Pemandian Sumber Air Panas Zhaori di Pulau Hijau
Berendam di Lautan Luas, Matahari Terbit dan Langit Berbintang
Penulis‧Lynn Su Foto‧East Coast National Scenic Area (ECNSA) Penerjemah‧Farini Anwar
Februari 2026
Sumber air panas adalah tempat konsentrasi alam dan kebudayaan manusia. Berdasarkan penelitian dari ahli geologi, sumber air panas pantai bukanlah sesuatu yang langka, tetapi tidak banyak yang dapat memadukan sumber air panas dan kebudayaan. Mendapat pengaruh dari Jepang, Taiwan juga merupakan negara dengan budaya sumber air panas yang makmur, sehingga pengembangan sumber air panas bawah laut di Pulau Hijau (Green Island) sama terkenalnya dengan Kyushu di Jepang dan Sisilia di Italia.
Pulau Hijau terbentuk dari letusan gunung berapi bawah laut, lava yang terakumulasi dan mendingin mengangkat kerak bumi, kemudian melalui proses pelapukan dan erosi laut dalam jangka panjang.
Pulau tersendiri yang berada pada 33 km tenggara Taitung ini, berbentuk segitiga terbalik dengan luas tanah 16 km persegi dan memiliki kekayaan pemandangan alam seperti terumbu karang, tebing, pantai, dan padang rumput. Arus Kuroshio yang mengalir di perairannya membuat suhu air laut berada di kisaran 26°C sepanjang tahun. Keragaman ekologi yang penuh pesona selalu menarik banyak wisatawan.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Kembali Menyanyikan Serenade Pulau Hijau
Berwisata ke Pulau Hijau, selain persinggahan singkat dua hari satu malam yang sering ditemui, juga ada orang yang menapakkan kaki, mewujudkan impian tinggal jangka panjang di pedesaan.
Meskipun kehidupan di Pulau Hijau sangat tidak mudah. “Hanya dapat bekerja selama 6 bulan dalam setahun,” ujar May Lin, manajer Pemandian Sumber Air Panas Zhaori (Zhaori Hot Springs). Selama Oktober hingga April tahun berikutnya, angin monsun timur laut bertiup, Pulau Hijau yang menghadap ke Samudra Pasifik harus menghadapi hantaman ombak setinggi 3 meter, kapal-kapal kerap mengumumkan penghentian pelayaran pada periode ini, sehingga Pulau Hijau menjadi “pulau tertutup”.
May lin sebelumnya adalah orang media senior dengan pengalaman kerja 20 tahun lebih, berangkat dari kegemarannya akan wisata, ia mendirikan biro perjalanan wisata dan menjadi pemandu wisata setelah pensiun. Siapa yang menyangka, pandemi COVID-19 yang datang melanda pada musim gugur tahun 2020 membuat pekerjaannya kembali menjadi nol dalam sekejap. Ajakan keluarganya yang berada di Luye, Taitung, ditambah May Lin pernah berbulan madu di Pulau Hijau, membuatnya memutuskan untuk kembali ke Pulau Hijau, mengelola Pemandian Sumber Air Panas Zhaori.
May Lin yang penuh sentimen sastrawan selalu menertawakan dirinya “muluk” dan berharap dapat berkontribusi bagi komunitas dengan mencontoh Provence di Prancis, yang popularitasnya meningkat berkat “A Year in Provence” karya Peter Mayle, atau Chishang yang menjadi populer karena “Festival Budaya Panen Musim Gugur”.
Ia membeberkan, berdasarkan kronik Pulau Hijau, sebelum pemerintah nasionalis datang dan menjadikan Pulau Hijau sebagai pengasingan tahanan politik, sudah ada catatan penemuan sumber air panas pada masa koloni Jepang. Sumber air panas bercampur dengan air laut itu berposisi menghadap ke Samudra Pasifik sehingga orang-orang dapat bermandi sumber air panas sambil menikmati pemandangan matahari terbit dari timur. Orang Jepang pun menyebutnya sebagai “Pemandian Sumber Air Panas Asahi (matahari terbit)” dan menganggapnya sebagai tempat penyembuhan spiritual.
May Lin yang gemar bepergian ke berbagai pelosok dunia, membandingkan semangat penyembuhan spiritual Pemandian Sumber Air Panas Zhaori dengan Karlovy Vary, kota spa yang paling banyak dikunjungi di Ceko.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Pemandian Sumber Air Panas Zhaori adalah tempat pemandian sumber air panas laut yang jarang ditemukan di dunia, terdapat fasilitas kolam berendam terbuka dan semi terbuka, kolam renang, area merebus telur dan lainnya, dapat menjadi tempat bersenang-senang seluruh keluarga.
Kebangkitan Pulau Kecil
Melalui empat tahun tinggal dan bekerja, May Lin mengatakan, kehidupan di sini membuatnya sepanjang jalan menyanyi dari “Serenade Pulau Hijau” hingga “Menemani Saya Melihat Matahari Terbit”.
May Lin bersama timnya, selain terjun dalam pengoperasian dasar, perbaikan infrastruktur, juga telah melakukan banyak percobaan seperti menggelar kegiatan pembersihan pantai dan mengubah sampah laut menjadi dinding seni publik; juga membangun penampungan hewan dalam kawasan taman, dan memberikan ruang untuk mendirikan toko buku independen. Ia telah mengerahkan koneksinya, mengundang penari “Zen in Dance” untuk menghadirkan pertunjukan, juga mengundang pelukis Sylvia Yu dan lainnya tampil dalam acara tahun baru.
Terlebih lagi, May Lin yang fasih berbahasa Inggris, setiap kali ada wisatawan internasional datang, ia dengan antusias dan berupaya keras untuk memberikan informasi Pulau Hijau secara detail. Ia bahkan menggelar kamp belajar bahasa Inggris untuk memberdayakan penduduk lokal untuk memberikan pelayanan pada para tamu ini.
Kepemimpinannya dan pengaruhnya telah mendorong kebangkitan budaya kecil di pulau ini.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
May Lin mengejar impian, datang ke Pulau Hijau. (Foto: May Lin)
Sumber Air Panas yang Dikelilingi Lautan
Sumber air panas menjadi sumber pariwisata penting Pulau Hijau. Direktur Pengelola Kawasan Pemandangan Nasional Pesisir Timur (East Coast National Scenic Area/ECNSA), Lin Wei-ling mengemukakan, sekitar 60-70% wisatawan yang datang ke Pulau Hijau pasti ke Pemandian Sumber Air Panas Zhaori.
Bisa memiliki sumber air panas dan sebutan lama “Pulau Terbakar” ini berkaitan erat dengan geologi dari Pulau Hijau. Berlokasi di sebelah tenggara pulau, air laut atau air tanah menjadi panas akibat aktivitas magma di bawah laut yang menimbulkan tekanan, dan menyebabkan mata air panas muncul menggelembung dari dasar laut. Inilah mengapa penduduk setempat menyebutnya sebagai “Dataran Air Mendidih”.
Melalui penelitian, mata air ini termasuk mata air klorida sulfat, tidak berwarna dan tidak berbau, suhunya sekitar 60-70°C, mengandung sedikit mineral dan zat langka, sehingga dapat meningkatkan metabolisme tubuh manusia.
Berbeda dengan kebanyakan area sumber air panas yang dikomersialkan di Pulau Taiwan, tempat terbuka Pemandian Sumber Air Panas Zhaori lebih ramah dan bersahabat. May Lin menjelaskan, jam operasi taman sumber air panas harus disesuaikan dengan waktu matahari terbit. Wisatawan yang datang ke sini, bukan sekedar berendam di sumber air panas melainkan lebih seperti ke pemandian laut. Tempat pemandian tidak membedakan gender, untuk itu harus memakai baju renang, hanya dengan membayar NT$100 tiket masuk maka dapat menikmati 11 kolam sumber air panas dan fasilitas perangkat keras lainnya.
Pihak taman terlebih dulu akan memompa sumber air panas bawah laut ke dalam tangki air panas, setelah didiamkan sebentar untuk mengendap, baru kemudian dialirkan langsung ke masing-masing kolam sesuai dengan kondisi air. May Lin menegaskan, air tempat para wisatawan berendam di sini boleh dibilang yang paling segar dan alami.
Dari kolam-kolam sumber air panas terbuka, ada tiga kolam paling populer, karena suhu dari tiga kolam berbeda, sehingga seperti sauna. Para wisatawan dapat berendam di kolam air panas selama 15 menit terlebih dulu, setelah istirahat sebentar baru berendam di kolam air dingin. Selain itu ada delapan kolam berendam semi terbuka, kolam renang yang sangat disukai oleh anak-anak dan keluarga.
Selain itu, ada satu kolam sumber air panas khusus untuk memasak makanan di Pemandian Sumber Air Panas Zhaori. Sumber air panas mengandung garam dan suhu tidak sampai titik didih, dapat menghasilkan telur rebus setengah matang sumber air panas dengan cita rasa unik. Tidak saja disukai wisatawan, bahkan sering terlihat penduduk lokal secara khusus membawa sekeranjang besar berisi telur, jagung, udang dan lainnya untuk dimasak di sini, setelah itu dibawa pulang untuk disantap, “Setiap kali melihat situasi ini, diketahui bahwa mereka pasti kedatangan tamu kerabat atau saudara!” May Lin yang semakin akrab dengan hal-hal kecil yang ada berkat pemandian sumber air panas, sepertinya sudah semakin mirip penduduk lokal.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Direktur pengelola Kawasan Pemandangan Nasional Pesisir Timur, Lin Wei-ling pernah bertugas di Pulau Hijau selama dua tahun. Baginya, pemandangan dan budaya setempat bagaikan harta berharga keluarga. (Foto: Lin Min-hsuan)
Sekeliling Sumber Air Panas
Pulau Hijau dengan medan yang termasuk tidak terlalu terjal, puncak tertinggi “Gunung Terbakar” hanya 280 meter, panjang jalan raya keliling pulau jalur 90 timur tidak sampai 20 km, bermotor satu keliling hanya membutuhkan waktu satu jam. Meskipun luasnya mini, Pulau Hijau kaya akan keragaman pemandangan, di sekitar sumber air panas saja ada banyak tempat wisata yang patut dikunjungi!
Haishenping
Terletak di bagian tengah pesisir timur Pulau Hijau, diberi nama “Haishenping” karena terdapat banyak teripang (haishen) di zona intertidal (mintakat pasang surut). Jalan setapak yang dinamakan “Little Great Wall” yang membentang di sepanjang punggung bukit, merupakan titik pandang yang paling indah, di mana bahkan Bima Sakti dapat disaksikan di malam musim panas.
Karena banyaknya wisatawan yang datang, berbagai formasi batuan berbentuk unik di sepanjang garis pantai berbentuk bulan sabit diberi nama agar mudah diingat. Selain “Konfusius” karena bentuk pilar laut sedikit mirip lelaki tua menghadap dinding, formasi batuan terbesar di sebelah selatan berbentuk seperti anjing yang tengkurap diberi nama “Anjing Pug” dan yang menyerupai perempuan tidur “Putri Tidur” juga terkenal.
Namun, penduduk lokal sering menamakan bebatuan ini dengan sebutan umum sehari-hari. Karena dulu penduduk di Pulau Hijau menggembalakan kambing gunung dengan anjing pug, maka dinamakan “Gunung Kambing”. Sedangkan pilar laut dataran tinggi yang menyempit terkikis air laut menyerupai Putri Tidur disebut “Ikat Kepala”.
Sementara dua formasi bebatuan di garis pesisir paling utara dinamakan “Immortal’s Stack” dengan tumpukan berlapis-lapis, merupakan jejak yang tersisa dari pendinginan lava.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
“Immortal’s Stack” di Haishenping
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
“Anjing Pug” dan “Putri Tidur”
Ziping
Mengikuti jalan setapak kayu di pintu masuk jalan raya keliling pulau, bisa sampai ke “Ziping”. Nama tempat yang begitu elegan, penduduk setempat menjelaskan, dulu di sini banyak sekali ular laut, oleh karena itu dalam bahasa Taiwanese disebut “Sheping (Snake Flat)” (“Ping” bermakna dataran terumbu), kemudian juga disebut “Zhiping (Terumbu Kertas)” baru kemudian merujuk pada keanggunan sebutan menjadi “Ziping (Terumbu Ungu)”.
Terdapat pemandangan hamparan terumbu karang yang tak terputus, kolam pasang surut, dan pantai pasir putih di kejauhan. Di sini juga tumbuh tanaman konservasi “Bantigue (Pemphis acidula)” yang disebut sebagai “Plum Laut” karena bunganya menyerupai bunga plum. Bentuk pohon indah dan elegan yang sebagian lebih tinggi dari manusia, membentuk pantulan di laguna pantai yang menciptakan nuansa tenang dan damai. May Lin mengatakan, “Terasa seperti taman ala Jepang”.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
“Drini (Pemphis acidula)”
Fanchuanbi
Berlokasi di sudut tenggara Pulau Hijau, “Fanchuanbi” bertetangga dengan Pemandian Sumber Air Panas Zhaori. Sebutan ini sebenarnya berasal dari “Fanchuanbi (番船鼻)” dengan aksara “Fan” berbeda yang berarti etnis luar atau asing. Dinamakan demikian karena pernah ada kapal layar yang dinahkodai orang asing yang kandas di sana.
Fanchuanbi adalah teras laut yang terbentuk setelah letusan gunung berapi, merupakan sebuah hamparan luas padang rumput yang subur. Karena ketinggiannya 30 meter, sehingga dari sini dapat terlihat Pemandian Sumber Air Panas Zhaori. Dulu tempat ini juga menjadi tempat untuk menggembala domba dan rusa sika Formosa dari penduduk Pulau Hijau, dan sekarang juga masih dapat terlihat hewan liar yang bergerombol di sini.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Jalan Setapak Guoshan
Sebelum dibukanya jalan raya keliling pulau pada awal tahun 1970, perjalanan dari pemukiman yang sebelumnya dikembangkan seperti Nanliao, Zhongliao, Gongguan dan lainnya menuju ke sumber air panas di sebelah timur harus melalui jalur kuno, yang kerap kali disebut “Guoshan (melintasi pegunungan)” oleh penduduk setempat. Pada tahun 1996, ECNSA merenovasi kembali jalan kuno yang ditinggalkan menjadi seuntai jalan pendakian yang membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk sekali penyeberangan.
Jalan dengan gaya asli ini, kaya akan keragaman spesies, demikian ujar Yang Ping, pemandu Jalan Setapak Guoshan yang dirinya adalah penduduk Pulau Hijau. Menurutnya, apabila datang berkunjung pada musim semi sekitar April-Mei, Anda dapat melihat beragam bunga yang bermekaran seperti senduduk (Melangtomo affine), Excoecaria kawakamii, dan lempeni (Ardisia elliptica); sedangkan di musim panas, dapat menikmati kemunting (Rhodomyrtus tomentosa) yang ternyata rasanya hampir seperti jambu biji dan lempeni yang juga dijuluki “daging babi gunung” atau “cherry kecil”. Semua tumbuh-tumbuhan ini adalah camilan alami yang mudah didapatkan oleh penduduk setempat pada era di mana makanan tidak banyak.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Kemunting (Rhodomyrtus tomentosa)
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Senduduk (Melastoma affine)


