Teh Lo Shih Chiou Shui: Berkembang Bersama Perubahan Sosial
Teh herbal cincau dapat sepenuhnya berbahan dasar cincau, tapi Teh Lo Shih Chiou Shui, merek legendaris dari kawasan kota tua di Taichung yang bersejarah lebih dari setengah abad adalah teh herbal yang memadukan berbagai bahan.
Luo Meng-zhi, generasi ketiga dari keluarga Luo, mengatakan bahwa leluhurnya berasal dari Fujian dan telah menjalankan praktik pengobatan selama beberapa generasi. Ketika suatu epidemi merebak di kampung halamannya di suatu tahun, leluhurnya Lo Chiou-shui mengembangkan resep obat cair dan membagikannya kepada penduduk sekitar, yang ternyata berhasil meredakan epidemi. Kemudian, resep ini dinamai sebagai Teh Chiou Shui.
Kakek Luo Meng-zhi, Luo Han-ping datang ke Taiwan bersama pemerintah Nasionalis dan menetap di Taichung. Ia menyesuaikan formula obat keluarganya dengan iklim Taiwan agar cocok dikonsumsi semua orang, dengan manambahkan teh oolong pegunungan tinggi Taiwan. “Orang Han memiliki tradisi menggunakan makanan untuk menyehatkan tubuh, dan teh juga merupakan obat yang baik untuk meredakan panas dalam menurut ensiklopedia pengobatan tradisional Tiongkok (Bencao Gangmu atau Compendium of Materia Medica),” tutur Luo Meng-zhi.
“Saat itu, perekonomian sedang berkembang bagus, banyak pekerja kasar yang bekerja di luar ruangan. Kakek merasa bahwa tehnya paling cocok bagi pekerja di bawah terik matahari untuk menyegarkan diri. Hanya saja karena target penjualan adalah kelas pekerja, harganya tidak bisa terlalu tinggi. Jadi, bisnisnya menargetkan margin keuntungan yang rendah dan volume penjualan yang tinggi.”
Pada awalnya, Teh Lo Shih Chiou Shui dijual melalui kios-kios pinang di pinggir jalan, tempat populer di mana orang-orang akan berkumpul untuk “mengobrol dan menyegarkan diri”. Mendeskripsikan kakeknya sebagai orang yang dapat melakukan perjalanan lintas waktu dan ruang dan meramalkan tren masa depan, Luo Meng-zhi mengatakan bahwa kakeknya membuat banyak lemari es, dan menjalin kesepakatan dengan para penjual pinang. “Jika Anda menjual teh Chiou Shui saya, saya akan meminjamkan Anda lemari es yang dapat digunakan untuk mendinginkan minuman lain pada waktu yang sama.” Dengan cara ini, Teh Chiou Shui didistribusikan melalui lebih dari 500 kios pinang di Taichung, yang membuktikan ketajaman bisnis Luo Han-ping.
Teh Chiou Shui juga telah berevolusi seiring waktu. Awalnya, teh ini dijual dalam bentuk teh balok, di mana pelanggan dapat membeli dan menyeduhnya di rumah. Seiring dengan perubahan sosial, konsumen semakin mengutamakan kemudahan dan menginginkan teh siap saji, maka Teh Chiou Shui pun mulai dikemas dalam botol kaca. Namun, transportasi terbukti menjadi tantangan, botol kaca rentan pecah, dan kebersihan juga menjadi masalah. Akhirnya, sekitar 30 tahun yang lalu, botol kaca digantikan dengan kantong aluminium foil, tapi teh hanya dapat disimpan hingga lima hari dengan cara pengemasan ini, sehingga akhirnya dikembangkanlah kaleng mudah dibuka dengan cincin tarik yang dapat disimpan selama dua tahun.
Cara pengemasan teh yang berlainan memerlukan proses produksi yang berbeda, sehingga menghasilkan variasi rasa yang agak berbeda.
Pasteurisasi dibutuhkan untuk teh kaleng, tapi gula putih dalam teh akan mengalami karamelisasi dalam prosesnya sehingga mengubah rasanya, maka digunakan gula batu dengan titik leleh tinggi.
Bahan-bahan Teh Chiou Shui cukup sederhana, terdiri dari pare, cincau, hawthorn (buah sanca), kulit jeruk kering, dan daun mint yang semuanya membantu mendinginkan tubuh dan mengurangi panas, dicampur dengan teh oolong Taiwan. Yang rumit adalah proses produksinya, jelas Luo Meng-zhi, menambahkan bahwa bahan-bahan tersebut, setelah diperoleh, harus dicuci secara terpisah dan dikeringkan di bawah terik matahari musim panas. “Baik memanggang, menggunakan inframerah, mengeringkan dalam oven, tidak satu pun yang akan berhasil. Kita harus bergantung pada matahari, kalau tidak rasanya akan tidak enak.” Untuk itu, bahan-bahannya harus disiapkan pada musim panas tahun sebelumnya.
Mendengarkan Luo Meng-zhi menceritakan kisah di balik layar ini, baru diketahui betapa besar kegigihan yang dibutuhkan untuk mempertahankan cita rasa sebuah keluarga.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Cincau juga dapat digunakan dalam masakan, seperti sup ayam cincau. Dalam foto adalah mi dingin cincau.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Teh Lo Shih Chiou Shui merupakan legenda urban yang telah diwariskan di kawasan kota tua di Taichung selama lebih dari setengah abad. Produknya dikemas dalam bentuk kantong teh, kantong aluminium foil, dan kaleng yang mudah dibuka.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Luo Meng-zhi memamerkan lemari es yang dibuat kakeknya untuk dipinjamkan ke kios pinang. Berkat ketajaman bisnis kakeknya, produk mereka dapat didistribusikan ke lebih dari 500 kios pinang di Taichung.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Masyarakat Taiwan sangat menyukai cincau dan telah mengembangkan serangkaian produk instan seperti jus cincau, teh cincau, jeli cincau, dan cincau panas.