Berlayar Keliling Pulau Menghubungkan Dunia
Impian Pendidikan Bahari SD dan SMP Yue Ming
Penulis‧Chen Chun-fang Foto‧SD dan SMP Yue Ming Penerjemah‧Maidin Hindrawan
Februari 2026
Dalam anime populer “One Piece”, Luffy dan krunya berlayar dengan Going Merry di Grand Line untuk mencari harta karun besar. Di Taiwan, ada juga sekelompok pelaut “One Piece”, yakni para siswa SD dan SMP Yue Ming. Mereka mengajak teman-teman dari sekolah lain untuk berlayar mengelilingi pulau, juga mengikuti kompetisi berlayar internasional ke luar negeri, dan memandu tim guru dan siswa Prancis dalam sebuah pelayaran. Para pelaut cilik Yue Ming menggunakan perahu layar untuk menjalin persahabatan di seluruh dunia, menulis babak baru petualangan maritim Taiwan.
“Bergandengan tangan, bersama-sama berlayar menuju samudera biru! Saya ingin menjadi raja pelaut!” Demikian slogan yang diserukan para siswa dan guru SD dan SMP Yue Ming di Kabupaten Yilan dari atas perahu layar “Barefoot” dan “Armola”. Musim panas tahun 2024, Yue Ming mengumpulkan para guru dan siswa dari 36 sekolah di wilayah pesisir Taiwan dan pulau-pulau di sekitarnya, berangkat dari Pelabuhan Su'ao untuk berlayar sejauh 1.047 mil laut (1.939 kilometer) selama 29 hari, menyelesaikan pelayaran mengelilingi Taiwan dengan arah yang berlawanan dengan arah jarum jam.
Sepanjang pelayaran, anak-anak belajar tentang terumbu karang, zona pasang surut, dan ekosistem di perairan sekitar Taiwan. Mereka juga mengumpulkan sampah laut, melakukan survei mikroplastik di lautan, dan belajar mengoperasikan instrumen survei kelautan profesional bersama para ilmuwan dari Akademi Penelitian Kelautan Nasional (NAMR) di bawah Dewan Urusan Kelautan (OAC). Melalui pelayaran langsung ini, anak-anak dapat mendekatkan diri dengan laut, merasakan keindahannya, dan belajar tentang isu-isu bahari, yang akhirnya membuat mereka memahami serta melindungi lautan Taiwan, dan menjadi anak-anak laut sejati.

Tahun 2024, Yue Ming mengumpulkan para guru dan siswa dari 36 sekolah, menyelesaikan pelayaran mengelilingi Taiwan dengan dua perahu layar besar, Barefoot dan Armola.
Melindungi Laut Kita
“Wah, alat apa ini? Kelihatannya seperti UFO!” Tanya anak-anak di atas dek dengan penasaran. Itu adalah pelampung hanyut, instrumen ilmiah yang dibawa oleh NAMR. Peneliti di Pusat Penelitian Industri dan Teknik Kelautan (Marine Industry and Engineering Research Center, NAMR), Lai Jian-wu tersenyum dan berkata, selama pelayaran para siswa berkesempatan untuk secara langsung mengoperasikan instrumen profesional yang mahal ini, semuanya mencermati dengan penuh semangat.
Mengingat keterbatasan ruang di kapal, NAMR membatasi peralatan survei untuk perjalanan ini pada alat ukur konduktivitas, suhu, dan kedalaman (CTD) air laut pada berbagai kedalaman, serta detektor bakteri Vibrio vulnificus otomatis. Anak-anak dapat mengenal langsung tentang stratifikasi air laut; mereka belajar bahwa para ilmuwan menentukan asal massa air laut dengan mengukur suhu dan salinitas, lalu menggabungkannya dengan kecepatan dan arah arus laut. Sebagai contoh, data pengukuran Arus Kuroshio di timur Taiwan akan berbeda dengan data Laut Tiongkok Selatan yang diukur di Xiaoliuqiu. Lai Jian-wu berpendapat, “Memungkinkan anak-anak untuk melihat dan mengukur secara langsung, dan mengubah pengetahuan buku teks menjadi pengalaman dunia nyata, adalah nilai utama proyek pelayaran ini.”
Selain instrumen ilmiah yang disediakan oleh NAMR, Yue Ming juga membuat jaring tarik sendiri untuk mengumpulkan sampel dari permukaan laut, mengamati distribusi dan jenis sampah laut. Dengan melihat sendiri kondisi polusi laut menginspirasikan anak-anak ingin melindungi laut.
Dalam pelayaran ini, anak-anak mengamati sekelompok tukik penyu hijau yang dengan semangat pantang menyerah berenang kembali ke laut di Penghu, melihat sekawanan camar ekor hitam di Dongyin, dan bertemu lumba-lumba di Selat Taiwan. Mereka tidur di dek saat berlayar di malam hari sambil menikmati gemerlap bintang di langit dan suara ombak laut. Bagi anak-anak, setiap tahapan pelayaran ini memberikan kejutan dan penemuan yang berbeda.

Rute pelayaran proyek “Bergandengan Tangan, Berlayar Bersama Menuju Samudera Biru” tahun 2024.

Anak-anak menggunakan jaring tarik untuk mengumpulkan sampah laut, merasakan laut dari dekat.

Para ilmuwan dari NAMR menjelaskan fungsi pelampung hanyut kepada anak-anak.
Mari Berlayar Bersama Menuju Lautan Biru!
“Kami telah mempersiapkan diri selama 16 tahun untuk memiliki sumber daya yang memadai dalam penyelenggaraan acara pendidikan bahari berskala sebesar ini,” ucap Huang Chien-jung, Kepala Sekolah SD Yue Ming. Saat baru menjabat pada tahun 2007, sekolah ini hanya memiliki 67 siswa dan hampir ditutup. Namun, ia percaya bahwa SD Yue Ming, yang terletak di dekat suaka burung air dan lahan basah tingkat nasional, memiliki sumber daya alam unik yang tidak boleh disia-siakan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menjadikan pendidikan lingkungan bahari berkelanjutan sebagai fokus utama pengembangan sekolah, dan memasukkan kelas berlayar ke dalam kurikulum.
Sebagai satu-satunya sekolah di Taiwan yang menjadikan berlayar sebagai mata pelajaran wajib, Yue Ming meneruskan eksperimen tahap demi tahap di bawah kepemimpinan Huang Chien-jung. Pada tahun 2018, “Berlayar ke Laut Biru - Proyek Pelayaran Remaja Taiwan-Jepang-Hong Kong” diluncurkan. Para guru dan siswa berlayar dari Pelabuhan Su'ao, menyeberangi Arus Kuroshio, berlayar ke Pulau Ishigaki untuk “beradu perahu” dengan remaja Jepang, dan kemudian terbang ke Hong Kong untuk melakukan pertukaran perahu layar dengan para remaja setempat.
Dalam proyek “Pelaut Cilik yang Optimistis, Impian Lautan Taiwan” tahun 2020, para siswa dan guru Yue Ming berangkat dari Pelabuhan Su'ao, berlayar mengelilingi Taiwan selama 27 hari secara estafet. Selama pelayaran, mereka juga berinteraksi dengan siswa-siswa dari sekolah-sekolah pesisir, membersihkan pantai bersama, dan mengajak mereka naik ke perahu.
Menurut Huang Chien-jung, karena telah menonton anime “One Piece”, anak-anak dari sekolah lain semua memandang dengan kagum ketika perahu layar raksasa yang sesungguhnya muncul di hadapan mereka. Saat itulah ia berjanji pada dirinya sendiri, “Beberapa tahun lagi, kita pasti harus membawa mereka berlayar bersama!” Dan benar-benar seperti Luffy dari “One Piece”, Yue Ming memimpin lebih dari 460 guru dan siswa dari sekolah pesisir lain untuk berlayar mengelilingi Taiwan secara estafet pada tahun 2024, memenuhi janji awalnya.

Kepala Sekolah Yue Ming, Huang Chien-jung memasukkan kelas berlayar ke dalam kurikulum sekolah, berharap para siswa bisa menjadikan seluruh dunia sebagai ruang kelas untuk mengubah hidup. (Foto: Chuang Kuang-ju)

Kelas berlayar Yue Ming diadakan di Sungai Dongshan di Yilan, mengajarkan keterampilan berlayar kepada anak-anak, juga menanamkan keberanian dalam diri mereka untuk menghadapi rintangan hidup. (Foto: Chuang Kuang-ju)
Apa yang Diajarkan Berlayar kepada Kita
Untuk menerapkan konsep pendidikan bahari, siswa-siswa Yue Ming mulai belajar berenang sejak kelas satu, berlayar di kelas tiga, berselancar di kelas empat, dan snorkeling serta mendayung kayak di kelas lima. Huang Chien-jung berkata sambil tersenyum bahwa menyaksikan anak-anak tumbuh besar sungguh mengharukan dan membawa banyak masukan bagi orang dewasa. “Kita semua dididik oleh anak-anak kita.” Ia membagikan video pendek yang direkam oleh salah satu orang tua. Dalam video tersebut, seorang gadis berusia sembilan tahun berlayar sendirian, bahkan setelah perahunya terbalik, ia terus mencoba dan dengan percaya diri terus berlayar maju. Huang Chien-jung mengatakan, sebelumnya, gadis kecil itu menangis ketakutan setiap kali masuk kelas, tetapi ia juga dengan berani menawarkan diri menjadi yang pertama masuk ke air. Setiap pagi, ketika melihat anak mereka berlayar keluar dari teluk, mata para orang tua berlinang air mata, “Karena anak-anak lebih berani daripada kita.”
Belajar berlayar bukan hanya sekedar olahraga, tetapi juga mencerminkan wawasan dan fakta kehidupan.
Saat angin berhembus dari depan, kita tidak dapat langsung menerobos melawannya, hanya berlayar dengan pola zig-zag baru bisa maju. Hidup pun serupa, ketika menghadapi kesulitan (angin sakal), jika melawannya secara langsung, sering kali akan terluka parah; sebaliknya kita perlu berkonsentrasi dan tahu cara memanfaatkan kekuatan angin. Huang Chien-jung berbagi, baik dalam berlayar maupun dalam kehidupan, mengikuti arah angin adalah yang paling berbahaya. Perahu biasanya paling mudah terbalik ketika berputar mengikuti angin, yang pertama karena angin kencang dan tekanan angin datang dari belakang, dan yang kedua karena orang lengah sehingga kemungkinan terjadinya kecelakaan lebih tinggi.
Bahkan dengan persiapan yang matang, situasi tak terduga bisa saja muncul, seperti kandasnya “Barefoot” di Changhua pada pelayaran tahun lalu. Meskipun sebelumnya telah melakukan survei medan dan ada panduan pilot, kapal tersebut kandas akibat pendangkalan di pelabuhan dan perubahan drastis di dasar laut. Namun, anak-anak tetap tenang dan mengikuti instruksi kapten, sehingga akhirnya berhasil lolos dengan selamat. Kemampuan beradaptasi dengan tantangan inilah yang membuat pelayaran begitu menarik, layaknya hidup itu sendiri yang juga penuh dengan ketidakpastian, hal yang tak diketahui, dan tantangan. Pengalaman melewati semua ini akan menjadi bahan cerita di masa depan, dan anak-anak yang punya pengalaman pelayaran pasti memiliki segudang kisah untuk diceritakan.

Untuk mengemudikan perahu layar Optimist, anak-anak harus belajar mengamati arah angin dan menggunakan seluruh kekuatan untuk menerobos ombak.

Petualangan luar biasa ditemukannya sebuah kamera oleh anak-anak Yue Ming selama pembersihan pantai, secara tak terduga menjalin persahabatan antara Taiwan dan Jepang.
Bersahabat dengan Dunia Lewat Lautan
Pembatasan akses ke pantai di masa lampau menjadikan lautan sebagai penghalang, tetapi lautan bukan halangan melainkan jalur penghubung Taiwan dengan dunia.
Pada tahun 2018, siswa Yue Ming menemukan sebuah kamera saat membersihkan pantai dan mengunggahnya di media sosial. Tak disangka, pemiliknya adalah seorang gadis Jepang bernama Serina Tsubakihara, yang kehilangan kamera tersebut saat menyelam di Pulau Ishigaki lebih dari dua tahun sebelumnya. Pertemuan tak terduga ini menarik perhatian media Taiwan dan Jepang.
Petualangan kamera yang luar biasa ini telah menjalin pertalian antara Yue Ming dan Tsubakihara. Ia tidak saja terbang ke Taiwan untuk mengambil kameranya dan bertemu dengan anak-anak tersebut, selang setahun kemudian seperti yang dijanjikan, ia kembali untuk menghadiri upacara wisuda mereka, hal ini membuat para siswa terkejut dan senang. Yue Ming kemudian menggunakan hubungan ini sebagai tema pertunjukan boneka yang dipentaskan keliling ke sekolah-sekolah di Taiwan, disusul kegiatan membersihkan pantai yang pasti diadakan usai setiap pertunjukan. Pertunjukan ini bahkan sampai ke Jepang, dan berhasil memikat perhatian publik.
Jauh hari sebelum kamera dari Pulau Ishigaki terdampar ke Taiwan, Yue Ming sudah menjalin komunikasi yang erat dengan Klub Pelayaran Remaja Ishigaki, berkat hubungan kota kembar antara Su'ao dan Ishigaki. Keduanya bertukar kunjungan setiap tahun dan Taiwan juga berpartisipasi dalam kompetisi berlayar internasional di Jepang. Huang Chien-jung menyampaikan, pendidikan berlayar di Ishigaki dipromosikan oleh klub-klub swasta, maka mereka sangat mengagumi Taiwan karena memiliki sekolah yang mengintegrasikan berlayar secara mendalam ke dalam kurikulumnya. Pemerintah Kota Ishigaki bahkan telah mengusulkan program pertukaran pelajar!
Setelah menyelesaikan pelayaran keliling pulau tahun lalu, Yue Ming menerima undangan dari Kantor Prancis di Taipei untuk mengajar siswa-siswa Prancis di Taiwan berlayar. Pada Mei 2025, Yue Ming memandu para siswa Prancis ini dalam pelayaran yang berawal dari Tamsui, melewati Hsinchu, Taichung, Penghu, dan Tainan, hingga akhirnya tiba di Kaohsiung untuk berpartisipasi dalam “Festival Prancis di Kaohsiung”. Berlayar telah menjadi jembatan antara Yue Ming dan dunia, juga mewujudkan ambisi Huang untuk “menyeberangi lautan dan menjalin persahabatan dengan dunia, serta menjadikan seluruh dunia sebagai ruang kelas untuk mengubah hidup.”

Pendidikan bahari menanamkan keterampilan maritim yang mendalam pada DNA anak-anak, menjadikan mereka sebagai anak-anak laut sejati.

Para pelaut muda Yue Ming menjalin persahabatan internasional melalui pertukaran pelajar dengan Klub Pelayaran Remaja Ishigaki di Jepang.




