan Asia Tenggara. Saat LAI ingin mempromosikan program pertukaran budaya regional seluruh Asia, pemerintah Taiwan juga memperkuat pertukaran budaya dengan Asia Tenggara, oleh karena itu dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan Taiwan, LAI mendirikan kantor MCH di Taiwan, mempromosikan pertukaran seni Asia.
Selama lebih dari tujuh tahun terakhir, MCH menggelar berbagai program pemberdayaan, seperti program pembinaan pertolongan darurat kesehatan mental, etika kerja praktik seni dan lainnya, serta menggelar Meeting Point setiap 18 bulan sekali, setiap kali mempertemukan lebih dari 100 pekerja seni Asia, juga mengundang Asia-Europe Foundation (ASEF) dan instansi lainnya turut berpartisipasi, menciptakan tempat di mana para praktisi, pembuat kebijakan, sponsor, peneliti dan lainnya dapat berkomunikasi dan berdialog bersama.
Menjalinkan Kemampuan Kreatif Asia
Yang dijalinkan MCH tidak hanya pertukaran budaya, melainkan jalinan yang mendetail dan mendalam.
Bagi Direktur Utama Performing Arts of Southern Taiwan Association (PASTA) yang juga berpartisipasi dalam Meeting Point di Vietnam pada tahun 2024, Wu Wei-wei, mengatakan kunjungan pertukaran ini tidak saja memperdalam pemahamannya tentang pengalaman umum Asia di Taiwan dan Asia Tenggara, melainkan juga memungkinkan baginya untuk menjalin pertukaran dengan mitra kreatif dari Sungai Mekong, bahkan membentuk grup kreatif dengan nama “Grassroot Gossiping Group/GGG”.
Di bawah pengaturan dari MCH, seniman seni rupa Vietnam, seniman pertunjukan boneka Thailand, koreografer Laos, seniman seni suara Myanmar dan pekerja teater Taiwan dapat bertemu. Melalui pembahasan secara online beberapa waktu sebelumnya, mereka dengan masing-masing membawa rempah-rempah dan kain khusus datang ke Hanoi Vietnam.
Wu Wei-wei sambil tertawa mengatakan, dirinya sendiri membawa rempah-rempah bungkus (滷包Lǔ bāo) dan kain bunga tradisional Hakka, sementara seniman lainnya ada yang membawa Baxianguo, daun salam, kayu manis dan lainnya, untuk saling bertukaran kesamaan dalam penggunaan rempah-rempah, dan terakhir menciptakan sebuah karya pertunjukan yang memadukan rempah-rempah, kain dan unsur budaya lintas negara lainnya.
Di depan ruang terbuka, para pemain menari sambil berinteraksi dengan lembaran kain yang dijuntaikan dari ketinggian, menyambungkan kain-kain dari negara berbeda, melambangkan perpaduan budaya transnasional. Penari mengundang pengunjung untuk menyambungkan potongan-potongan kain secara acak dan mengambil rempah-rempah sesuai dengan keinginan untuk digantungkan pada tirai kain, dalam iringan musik, rempah-rempah, tubuh dan indera lainnya, sehelai tirai kain kreasi kolektif secara bertahap terbentuk, layaknya kegiatan akbar lintas budaya.
Kokreasi singkat tetapi mendalam ini memperkuat sentimen revolusioner para seniman ini. Setelah kembali ke tanah air masing-masing, mereka masih tetap berhubungan, bahkan membentuk GGG terinspirasi dengan tema kreatif “Grassroots” di Vietnam.
Wu Wei-wei memaparkan kini GGG tengah menyusun karya kreasi bersama kedua, berencana melihat kembali konteks sejarah masing-masing negara melalui “kolonisasi” dan “negara ibu”, mempertimbangkan hubungan antara kita dan tanah air. Banyak wilayah di Asia yang pernah mengalami penjajahan, tidak saja membentuk latar belakang budaya masing-masing negara, juga menciptakan bahasa publik mereka.
Meskipun masih menggalang dana untuk karya kedua, para seniman tetap menjalin silaturahmi dan melakukan pertukaran pendapat secara online dan melalui kunjungan. “Kami semua merasa, karya kokreasi multinasional seperti ini sangat jarang dijumpai, sangat mencerminkan kekuatan Asia.” ujar Wu Wei-wei. Sehubungan dengan anggota GGG datang dari negara-negara berbeda, sehingga masing-masing memiliki ruang berlatih dan tampil, untuk itu mereka mempertimbangkan untuk menggelar pertunjukan keliling. Mungkin dapat dimulai dari Taiwan, baru kemudian ke Thailand, Laos dan seterusnya, bahkan jika ada peluang dapat dibawa ke Eropa. Wu Wei-wei menggambarkan, ini bukan saja pertukaran budaya, melainkan tindakan kolektif seniman Asia untuk bersuara.

Direktur Festival Film Blue Chair Laos, Sean Chadwell dalam lokakarya “Seni, Sains Teknologi dan Kisah Sungai Mekong”, mengajak semua untuk memikirkan jenis narasi film.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Wu Wei-wei (baris terdepan, kiri 3) mendapat undangan menjadi juri dalam pemilihan pertunjukan tarian modern Chakto Program dan berbagi pengalamannya dan perkembangan internasional dari penyelenggaraan festival seni skala kecil di Taiwan. (Foto: Cambodian Living Arts)
Nyalakan Vitalitas Lokal
“MCH bukan hanya membangun platform pertukaran seni budaya, melainkan merajut sebuah jaringan yang luas dan padat.” Demikian gambaran yang diberikan oleh Ku Shu-shiun, Profesor Madya Departemen Budaya dan Industri Kreatif Universitas Nasional Pingtung, MCH menghubungkan talenta melalui program dukungan seni, lagi pula pertukaran ini juga tidak hanya menghasilkan percikan kreatif selama program berlangsung, tetapi juga agar pengaruh seni dapat semakin luas.
Untuk hal ini, Ku Shu-shiun yang sudah dua kali berpartisipasi dalam program MCH, merasa sangat tersentuh. Selaku spesialis dalam studi kebijakan budaya, Ku Shu-shiun yang pernah menjabat sebagai direktur eksekutif Kongres Kebudayaan Nasional, meskipun memahami saran dan harapan dari komunitas seni, tetapi bagaimana cara yang benar-benar menerapkan kebijakan budaya di lokal, ini selalu menjadi tanda tanya besar dalam benaknya.
Ku Shu-shiun yang antusias dengan kebijakan dan industri budaya kreatif, menemukan banyak siswa yang merasa isu-isu budaya sangat jauh dari mereka, ia bertanya pada dirinya sendiri: Harus bagaimana untuk dapat mendekatkan jarak kebijakan budaya dengan kehidupan dan membuka kedua mata siswanya?
Sampai pada tahun 2019, Ku Shu-shiun berpartisipasi dalam lokakarya di Phnom Penh, Kamboja atas undangan dari MCH. Saat itu merupakan pertama kalinya ia menginjakkan kaki di Asia Tenggara, dalam situasi di mana ada keterbatasan dalam sumber kebudayaan, ia melihat para pencipta karya Asia Tenggara, sedapat mungkin menggunakan cara untuk menembus keterbatasan, “Vitalitas kuat yang ditampilkan dari seni budaya lokal, menginspirasikan perubahan besar bagi saya”.
Tergerak dengan pengalaman di Phnom Phen, bertepatan juga dengan Tanggung Jawab Sosial Universitas (University Social Responsibility/USR) yang dipromosikan Universitas Pingtung, Ku Shu-shiun berkesempatan membawa mahasiswanya memasuki kehidupan lokal. Ia membawa siswanya mendalami Desa Fangliao, bekerja sama dengan pemuda lokal untuk survei sumber daya budaya dan sejarah lokal, mengelar forum budaya masyarakat dan konser komunitas. Ku Shu-shuin sembil tertawa mengatakan, “Konser kehidupan tanpa akhir” yang hingga tahun 2025 telah memasuki periode keempat, telah menjadi acara yang dinanti-nantikan oleh para sesepuh masyarakat setempat.
Yang lebih menarik lagi adalah salah seorang siswa yang bersama Ku Shu-shuin bergabung dalam komunitas, kini bekerja untuk Lovely Taiwan Foundation yang telah lama berkomitmen bagi revitalisasi lokal, selain itu masih mempersiapkan kegiatan musim semi, dan akan terus mewariskan kekuatan seni lokal, semua ini berawal dari pencerahan yang dibawa dari Phnom Penh. “MCH membuat saya melihat kekuatan seni dan budaya, untuk selanjutnya tinggal melihat bagaimana Anda menyalakannya,” ujar Ku Shu-shuin.
“Teman dari Teman” merupakan pameran yang digelar MCH di Taman Kreatif Huashan 1914 pada tahun 2024, menunjukkan pertukaran antara MCH dengan organisasi seni Taiwan serta Asia Tenggara. Jennifer Lee sambil tertawa mengatakan, teman dari teman terdengar sangat umum, tetapi sangat nyata, saat berteman, kita akan saling memahami, peduli, dan memperkenalkan topik yang kita minati kepada teman kita, inti yang disampaikan sangat besar sekali.
Sean dari Laos, untuk perdana datang ke Taiwan atas undangan lokakarya dari National Taiwan University of Science and Technologi (NTUST), ia telah berjanji dengan Jennifer Lee untuk datang kembali mengikuti TEC Land Arts Festival (Taiwan East Coast Land Arts Festival). Sedangkan Wayla dari Thailand melanjutkan penelitian tentang masyarakat adat Taiwan di sekolah masyarakat adat, dengan harapan dapat menemukan solusi yang selaras dengan alam. MCH yang berbasis di Taiwan, menjalin jaringan pertukaran pekerja seni Asia, perluas pengaruh kekuatan seni, mengatalisasi dunia yang sejahtera dan berkelanjutan.
Mr. Hoang Nguyen and Ms. Ngo Tran Phuong Uyen).jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)


提供.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)

Mr. Hoang Nguyen and Ms. Ngo Tran Phuong Uyen).jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)

.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)

-13a.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
-13c.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)