Apa yang Diajarkan Berlayar kepada Kita
Untuk menerapkan konsep pendidikan bahari, siswa-siswa Yue Ming mulai belajar berenang sejak kelas satu, berlayar di kelas tiga, berselancar di kelas empat, dan snorkeling serta mendayung kayak di kelas lima. Huang Chien-jung berkata sambil tersenyum bahwa menyaksikan anak-anak tumbuh besar sungguh mengharukan dan membawa banyak masukan bagi orang dewasa. “Kita semua dididik oleh anak-anak kita.” Ia membagikan video pendek yang direkam oleh salah satu orang tua. Dalam video tersebut, seorang gadis berusia sembilan tahun berlayar sendirian, bahkan setelah perahunya terbalik, ia terus mencoba dan dengan percaya diri terus berlayar maju. Huang Chien-jung mengatakan, sebelumnya, gadis kecil itu menangis ketakutan setiap kali masuk kelas, tetapi ia juga dengan berani menawarkan diri menjadi yang pertama masuk ke air. Setiap pagi, ketika melihat anak mereka berlayar keluar dari teluk, mata para orang tua berlinang air mata, “Karena anak-anak lebih berani daripada kita.”
Belajar berlayar bukan hanya sekedar olahraga, tetapi juga mencerminkan wawasan dan fakta kehidupan.
Saat angin berhembus dari depan, kita tidak dapat langsung menerobos melawannya, hanya berlayar dengan pola zig-zag baru bisa maju. Hidup pun serupa, ketika menghadapi kesulitan (angin sakal), jika melawannya secara langsung, sering kali akan terluka parah; sebaliknya kita perlu berkonsentrasi dan tahu cara memanfaatkan kekuatan angin. Huang Chien-jung berbagi, baik dalam berlayar maupun dalam kehidupan, mengikuti arah angin adalah yang paling berbahaya. Perahu biasanya paling mudah terbalik ketika berputar mengikuti angin, yang pertama karena angin kencang dan tekanan angin datang dari belakang, dan yang kedua karena orang lengah sehingga kemungkinan terjadinya kecelakaan lebih tinggi.
Bahkan dengan persiapan yang matang, situasi tak terduga bisa saja muncul, seperti kandasnya “Barefoot” di Changhua pada pelayaran tahun lalu. Meskipun sebelumnya telah melakukan survei medan dan ada panduan pilot, kapal tersebut kandas akibat pendangkalan di pelabuhan dan perubahan drastis di dasar laut. Namun, anak-anak tetap tenang dan mengikuti instruksi kapten, sehingga akhirnya berhasil lolos dengan selamat. Kemampuan beradaptasi dengan tantangan inilah yang membuat pelayaran begitu menarik, layaknya hidup itu sendiri yang juga penuh dengan ketidakpastian, hal yang tak diketahui, dan tantangan. Pengalaman melewati semua ini akan menjadi bahan cerita di masa depan, dan anak-anak yang punya pengalaman pelayaran pasti memiliki segudang kisah untuk diceritakan.

Untuk mengemudikan perahu layar Optimist, anak-anak harus belajar mengamati arah angin dan menggunakan seluruh kekuatan untuk menerobos ombak.

Petualangan luar biasa ditemukannya sebuah kamera oleh anak-anak Yue Ming selama pembersihan pantai, secara tak terduga menjalin persahabatan antara Taiwan dan Jepang.