Renaisans Keanggunan Tanah
Jalan Kebangkitan Minyak Kamelia Cha Tzu Tang
Penulis‧Esther Tseng Foto‧Lin Min-hsuan Penerjemah‧Yunus Hendry
April 2026
Banyak kota kecil terpencil di seluruh dunia yang menghadapi dilema penuaan dan kehilangan populasi penduduk; sebuah komunitas kecil di Kabupaten Yilan justru menorehkan kisah berbeda. Niat awal di balik semua ini ternyata bermula dari “Proyek Renaisans Minyak Kamelia”.
Terletak di selatan Su'ao, Kabupaten Yilan, Nan’ao adalah kota kecil yang mudah terlewatkan, baik saat menaiki kereta api maupun berkendara melintasi Jalan Raya Suhua.
Dalam beberapa tahun terakhir, rute wisata tersembunyi di Komunitas Zhaoyang, Nan’ao, mulai tersebar di kalangan komunitas pelancong. Mengunjungi Pelabuhan Perikanan Zhaoyang, pelabuhan terakhir yang dibuka di Taiwan, untuk memandang laut dan membeli ikan, dilanjutkan dengan mendaki Jalur Nasional Zhaoyang yang menyuguhkan pemandangan Samudera Pasifik yang megah, lalu menyantap hidangan laut musiman di restoran yang dikelola oleh Asosiasi Pengembangan Komunitas Naniwa. Destinasi wisata setengah hari yang tersembunyi ini bahkan menarik para nomaden digital untuk menjalani gaya hidup bermukim di dua tempat.
Di jalan menuju Zhaoyang, terdapat sebuah gerai Cha Tzu Tang. Berbeda dengan nuansa gerai di pusat perbelanjaan kota, di Cha Tzu Tang Nan’ao ini pengunjung dapat menyewa sepeda listrik dan kursi kemah, bahkan perusahaan domestik maupun asing menjadikan tempat ini sebagai basis untuk kunjungan studi. Direktur Pengembangan Keberlanjutan Departemen Operasi Berkelanjutan Cha Tzu Tang, Sammi Chang, mengatakan, “Kami berharap wisatawan yang baru pertama kali datang ke Komunitas Zhaoyang dapat tinggal lebih lama”.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Cha Tzu Tang menyediakan bibit varietas unggul secara gratis, guna meningkatkan minat pertanian kontrak. (Foto: Cha Tzu Tang)
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Cha Tzu Tang mendorong “pemanfaatan menyeluruh biji kamelia” untuk mencapai tujuan pemanfaatan berkelanjutan.
Mendorong Tingkat Swasembada Kamelia
Komunitas Zhaoyang pernah mengecap kemakmuran di era kolonial Jepang berkat industri kapur barus. Namun seiring dengan meredupnya industri tersebut dan arus perpindahan penduduk ke luar daerah, meski tercatat memiliki lebih dari 500 penduduk, jumlah warga yang benar-benar menetap tidak sampai 200 orang.
Komunitas kecil yang sunyi dan kian menyusut ini memiliki banyak lahan pertanian yang terbengkalai, tetapi justru menjadi lokasi utama bagi perkebunan baru kamelia yang dikelola melalui sistem pertanian kontrak oleh Cha Tzu Tang.
Sammi Chang menuturkan, alasan di balik pertanian kontrak ini bermula dari krisis keamanan pangan tahun 2014, di mana isu produk minyak menjadi sorotan publik. Cha Tzu Tang, yang menggunakan bubuk kamelia untuk produk pembersih, menyadari bahwa pasokan dari penyedia sebagian besar adalah “bubuk kamelia” impor. Pendiri merek ini, Wood Chao, juga menemukan fakta bahwa tingkat swasembada biji kamelia di seluruh Taiwan tidak sampai 10%.
Pohon kamelia tidak hanya berkhasiat menjaga konservasi tanah dan air, tetapi juga dapat diwariskan hingga ratusan tahun, sayangnya, tanaman berharga ini justru semakin langka di Taiwan.
Pada tahun 2016, Wood Chao membentuk tim pertanian untuk melakukan survei ke seluruh wilayah pemroduksi di Taiwan dan menerbitkan hasil penelusuran lapangan tersebut dalam “The Periodical Fengtuzhi”. Demi memastikan seluruh bubuk kamelia berasal dari Taiwan, ia memutuskan untuk meluncurkan “Proyek Renaisans Minyak Kamelia”, yakni menanam pohon kamelia melalui metode pertanian kontrak untuk memanen biji kamelia tersebut.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Bunga mungil pohon kamelia.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Renaisans Lahan Budidaya Pohon Kamelia
Tak disangka, saat inisiatif ini mulai digulirkan, mereka langsung terbentur satu hambatan besar, pohon kamelia membutuhkan waktu lima tahun untuk bisa dipanen.
Demi membangun kepercayaan petani, Cha Tzu Tang menyediakan bibit varietas unggul secara cuma-cuma kepada para petani mitra. Jika bibit tersebut layu atau mati, maka perusahaan akan menggantinya kembali, sebuah langkah untuk meningkatkan minat petani terhadap sistem pertanian kontrak ini. Selama proses budidaya, pakar proyek pertanian memberikan dukungan manajemen dan pelatihan, termasuk pendampingan saat menghadapi kekurangan air atau kerusakan akibat taifun, guna memupuk keyakinan petani dalam merawat pohon kamelia. Pada akhirnya, hasil panen dibeli dengan harga di atas pasar untuk menjamin pendapatan petani.
Selama lima tahun masa pendampingan, para petani difasilitasi untuk melakukan kunjungan studi dan menimba ilmu demi mempertajam teknik budidaya. Dalam beberapa tahun terakhir, di tengah tantangan kekeringan parah dan pemanasan global, sistem pemantauan digital dan irigasi presisi mulai diterapkan untuk meningkatkan tingkat pembuahan dan kadar minyak. Hal ini membuat para petani tua mitra kerja sama ini dapat dengan bangga berkata kepada putra-putri mereka, “Saya bukan petani biasa, saya petani profesional”.
Berkat langkah pendampingan yang dilakukan dari berbagai sisi, luas area pertanian kontrak di Komunitas Zhaoyang, yang merupakan lahan perkebunan baru, meningkat dari 5 hektare pada tahun 2016 menjadi 17,8 hektare pada tahun 2024.
“Baik bagi Anda, juga baik bagi saya,” ujar Sammi Chang. Ia meyakini bahwa dengan menemukan titik keseimbangan dalam sistem pertanian kontrak, manfaat bersama adalah hal yang bisa dicapai. Cha Tzu Tang juga mengajak petani di Lunshan, Hualien, dan Alishan, Chiayi, untuk bergabung dalam barisan pertanian kontrak ini. Dari total luas lahan kontrak sebesar 23 hektare pada tahun 2016, angkanya tumbuh bertahap hingga mencapai 40,3 hektare. Saat ini, sebanyak 13.760 pohon kamelia telah ditanam, bergerak menuju target peningkatan tingkat swasembada kamelia Taiwan sebesar 15%.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Sammi Chang berpendapat, Cha Tzu Tang berakar di Komunitas Zhaoyang karena bahan baku dan diberdayakan melalui profesionalisme, hal ini menghasilkan efisiensi di mana satu tambah satu lebih besar dari dua.
Renaisans Pertanian Berkelanjutan
Langkah Cha Tzu Tang menyediakan bibit gratis dan menerapkan jaminan pembelian kembali tampaknya bukan sesuatu yang lazim dilakukan oleh perusahaan berorientasi laba tradisional, Wood Chao yang berjiwa lebih peka pun tak pelak sempat meragukan dirinya sendiri. Namun setelah melalui proses eksplorasi, ia berhasil meraih sertifikasi B Corporations®, mempraktikkan keseimbangan antara keuntungan perusahaan dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Ia menemukan bahwa ternyata ada sekelompok pengusaha yang memiliki filosofi serupa dengannya, jalan panjang sebuah perusahaan bukan hanya tentang kebaikan diri sendiri, melainkan juga tentang merawat rantai pasok di hulu dan hilir, prinsip ini berlaku sama, baik bagi perusahaan berusia ratusan tahun maupun usaha kecil dan menengah.
Meskipun awalnya tidak berniat menggunakan sertifikasi B Corporations® untuk tujuan pemasaran, tak disangka langkah ini justru menarik karyawan dengan visi serupa dan membuka peluang kerja sama lintas industri. Sebagai contoh, pangsa pasar perlengkapan mandi Cha Tzu Tang di banyak hotel berbintang kini masuk dalam jajaran tiga besar. Sammi Chang mengatakan, karena biji kamelia Taiwan memiliki ciri khas yang kuat. Ditambah dengan penggunaan tanaman asli Taiwan seperti daun calocedrus formosana dan pistia stratiotes yang diolah menjadi produk mandi dan oleh-oleh, produk ini sarat akan citra Taiwan dan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan internasional. Inilah yang disebut sebagai “semakin lokal, semakin internasional”.
Bagi Cha Tzu Tang, nilai penting dari B Corporations® juga mencakup penerapan “pemanfaatan menyeluruh biji kamelia”. Selain pemanfaatan limbah pertanian secara berkelanjutan yang sudah ada, mereka juga meningkatkan nilai ekonomi kamelia melalui proses produksi yang lebih maju.
Sammi Chang menjelaskan, tahap pertama adalah mengupas biji kamelia lalu memerasnya menjadi minyak makan. Tahap kedua, bubuk kamelia sisa pemerasan minyak diolah menjadi produk pembersih rumah tangga. Sementara itu, cairan ekstrak ampas kamelia yang dihasilkan melalui metode ekstraksi merupakan bahan pembusa alami yang sangat baik, yang dapat dijadikan bahan baku sabun cuci tangan dan sabun mandi. Saat ini, mereka juga tengah meneliti penggunaan kulit cangkang biji kamelia untuk semakin meningkatkan nilai tambah dari komoditas ini.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Proyek renaisans minyak kamelia, selain memperluas penanaman pohon kamelia, juga menyampaikan nilai indah kedekatan dengan tanah. (Foto: Cha Tzu Tang)
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Setelah dikupas cangkangnya, biji kamelia diperas menjadi minyak goreng. (Foto: Cha Tzu Tang)
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Cha Tzu Tang membantu membimbing petani kontrak dengan menerapkan pemantauan digital dan sistem irigasi presisi.
Renaisans Komunitas Zhaoyang
Sammi Chang menuturkan, dalam proses penantian selama lima tahun, ditemukan kekhawatiran lain dari sistem pertanian kontrak, yaitu petani tidak melihat masa depan, terutama petani yang sudah berusia 60 atau 70-an tahun yang selalu cemas, “Sampai kapan saya masih bisa melakukan ini?”
Oleh karena itu, setelah melewati ambang batas lima tahun, musim panen setiap Oktober diatur secara khusus pada hari libur, agar generasi kedua bisa pulang kampung untuk membantu, bahkan memanen bersama hingga tiga generasi. Kegiatan ini dirancang sebagai hari keluarga, dengan tujuan menyampaikan visi di hati para petani lansia yang berharap adanya pewarisan dari generasi ke generasi, serta membuat generasi kedua berpikir, mungkin merawat pohon biji kamelia bisa menjadi pekerjaan ganda (slash karier), menjajaki kemungkinan untuk pulang kampung dan bertani.
Cha Tzu Tang juga berkaca pada konsep “Perkebunan Minyak Zaitun Italia”. Produksi minyak zaitun Italia hanya menyumbang 10% secara global, tetapi reputasinya terkenal di dunia internasional. Jika Komunitas Zhaoyang menjadi sebuah perkebunan minyak kamelia... Dengan ini digambarkan cetak biru pengembangan komunitas, di mana komunitas tidak boleh hanya memiliki tanaman minyak kamelia saja, melainkan harus memiliki lebih banyak industri yang dapat menarik anak muda untuk kembali ke kampung halaman.
Asosiasi Pengembangan Komunitas Naniwa awalnya memiliki sebuah restoran di samping pelabuhan perikanan. Cha Tzu Tang mengerahkan kemampuan integrasi serta keunggulan desain estetikanya, mengundang perusahaan seperti Sinyi Realty dan DBS Bank, untuk membantu renovasi estetika restoran “Naniwa Seafood” di Zhaoyang, termasuk desain menu dan papan nama. Tak disangka tempat ini berubah menjadi destinasi populer, ada wisatawan yang secara khusus datang ke Nan’ao demi Naniwa Seafood, untuk mencicipi makanan laut tangkapan segar dan sup bihun ikan layur. Restoran ini mendatangkan keramaian, menarik anak muda kembali pulang untuk bekerja.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
“Kelompok Produksi dan Pemasaran Teh Minyak Kota Su’ao Kelas 1” menerima hadiah mesin pemotong rumput dari Cha Tzu Tang. Para lansia mengatakan rasanya sangat “sù-sī” (bahasa Taiwanese yang berarti nyaman), generasi muda pun bisa merasakan pengalaman pulang kampung di hari libur dan memotong rumput dengan santai sambil “duduk”. (Foto: Cha Tzu Tang)
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Selain untuk menjaga kesehatan, minyak kamelia sering digunakan dalam menu makanan masa nifas, asupan kesehatan, dan perayaan ulang tahun. (Foto: Cha Tzu Tang)
Renaisans Budaya Minyak Kamelia
“Kami berakar di Komunitas Zhaoyang karena bahan baku, memberdayakan dengan profesionalisme, menghasilkan efisiensi di mana satu tambah satu lebih besar dari dua”, tutur Sammi Chang. Mulai dari pertanian kontrak di lahan terbengkalai, memperluas area tanam hingga membina pemuda yang pulang kampung, dari revitalisasi komunitas menua hingga kebangkitan kelestarian lingkungan.
Di masa depan masih akan mendorong “Renaisans Budaya Minyak Kamelia”. Mengambil contoh minyak kamelia untuk konsumsi, minyak ini bisa digunakan untuk menggoreng, merebus, menumis, salad dingin, hingga diminum langsung. Minyak kamelia sering digunakan pada momen-momen penuh berkah, membentuk budaya kuliner untuk masa nifas, asupan kesehatan, dan perayaan ulang tahun.
Budaya minyak kamelia juga mencakup budaya tempat produksinya, misalnya dengan menggunakan merek “Komunitas Zhaoyang” untuk memasarkan wortel, beras segar, dan biji kopi. Selain itu juga membantu Asosiasi Pengembangan Komunitas mengajukan program pemerintah, mendorong renovasi lanskap Taman Pelabuhan Perikanan Zhaoyang, menerapkan desain kolam ekologis dan platform pengamatan. Ditemani pemandangan indah Samudra Pasifik, melalui pembuatan peta wisata komunitas, upaya ini menarik wisatawan untuk melakukan tur setengah hari di Pelabuhan Perikanan Zhaoyang dan jalur setapak.
Cha Tzu Tang bekerja sama dengan DBS Bank, menyewa rumah tua untuk direvitalisasi dan dimodifikasi, membuka sebuah ruang kerja bersama dengan nama “Naniwa House 1”. Proyek ini mendorong pekerja “nomaden digital” untuk bisa tinggal di dua tempat, sekaligus merangkul pekerjaan dan kehidupan yang tenang dan damai, atau melakukan lokakarya dua hari satu malam dan wisata belajar, bahkan menarik perusahaan dari Jerman dan Jepang untuk berkunjung ke sini.
Sammi Chang mengatakan, tahun 2025 ia berencana meluncurkan wisata kecil lahan, “Seluruh Komunitas Zhaoyang adalah sebuah perkebunan”, mengundang lebih banyak konsumen perkotaan dan wisatawan internasional untuk datang melihat langsung kebun kamelia kontrak. “Italia punya minyak zaitun, Taiwan punya minyak kamelia”, memahami kebaikan biji kamelia, merasakan hasil revitalisasi komunitas, membentuk ekosistem yang dekat dengan tanah dan merasakan keindahannya.
Ini juga merupakan kejutan di luar dugaan dari “Proyek Renaisans Minyak Kamelia”, yang mendatangkan lebih banyak wisatawan untuk berkunjung dan jumlah penduduk yang kembali ke komunitas juga bertambah. Berangkat dari tanah, kembali ke tanah, mewujudkan cita-cita kehidupan yang selaras dengan laut.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Pelabuhan Perikanan Zhaoyang di Nan’ao adalah hidden gem yang cocok untuk wisata setengah hari.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)