Rangkaian Kisah Kota Kecil Taiwan Sorotan Wisata Baru Dunia
Penulis‧JU Li-chyun Foto‧CHUANG Kung-ju,perjalanan,makanan,
Desember 2015
近幾年,國際媒體旅遊報導吹起「瘋台灣」熱潮,而且,還不約而同地把目光集中在台灣的「小城」。因為在民間與政府的共同協力下,台灣三百多個鄉鎮區域的魅力與豐富度已不輸大都會,甚至還散發著一股都市所沒有的迷人氣息。
到小城來做客吧!因為在這裡,不管是文化的、生態的、工藝的、農漁物產的、宗教的……,各式特色應有盡有。而且,唯有身歷其境者,才能深刻體會「小城故事多,充滿喜和樂,若到小城來,收穫特別多」的魅力。
Beberapa tahun terakhir, liputan wisata Taiwan menjadi tren di kalangan media wisata internasional. Mulai dari koran Amerika (New York Time), hingga koran Inggris (The Guardian). Mulai dari liputan TV Jepang “TV Tokyo”, hingga program siaran bahasa Inggris yang disiarkan di seluruh Asia “TLC”. Semua liputan ini memuji pesona wisata Taiwan yang cukup beragam.
Liputan mereka selalu berfokus pada “Kota kecil” yang ada di Taiwan, menelusuri Taiwan dengan cara mengikuti adat istiadat setempat, menyelami sendiri dan menyatu dengan tempat yang dikunjungi, memperkenalkan kota kecil dan industri lokal Taiwan, yang juga menggambarkan keindahan dan keramahan penduduk di pedesaan di Taiwan. Mengapa kota kecil di Taiwan bisa menjadi begitu menarik? Tempat apa saja yang harus dikunjungi oleh turis asing?
Berkat kerjasama antara rakyat dan pemerintah, pesona dan kekayaan di 300 area kota kecil Taiwan tidak kalah dengan kota metropolitan, bahkan memancarkan daya tarik yang tidak dimiliki oleh kota besar.
Ambil tas ranselmu, berwisatalah ke kota kecil di Taiwan!
Koran New York Times yang memiliki pembaca lebih dari 2 juta orang, pernah meliput kota-kota di dunia yang patut dikunjungi. Di koran edisi akhir pekannya, Taiwan berada pada peringkat ke 11. Robyn Eckhardt, penulis yang bertanggung jawab atas kolom kuliner dan wisata, mengatakan bahwa transportasi di Taiwan sangat praktis. Jika berangkat dari Taipei menuju ke selatan Taiwan, dengan menggunakan kereta api berkecepatan tinggi kemudian disambung dengan bis, hanya memakan waktu selama 4 jam untuk sampai ke Kenting, yang merupakan bagian paling selatan Taiwan. Jika dari Taipei ke arah utara, untuk tiba ke Pelabuhan Badouzi Keelung dapat dicapai dalam waktu yang cepat. Berwisata di Taiwan boleh disebut menjadi “Satu tiket untuk wisata gunung dan laut”, “Wisata kota dan pinggiran kota dalam satu kali perjalanan.”
Dan kebetulan, Koran inggris (The Guardian) juga pernah memasukkan obyek wisata Taiwan ke dalam daftar “40 obyek wisata liburan” dan mempromosikan “Makanan kaki lima” Taiwan. The Guardian menulis, sejak tahun 2013, makanan di Taiwan tiba-tiba menjadi trend di Inggris, menarik perhatian para pecinta kuliner. Pengusaha Taiwan setempat mengambil kesempatan ini, dan menyerukan slogan “Jika ingin mencicipi makanan kaki lima Taiwan yang otentik, maka harus mengunjungi Tainan”, yang selanjutnya membentuk grup wisata untuk jelajahi “Kota Benteng Tainan.”
Pesan yang disampaikan (New York Times) dan (The Guardian) cukup serempak, sama-sama mengingatkan pembaca: Taiwan pantas untuk dikunjungi, dan ciri khas obyek wisata Taiwan tidak hanya terbatas di Taipei 101, Xiaolongbao Din Tai Fung, seperti yang tertera dalam panduan pariwisata. Gaya khas kota kecil adalah pola wisata baru yang mempesona.
Telusuri Taiwan, kekuatan lembut dari pariwisata
Dalam acara TV, pesona dari kota kecil di Taiwan menjadi lebih nyata dan hidup.
Sejak tahun 2003, “Channel TLC” membuat program TV (Fun Taiwan), Janet, pembawa acara kewarganegaraan Amerika keturunan Tionghoa mengunjungi seluruh kota kecil di Taiwan, memperkenalkan budaya dan adat istiadat setempat dengan menggunakan tiga jenis bahasa, yakni bahasa mandarin, bahasa Taiwan dan Inggris. Aksinya menambah suasana dinamis yang optimis bagi kota kecil, dan dengan rating TV yang cukup tinggi, menjadikan Janet sebagai seorang bintang yang dikenal oleh semua orang.
Sejak tahun 2011, Channel TLC menambah program siaran “Tantangan Fun Taiwan,” di bawah pimpinan Janet, program ini mengundang peserta dari berbagai penjuru dunia ke Taiwan, dari Taiwan utara hingga Taiwan selatan, naik gunung dan turun ke laut, untuk menikmati secara nyata keindahan kota kecil Taiwan. Pada bulan Maret 2014 dibuatlah program (Fun Taiwan All Star), acara yang memperkenalkan kota kecil yang alami nan asri, kemanusiaan, seni, hiburan, masakan khas rakyat, serta aspek-aspek kecil dalam kehidupan.
Variety show Taiwan “Super Taste”, “Pengalaman Baru Taiwan”, dan lain-lain, mengunjungi berbagai sudut pelosok Taiwan dengan berjalan kaki. Tidak hanya menjadikan pembawa acara Hao Jiao Siang Qi dan Liao Qing-xue menjadi terkenal, penghargaan TV Golden Bell juga pernah memberikan penghargaan program TV dan pembawa acara terbaik untuk kategori “Penelusuran Terbaik”. Karena artis pembawa acara ini memiliki ciri khas humoris dalam membawakan acara, ditambah penyebaran dunia maya yang tanpa batas negara, tren ini menyapu dunia komunitas keturunan Tionghoa dalam sekejap. Bahkan di Hongkong juga terbawa tren dan mulai mempelajari “Bahasa Mandarin ala Taiwan.”
“Banyak cerita di kota kecil yang penuh dengan suka cita”. 30 tahun yang lalu, Teresa Teng mewakili rakyat jelata dengan suara merdunya. Dan kini, kota kecil Taiwan yang menyambut baik para wisatawan tetap tidak berubah, dan ditambah dengan hasil panen tanaman setempat, makanan khas, kreasi seni budaya, dan pengalaman ekologi yang memiliki unsur wisata berkualitas. Dengan daya beli yang terjangkau bisa mendapatkan keindahan, tidak heran semua orang ingin berkunjung.
Seiring dengan tren ini, penulis dalam dan luar negeri juga masing-masing mencari bahan tulisan, dan “Gambaran kota kecil” menjadi aspek yang semakin populer untuk dipelajari. Li Ang, penulis terkenal yang telah mengelilingi seluruh penjuru dunia, beranggapan bahwa dulu di matanya hanya ada “Tempat yang terbaik di dunia, tertinggi dan terbesar”, namun dalam beberapa tahun terakhir, ia mengelilingi Taiwan dengan cara “Wisata inap”. Setiap tiba di satu perkotaan, ia akan menginap dan berkeliling santai di lingkungan sekitar, mencari pengalaman tersendiri. Pada tahun 2003, Ia menerbitkan buku kuliner dan wisata “Jalan Rahasia Pencinta Kuliner”, berbagi pengalaman berwisata ke kota kecil.
Saat Li Ang berwisata ke Kabupaten Taitung, ia membicarakan ide untuk desain wanita di desa petani Chisang township, dan membahas kain khas hakka untuk kemasan tempat makanan “Nasi bermangkok besar,” dan mengunjungi toko kopi yang dibuka oleh ahli kerajinan seni pribumi, dan mengungkapkan, “Dari toko kopi dapat terlihat jalanan pertengahan di pegunungan, menyaksikan pemandangan yang indah, kosongkan pikiran, dan merenung juga merupakan pelajaran yang harus dikerjakan saat mengunjungi Taitung!”
Pembangunan wilayah setempat sebagai landasan kuat kota kecil
Menciptakan pesona kota kecil di Taiwan, tidak boleh kekurangan pembangunan dari wilayah setempat. Pembangunan wilayah setempat dalam skala besar di Taiwan digerakkan kembali, dan pada tahun 1994 diajukan kepada Badan Pembangunan Budaya (kini dikenal sebagai Departemen Budaya), hingga kini penerapannya sudah melebihi 20 tahun.
Tema pembangunan diacukan pada warga setempat dan organisasi setempat serta yayasan non pemerintah, bertujuan untuk menerapkan pemberdayaan masyarakat, dan pemerintah memberikan dukungan dengan memberikan subsidi. Organisasi yang ikut bergabung, selain Kementrian Kebudayaan, Dewan Pembangunan Kementrian Dalam Negeri juga memiliki “Perencanaan Keseluruhan Perkotaan dan Pedesaan Taiwan”, sebuah “Rencana Regenerasi Pedesaan” yang diajukan oleh Departemen Pertanian. Akan tetapi, kekuatan rakyat jelata selalu menjadi kunci utama. Tahun 1999, terjadi gempa 921 yang berskala 7.3 richter, sekitar 60 ribu bangunan rumah roboh secara keseluruhan atau sebagian, kota Nantou yang merupakan kota pusat gempa saja sudah terdapat belasan desa yang menjadi korban. Bencana ini menggambarkan kejadian yang cukup mengerikan, meningkatkan antusias dan tekad warga dalam melakukan pembangunan kembali.
Lin Jun-nan, Dosen National Formosa University jurusan hiburan dan rekreasi, masuk ke daerah Puli Nantou bersama dengan belasan pekerja komunitas guna memberikan bantuan pertama setelah terjadi bencana alam. Pada saat itu, Ia berkata, meskipun warga setempat dalam hati merasa kecewa, namun mereka tetap memiliki misi terhadap rumah yang rusak, mereka “Mengubah kondisi di saat krisis dengan sebuah perubahan, memutuskan menyelamatkan wilayah mereka sendiri”. Maka dari itu, warga tidak lagi mengeluh bantuan subsidi pemerintah yang tidak mencukupi, tetapi berinisiatif mengikuti penelitian mencari sumber daya yang diselenggarakan, mengumpulkan kelebihan yang dimiliki oleh kota yang mereka huni, dan menemukan arah pembangunan ulang serta pengembangan kota.
Yang lebih penting adalah, terhadap sumber daya yang disubsidi oleh pemerintah, komunitas masyarakat setempat memiliki prinsip tersendiri, “Tidak akan sembarangan mengubah, hanya karena terpacu pada kebijakan pemerintah, akan tetapi menentukan tujuan mereka sendiri, karena hanya warga setempat yang mengerti akan kebutuhan mereka sendiri”, kata Lin Jun-nan.
Membangun inovasi baru masyarakat dengan “Bisnis Sosial”
Lin Jun-nan beranggapan, pesona kota kecil di Taiwan, terutama berasal dari “Inovasi baru.”
Dilihat dari pandangan pemasaran, yang dimaksud dengan inovasi adalah menciptakan ciri khas, yang membedakannya dengan kota kecil lain. “Karena berbeda dengan orang lain, maka tidak dapat tergantikan”, jelas Lin Jun-nan. Oleh karena itu, komunitas yang terbentuk 20 tahun lalu, warga dan yayasan non pemerintah, perlu mengenal kembali kota kecil yang mereka tempati, mencari dasar supaya dapat berkembang lebih lanjut. Mereka menggali sejarah budaya daerah setempat, dan memadukannya dengan “Kisah perekonomian”, agar jejak sejarah dari kota kecil memiliki kisah cerita.
Ada sebagian yang menemukan kembali teknik ketrampilan khas setempat yang telah lenyap dalam beberapa tahun terakhir, dan mengembangkannya, sehingga menjadi ciri khas yang tidak bisa ditiru oleh orang lain. Bahkan ada komunitas yang ramah lingkungan, tegas berprinsip bebas bahan kimiawi, dan berhasil membangun nama kota kecil yang ramah lingkungan.
Tetapi tidak bisa dipungkiri, jika tidak ada strategi dan prinsip bisnis yang berkelanjutan, sinar pesona dari kota kecil juga berkemungkinan hanya bisa bertahan sekejap saja.
Lin Jun-nan mengambil kawasan Beixi Kecamatan Huwei di Yunlin sebagai contoh, mengingat kota kecil sendiri kekurangan sumber daya dalam kepariwisataan, warga mencoba memaksimalkan perekonomian dari tanaman jagung, mendorong pengunjung ikut turun ke ladang jagung. Menciptakan obyek wisata daerah yang cukup diminati wisatawan.
Di ladang jagung, pemanen jagung melempar hasil panen jagung ke belakang. Di bawah pencahayaan pada malam hari, terlihat seperti ikan terbang yang berwarna hijau, sehingga terbentuk obyek wisata “Melihat ikan terbang” yang istimewa. “Tidak hanya hasil akhir saja yang disebut sebagai barang produksi, setiap langkah dari proses produksi juga bisa dijadikan sebagai daya tarik dari penjualan.”, Lin Jun-nan menjelaskan.
Di sisi lain, warga menyadari bahwa hasil panen jagung kemudian tidak hanya dimanfaatkan untuk jual beli di pasaran. Konsumen, warga setempat, dan masyarakat yang datang untuk ikut memanen, semuanya adalah “Komoditi kepentingan bersama”; oleh karena itu, warga setempat kemudian memutuskan menanam jagung organik atau bebas obat-obatan, guna membangun hubungan saling percaya yang stabil antara konsumen serta pengunjung yang datang untuk ikut memanen.
Hasil produk kota kecil yang setingkat dengan merek LV
Akan tetapi, pengelolaan berkelanjutan perlu berhadapan dengan beban modal dan pendapatan, maka dari itu “Yayasan non pemerintah setempat mengubah haluan menjadi haluan bisnis” dan mendapat sambutan hangat dari warga. Maka Chai Qiong-jiao direktur utama Organisasi Budaya Budaizui Chiayi dan Yen Wen-hui direktur Organisasi Pengembangan Desa Sanjiao Kecamatan Yuanli Kabupaten Miaoli, mengajukan proposal tersebut.
Tahun 2001, ladang penjemuran garam di Kecamatan Budai di Chiayi diberhentikan. Hingga tahun 2008, baru diaktifkan kembali oleh Organisasi Budaya Budaizui, menggerakkan kembali aset obyek wisata ladang garam. Kini, ladang garam merupakan pemandangan perwujudan kemanusiaan yang paling mempesona di Kecamatan Budai. Dengan ladang garam sebagai penjembatan, Chai Qiong-jiao mengumpulkan petani dan peternak ikan ramah lingkungan yang bebas racun, mempromosikan wisata ekologi, dan melakukan penjualan di internet dengan harga terjangkau.
Kecamatan Yuanli di Miaoli dulu merupakan kota penting yang memproduksi anyaman rumput wlingi Taiwan, namun dalam proses perkembangan ekonomi, seni ketrampilan tradisional yang hampir lenyap. Organisasi Pengembangan Sanjiao Village tidak hanya menemukan kembali seni lokal, dan bekerjasama dengan Universitas jurusan desain, yang memperkenalkan tas LV (Louis Vuiiton) anyaman dari rumput wlingi, serta mengembalikan keuntungan dari penjualan produk tersebut ke Desa Sanjiao, memperdalam latihan ketrampilan dan teknik anyaman warga setempat.
Melalui latihan selama 20 tahun, kota kecil di Taiwan mulai berkembang, masing-masing dengan tema dan ciri khas yang beragam. Ada baiknya memilih hari dengan cuaca yang baik dan cerah untuk berwisata ke kota kecil di Taiwan.
Penghentian pertama, berkunjung ke kota kecil. Karena disini terdapat berbagai jenis keistimewaan, diantaranya budaya, ekologi, seni dan hasil panen dan ikan tangkapan, agama…. Lagipula, hanya orang yang mengalaminya sendiri, baru dapat merasakan pesona dari kota kecil Taiwan yang “Penuh dengan sukacita, mengunjungi kota kecil, akan mendapatkan hasil yang memuaskan.”
Katakura, penulis pariwisata Jepang, berfokus pada tulisan yang polos, yang memuji keramahan penduduk dan kekayaan alam dari kota kecil Taiwan. Dalam bukunya yang berjudul “Menemukan Keajaiban di Taiwan”, tertulis jelas pengalamannya saat mengikuti festival tradisional di pemukiman pribumi yang ada di pegunungan, acara Dewi Mazhu mengeliling Dajia yang diadakan oleh kuil, menyaksikan penyu hijau melahirkan di Penghu, belajar memetik daun teh dan proses pembuatan teh dengan petani teh di Luku Nantou, menikmati buah manga Irwin distrik Yujing Tainan, serta mendengarkan tetua warga setempat menceritakan sejarah penanaman pohon mangga sambil berusaha mencatat, bak siswa SD yang giat belajar.
“Berinteraksi di tanah Taiwan ini, bagaikan sebotol arak, yang semakin lama di simpan akan semakin wangi”, ucap Katakura menjelajahi Taiwan dengan menggunakan sudut pandang dari orang Jepang. Dan dalam tulisannya terungkap alasan mengapa dia mendekati Taiwan, yakni sebenarnya ia tertarik dengan pesona kota kecil yang penuh keakraban dengan warga dengan tanah yang dipijaknya.
Wisata kota kecil merupakan tren dunia
Sebenarnya, banyak negara di dunia telah menjadikan wisata kota kecil sebagai obyek wisata yang lebih mendalam, dan media cetak sering mendorong penduduk untuk melakukan wisata nasional.
Mulai tahun 2012 majalah ”Smithsonian” melakukan voting 20 kota kecil yang paling cocok sebagai obyek wisata selama 3 tahun berturut-turut. Peringkat pertama hasil voting di tahun 2014 adalah kota Chautauqua New York, tempat ini adalah tempat asal pendidikan orang dewasa di Amerika, yang juga merupakan tempat rekreasi yang terkenal, majalah “Forbes” pernah menamakan tempat ini dengan nama “Utopia di Amerika”, seperti tempat suci di dunia fana.
Situs berita Amerika “Huffington Post” juga melakukan voting kota kecil terkeren di seluruh Amerika, di antaranya area pengambilan film “Run Away Bride” dan “Tuck Everlasting” di Maryland Berlin, total 15 kota kecil masuk daftar voting.
Tahun 2012 Departemen Pariwisata Taiwan juga menyelenggarakan voting untuk yang pertama kali “10 obyek wisata kota besar dan kecil di Taiwan”, diantaranya yang masuk daftar hasil voting adalah Daxi Taoyuan, Lukang Zhanghua, Anping Tainan, Dajia Taichung, Jincheng Jinmen, Meinong Kaoshiung, Jiaoxi Yilan, Jiji Nantou, Ruifang New Taipei City, Beitou Taipei. Terbagi rata di berbagai wilayah Taiwan, dapat dilihat bahwa terdapat banyak sekali panorama indah di Taiwan.
September ini, Michael Yamashita fotografer “National Geographic” berkewarganegaraan Jepang, mengambil hasil voting dari Departemen Pariwisata yang memilih 10 kota besar dan kecil sebagai tema, foto hasil potretannya di pajang di pameran yang diselenggarakan oleh Washington Amerika Serikat. Rentetan foto yang menampilkan orang-orang yang menyembah Dewi Mazhu di Dajia, dan pasangan kekasih yang sedang berfoto di gang sempit Lukang, memberi kesan yang mendalam kepada ratusan orang media pers dan pengusaha wisata yang hadir di pesta pembukaan pameran.
10 obyek wisata di kota kecil menjadi topik, hingga membuat rakyat sekali lagi menyadari bahwa, kota kecil di Taiwan memiliki daya tarik yang mempesona di mata dunia internasional.
Pembangunan wilayah setempat sebagai landasan kuat kota kecil
Menciptakan pesona kota kecil di Taiwan, tidak boleh kekurangan pembangunan dari wilayah setempat. Pembangunan wilayah setempat dalam skala besar di Taiwan digerakkan kembali, dan pada tahun 1994 diajukan kepada Badan Pembangunan Budaya (kini dikenal sebagai Departemen Budaya), hingga kini penerapannya sudah melebihi 20 tahun.
Tema pembangunan diacukan pada warga setempat dan organisasi setempat serta yayasan non pemerintah, bertujuan untuk menerapkan pemberdayaan masyarakat, dan pemerintah memberikan dukungan dengan memberikan subsidi. Organisasi yang ikut bergabung, selain Kementrian Kebudayaan, Dewan Pembangunan Kementrian Dalam Negeri juga memiliki “Perencanaan Keseluruhan Perkotaan dan Pedesaan Taiwan”, sebuah “Rencana Regenerasi Pedesaan” yang diajukan oleh Departemen Pertanian. Akan tetapi, kekuatan rakyat jelata selalu menjadi kunci utama. Tahun 1999, terjadi gempa 921 yang berskala 7.3 richter, sekitar 60 ribu bangunan rumah roboh secara keseluruhan atau sebagian, kota Nantou yang merupakan kota pusat gempa saja sudah terdapat belasan desa yang menjadi korban. Bencana ini menggambarkan kejadian yang cukup mengerikan, meningkatkan antusias dan tekad warga dalam melakukan pembangunan kembali.
Lin Jun-nan, Dosen National Formosa University jurusan hiburan dan rekreasi, masuk ke daerah Puli Nantou bersama dengan belasan pekerja komunitas guna memberikan bantuan pertama setelah terjadi bencana alam. Pada saat itu, Ia berkata, meskipun warga setempat dalam hati merasa kecewa, namun mereka tetap memiliki misi terhadap rumah yang rusak, mereka “Mengubah kondisi di saat krisis dengan sebuah perubahan, memutuskan menyelamatkan wilayah mereka sendiri”. Maka dari itu, warga tidak lagi mengeluh bantuan subsidi pemerintah yang tidak mencukupi, tetapi berinisiatif mengikuti penelitian mencari sumber daya yang diselenggarakan, mengumpulkan kelebihan yang dimiliki oleh kota yang mereka huni, dan menemukan arah pembangunan ulang serta pengembangan kota.
Yang lebih penting adalah, terhadap sumber daya yang disubsidi oleh pemerintah, komunitas masyarakat setempat memiliki prinsip tersendiri, “Tidak akan sembarangan mengubah, hanya karena terpacu pada kebijakan pemerintah, akan tetapi menentukan tujuan mereka sendiri, karena hanya warga setempat yang mengerti akan kebutuhan mereka sendiri”, kata Lin Jun-nan.
Membangun inovasi baru masyarakat dengan “Bisnis Sosial”
Lin Jun-nan beranggapan, pesona kota kecil di Taiwan, terutama berasal dari “Inovasi baru.”
Dilihat dari pandangan pemasaran, yang dimaksud dengan inovasi adalah menciptakan ciri khas, yang membedakannya dengan kota kecil lain. “Karena berbeda dengan orang lain, maka tidak dapat tergantikan”, jelas Lin Jun-nan. Oleh karena itu, komunitas yang terbentuk 20 tahun lalu, warga dan yayasan non pemerintah, perlu mengenal kembali kota kecil yang mereka tempati, mencari dasar supaya dapat berkembang lebih lanjut. Mereka menggali sejarah budaya daerah setempat, dan memadukannya dengan “Kisah perekonomian”, agar jejak sejarah dari kota kecil memiliki kisah cerita.
Ada sebagian yang menemukan kembali teknik ketrampilan khas setempat yang telah lenyap dalam beberapa tahun terakhir, dan mengembangkannya, sehingga menjadi ciri khas yang tidak bisa ditiru oleh orang lain. Bahkan ada komunitas yang ramah lingkungan, tegas berprinsip bebas bahan kimiawi, dan berhasil membangun nama kota kecil yang ramah lingkungan.
Tetapi tidak bisa dipungkiri, jika tidak ada strategi dan prinsip bisnis yang berkelanjutan, sinar pesona dari kota kecil juga berkemungkinan hanya bisa bertahan sekejap saja.
Lin Jun-nan mengambil kawasan Beixi Kecamatan Huwei di Yunlin sebagai contoh, mengingat kota kecil sendiri kekurangan sumber daya dalam kepariwisataan, warga mencoba memaksimalkan perekonomian dari tanaman jagung, mendorong pengunjung ikut turun ke ladang jagung. Menciptakan obyek wisata daerah yang cukup diminati wisatawan.
Di ladang jagung, pemanen jagung melempar hasil panen jagung ke belakang. Di bawah pencahayaan pada malam hari, terlihat seperti ikan terbang yang berwarna hijau, sehingga terbentuk obyek wisata “Melihat ikan terbang” yang istimewa. “Tidak hanya hasil akhir saja yang disebut sebagai barang produksi, setiap langkah dari proses produksi juga bisa dijadikan sebagai daya tarik dari penjualan.”, Lin Jun-nan menjelaskan.
Di sisi lain, warga menyadari bahwa hasil panen jagung kemudian tidak hanya dimanfaatkan untuk jual beli di pasaran. Konsumen, warga setempat, dan masyarakat yang datang untuk ikut memanen, semuanya adalah “Komoditi kepentingan bersama”; oleh karena itu, warga setempat kemudian memutuskan menanam jagung organik atau bebas obat-obatan, guna membangun hubungan saling percaya yang stabil antara konsumen serta pengunjung yang datang untuk ikut memanen.
Hasil produk kota kecil yang setingkat dengan merek LV
Akan tetapi, pengelolaan berkelanjutan perlu berhadapan dengan beban modal dan pendapatan, maka dari itu “Yayasan non pemerintah setempat mengubah haluan menjadi haluan bisnis” dan mendapat sambutan hangat dari warga. Maka Chai Qiong-jiao direktur utama Organisasi Budaya Budaizui Chiayi dan Yen Wen-hui direktur Organisasi Pengembangan Desa Sanjiao Kecamatan Yuanli Kabupaten Miaoli, mengajukan proposal tersebut.
Tahun 2001, ladang penjemuran garam di Kecamatan Budai di Chiayi diberhentikan. Hingga tahun 2008, baru diaktifkan kembali oleh Organisasi Budaya Budaizui, menggerakkan kembali aset obyek wisata ladang garam. Kini, ladang garam merupakan pemandangan perwujudan kemanusiaan yang paling mempesona di Kecamatan Budai. Dengan ladang garam sebagai penjembatan, Chai Qiong-jiao mengumpulkan petani dan peternak ikan ramah lingkungan yang bebas racun, mempromosikan wisata ekologi, dan melakukan penjualan di internet dengan harga terjangkau.
Kecamatan Yuanli di Miaoli dulu merupakan kota penting yang memproduksi anyaman rumput wlingi Taiwan, namun dalam proses perkembangan ekonomi, seni ketrampilan tradisional yang hampir lenyap. Organisasi Pengembangan Sanjiao Village tidak hanya menemukan kembali seni lokal, dan bekerjasama dengan Universitas jurusan desain, yang memperkenalkan tas LV (Louis Vuiiton) anyaman dari rumput wlingi, serta mengembalikan keuntungan dari penjualan produk tersebut ke Desa Sanjiao, memperdalam latihan ketrampilan dan teknik anyaman warga setempat.
Melalui latihan selama 20 tahun, kota kecil di Taiwan mulai berkembang, masing-masing dengan tema dan ciri khas yang beragam. Ada baiknya memilih hari dengan cuaca yang baik dan cerah untuk berwisata ke kota kecil di Taiwan.
Penghentian pertama, berkunjung ke kota kecil. Karena disini terdapat berbagai jenis keistimewaan, diantaranya budaya, ekologi, seni dan hasil panen dan ikan tangkapan, agama…. Lagipula, hanya orang yang mengalaminya sendiri, baru dapat merasakan pesona dari kota kecil Taiwan yang “Penuh dengan sukacita, mengunjungi kota kecil, akan mendapatkan hasil yang memuaskan.”