Wajah Khusyuk Insan Religius Di balik Kamera
Chao Sheng Taiwan - Beribadah Suci di Taiwan
Penulis‧Chen Chun-fang Foto‧Chen Yi-hong Penerjemah‧Maria Sukamto
Agustus 2022
Sejak 2006 Chen Yi-hong mengabadikan gambar Dewi Mazu Baishatun berprosesi, jalur jalan tidak menentu, mengasah ketekunan dan tenaga fotografer. Setiap momen spektakuler. Terlihat di foto, Dewi Mazu Baishatun ketika balik melalui jalan raya Sibin, ada usungan dan mesin turbin angin.
俗諺說:「三月瘋媽祖,四月王爺生。」每年農曆三月開始,台灣的媽祖廟就更顯熱鬧,尤其大甲媽祖遶境進香、白沙屯媽祖進香,總吸引大批民眾跟著媽祖徒步前行,帶來一股安定的精神力量。而出生屏東東港的攝影師陳逸宏,自1990年參加大甲媽祖遶境進香後,便與媽祖結下緣分,此後30多年來,他帶著對信仰力量的好奇及專業的攝影技巧,記錄下台灣廟會祭典,並在去(2021)年集結出版《朝聖台灣》。本期《光華》,將透過陳逸宏的鏡頭,看見台灣民間信仰裡,珍貴而美麗的人文風景。
Seperti kata pepatah “Bulan tiga perayaan akbar Dewi Mazu dan bulan empat merayakan kelahiran Wangye”. Kegiatan religi di Taiwan dimulai pada bulan tiga kalender Imlek setiap tahun, yang paling semarak pada Kuil Dewi Mazu Taiwan, terutama Prosesi Arak-Arakan Mazu Dajia dan Prosesi Dewi Mazu dari Baishatun yang diikuti sejumlah besar masyarakat sambil berjalan kaki, mencurahkan kekuatan spiritual yang menenangkan jiwa.
Seorang fotografer kelahiran Donggang Pingtung bernama Chen Yi-hong sejak berpartisipasi dalam Prosesi Arak-Arakan Dewi Mazu dari Dajia pada 1990, terjalinlah ikatan jodohnya dengan Dewi Mazu, sejak saat itu selama 30 tahun lebih, ia membidik semua kegiatan ritual kuil-kuil di Taiwan ke dalam kameranya, hanya dengan mengandalkan tekad kepercayaan yang kuat, rasa ingin tahu dan teknik fotografi profesional. Pada tahun 2021 ia berhasil menerbitkan sebuah buku kumpulan foto dengan judul “Chao Sheng Taiwan” yang berarti beribadah suci di Taiwan.
Majalah Panorama edisi kali ini akan menyorot keindahan budaya religi Taiwan melalui kamera Chen Yi-hong yang tersirat dalam kepercayaan rakyat Taiwan.

Dari ketinggian Chen Yi-hong memotret kemegahan suasana Dewi Mazu Baishatun ketika tiba di Kuil Chaotian Beigang, bisa diibaratkan seperti suasana umrah di Makkah.
Dokumentasi Ritual dalam Visi Fotografi
“Guru, saya ingin melamar jadi Ji Tong (perantara roh) atau Jia Jiang (pemeran Jenderal Ba Jia Jiang).” Di masa kanak-kanak, Chen Yi-hong pernah menyampaikan cita-citanya kepada sang guru. Dilahirkan di Donggang Pingtung, dalam ingatan Chen Yi-hong, upacara ritual penyambutan Wangye yang akbar pertiga tahun sekali menjadi kegiatan terbesar di desanya, setiap warga berpartisipasi dalam peranannya masing-masing.
Ayah Chen Yi-hong adalah komandan tim pengusung tandu penyambutan Wangye di Donggang, “Sejak kecil saya memegang cambuk kuda, berpakaian penunggang kuda dan mengikuti dari belakang kuda yang ditunggangi Wangye.” Di rumahnya ada sebuah topi Ru Li peninggalan leluhur turun temurun yang melambangkan status komandan tim pengusung tandu Wangye. Chen Yi-hong dengan tegas penuh bangga mengatakan “Saya adalah pengikut Wangye Donggang untuk seumur hidup ini yang tidak akan berubah”.
Mengaku dibesarkan dalam suasana banyak upacara, Chen Yi-hong sambil tertawa mengatakan bahwa ia sejak kecil terbiasa dengan upacara akbar, sebagai contohnya upacara “Memohon air”, seratusan parade Zhentou (tīn-thâu) menelusuri pantai pesisir sepanjang jalan berkilo-kilometer, kemudian menerjang ke arah laut, sungguh suatu momen yang luar biasa. Terlebih lagi 13 jenderal perang khas Donggang, di mana wajah mereka digambari lukisan hewan, bunga, burung dan lainnya, bagi Chen Yi-hong, ini adalah budaya Taiwan yang akan memukau orang asing, dan juga membuatnya ingin mengabadikan momen luar biasa ini melalui kamera.
“Bagi saya, membidik momen-momen ritual layaknya makan dan minum air, merupakan hal yang biasa dilakukan”, ujar Chen Yi-hong.

Dalam upacara penyambutan Wangye Donggang, seorang anak laki-laki berperan sebagai Dewa Besar 5 Racun, disambut dengan sembah sujud para warga.
Utopia atas Kepercayaan Mazu
Dengan kumulatif pengalaman memotret upacara religi selama beberapa dekade, tahun lalu (2021) Chen Yi-hong menerbitkan buku “Chao Sheng Taiwan - Beribadah Suci di Taiwan, ritual pembakaran Kapal Wangye, Penyambutan Mazu, Perjalanan ritual seorang jurnalis foto selama 30 tahun”, berisi kumpulan 300 foto lebih, termasuk gambar-gambar upacara ritual atas Dewi Mazu dan Wangye, dua kepercayaan rakyat Taiwan yang utama. Demikian pula kedua dewa ini erat kaitannya dengan kepercayaan Chen Yi-hong, karena Wangye berasal dari kampung halamannya, sedangkan jodohnya dengan Dewi Mazu terjalin sejak tahun 1990.
Chen Yi-hong bergabung dalam organisasi fotografi kampus, di bawah bimbingan guru fotografi Li Kun Shan, ia pertama kali mengambil bagian dalam kegiatan Prosesi Arak-Arakan Dewi Mazu Dajia.
Bagi Chen Yi-hong yang mencintai upacara ritual dan fotografi, membidik semua yang dilihatnya ke dalam film hitam putih adalah hal yang trendi di saat itu. Ada foto suasana ketika Dewi Mazu mulai beranjak ke atas tandunya dengan dipenuhi kerumunan para umat, ia juga membidik atap Kuil Jenn Lann yang penuh kilauan bintang bergemerlapan, menandakan suatu malam nan indah. Masih ada lagi, warga memasang altar sembahyangan di depan rumah, mereka memegangi hio dengan wajah khusyuk menanti Dewi Mazu lewat, mobil petani dipakai untuk membuka jalan, sampai pemeran Jenderal Ba Jia Jiang ketika menanggalkan atributnya dan tertidur di kaki dewi, semua gambar ini terbidik oleh kamera Chen Yi-hong.
Bekal makanan yang disediakan dengan antusias masyarakat di sepanjang jalan, nenek tak dikenal memasukkan makanan ke ranselnya, seolah-olah takut ia kelaparan. Asalkan menyemat atribut fotografer Kuil Jenn Lann di lengannya, pintu rumah warga terbuka lebar, dan akan meminjamkan toilet tanpa ada rasa curiga, kalau lelah bisa tidur di hostel pilgrim, di jok mobil truk, atau tidur saja di atas gelaran tikar di bawah atap rumah, “Saya pernah tidur di pinggir jalan dengan kamera di punggung, juga tidak perlu khawatir dirampok.” Di depan para dewa, semua warga sederajat, saling mempercayai satu sama lain, penuh keharmonisan. Chen Yi-hong yang mengambil jurusan sosiologi mengemukakan, bukankah situasi seperti ini yang disebut utopia.

Pertama kali pada 1990, Chen Yi-hong membidik momen prosesi persembahyangan Dewi Mazu Dajia, menggunakan film hitam putih mengabadikan gambar-gambar sederhana mobil petani dan mobil polisi membuka jalan bagi Dewi Mazu.
Arena Pelatihan Penuh Luar Dugaan
Prosesi Mazu Baishatun hanya memutuskan kapan dimulai, masuk bersembahyang dan jadwal balik kembali ke kuil. Tetapi kapan berhenti, beristirahat tinggal di mana semua masih tanda tanya, semua harus melihat instruksi Dewi Mazu di dalam tandu, terkadang mereka harus dalam waktu 36 jam berjalan kaki dari Kuil Gongtian di Tongxiao Miaoli ke kuil Chaotian di Beigang Yunlin, dengan jarak 200 KM, bergegas cepat bagai tentara berbaris. Perjalanan seperti ini penuh dengan situasi yang tak terduga, seperti pertunjukan di panggung teater yang penuh tantangan beraksi sesuai perubahan situasi saat itu, sehingga banyak pekerja teater mengambil bagian dalam prosesi yang dipakai sebagai arena pelatihan kerja, sangat luar biasa.
Chen Yi-hong ingin menjajaki arena pelatihan di mulut pekerja teater, ia juga ingin menyelami apa sebenarnya kekuatan terpendam di balik suatu kepercayaan? Seperti yang telah dikatakan guru fotografer Huang Jian-liang kepadanya bahwa “Jawabannya ada di tempat, kamu sendiri yang harus melakoninya.”

Usai usungan Dewi Mazu berangkat, secara kebetulan Chen Yi-hong tertarik oleh seorang warga yang tengah khusyuk bersembahyang di altar Dewi Mazu di rumah kediamannya, dan menginspirasi karya serial “Saat Usungan Berangkat”.
Momen Keberangkatan Tandu di Baishatun
Untuk itu, Chen Yi-hong setiap tahun membidik prosesi Mazu Baishatun. Mengingat jalur jalan selalu tidak menentu, sebab Dewi Mazu bisa saja memasuki rumah warga, pasar swalayan, rumah sakit, pabrik dan lain-lain, begitu pula Mazu pernah berhenti tidak mau melanjutkan perjalanan, bahkan masuk ke kamar-kamar pasien. Apalagi dalam prosesi, kalau ada anak kecil meneriakkan “Nenek Mazu, aku cinta kau!” Dewi Mazu akan segera berhenti, membiarkan anak kecil itu merangkak di bawah tandunya, ini melambangkan terhapusnya bala, sial dan memberikan keberuntungan kepadanya. Untuk menangkap momen Dewi Mazu Baishatun, Chen Yi-hong sempat memikul perangkat fotonya yang sangat berat, berjalan sepanjang Jembatan Siluo, dan juga pernah pada pukul 5 subuh ia sudah bersiap menunggu di persawahan selama 2-3 jam lamanya, hanya untuk menangkap momen Dewi Mazu melewati hamparan sawah padi yang hijau dengan suasana riuh rendahnya dari suara petasan yang menyambut.
Chen Yi-hong sudah mengabadikan momen Prosesi Dewi Mazu Baishatun ke kamera lebih dari sepuluh tahun, suatu kali, setelah selesai membidik tandu Mazu berangkat, secara kebetulan ia lewat di depan rumah warga yang penghuninya dalam keadaan berpakaian rapi, walaupun waktu itu masih pagi-pagi sekali. Warga tersebut dengan khusyuk menyembahyangi patung Dewi Mazu di altar rumah, suasana hening penuh kekuatan itu membuatnya terharu, dan dari situ terbersit niat untuk membuat serial foto rumah-rumah warga menjelang keberangkatan Mazu dengan tema “Saat Usungan Berangkat”, mencatat momen-momen indah.
Chen Yi-hong mengungkapkan, setiap kali menyebutkan prosesi, umumnya berfokus pada Dewi Mazu dan tandu, tetapi bagi masyarakat Baishatun sendiri, yang mengikuti prosesi mungkin hanya 5% saja, sedangkan sisanya yang 95%, mereka tidak tidur, melainkan bersembahyang di rumah dalam waktu bersamaan, hati mereka selalu menyertai Dewi Mazu. “Karena ini adalah kepercayaan warga Baishatun dan juga cikal bakal dari prosesi persembahyangan tersebut.

Chen Yi-hong menyertai barisan arakan Dewi Mazu kedua berkeliling desa, merasakan keyakinan kuat warga ketika sakit pun menantikan kedatangan Dewi Mazu kedua yang menyelusup ke jalan setapak kecil di daerah pegunungan untuk memberkati masyarakat, terlihat dalam foto nenek kampung Neidao diberkati Mazu dan Wangye.
Prosesi Dewi Mazu Kedua
Sehari sesudah prosesi dan Dewi Mazu Baishatun sudah kembali ke kuil, tibalah saatnya bagi Dewi Mazu kedua berkeliling desa yaitu melakukan prosesi akbar yang lain di Baishatun, Dewi Mazu bermuka hitam dari Kuil Gongtian dan patung Dewi Mazu pinggir gunung yang sudah menyertai Mazu Baishatun berprosesi, serta dewa-dewa lainnya, mereka berarak-arakan melintasi daerah pegunungan, menelusuri jalan-jalan kecil di daerah pedesaan Baishatun, tujuannya adalah menyebarkan rezeki kesejahteraan yang diberikan oleh Dewi Mazu besar kepada seluruh warga. Dan inilah makna dari keseluruhan prosesi.
Setelah bertahun-tahun berpartisipasi dalam prosesi Dewi Mazu kedua berkeliling desa, Chen Yi-hong mendapatkan seorang sahabat yang tidak diketahui namanya, ia menyebutnya sebagai nenek kampung Neidao. Pada 2015 dalam suatu kesempatan yang kebetulan sekali, Chen Yi-hong mendapati nenek berpakaian rapi sedang berdiri di depan rumah tradisionalnya menyambut Dewi Mazu kedua, lalu dijepret oleh kameranya. Selama 5 tahun berturut-turut, setiap kali Dewi Mazu kedua berkeliling desa, Chen Yi-hong pasti memotret nenek kampung Neidao juga. Pada 2020, seperti biasa Chen Yi-hong mendatangi rumah yang sudah sangat ia kenal itu, tetapi tidak melihat kehadiran sang nenek, dalam hati muncul firasat tidak baik. Dari cerita tetangga, nenek telah berpulang sepekan sebelum acara prosesi. Kepergian nenek membuatnya sangat sedih dan menyadari bahwa kehidupan ini penuh dengan ketidakpastian. Meskipun sang nenek sudah tiada, ia tetap ke depan rumah nenek, tahun lalu, tahun ini, tahun depan pun ia akan mendatanginya terus, asalkan ia menghadiri prosesi Mazu kedua berkeliling desa, ia akan terus ke sana seperti dulu bersama-sama sang nenek menantikan kedatangan Dewi Mazu. Chen Yi-hong dengan tegas mengatakan inilah janji pertemuan setahun sekali dengan sang nenek.
Kodrat Suatu Kepercayaan
Chen Yi-hong mendapatkan julukan “halilintar” dari kalangan fotografer karena gerakannya yang gesit dan cepat, pernah suatu kali ketika sedang memotret acara prosesi Dewi Mazu kedua keliling desa, sekujur pahanya kejang, ia hanya bisa berbaring di tempat menunggu rasa sakit mereda, dalam keadaan tak berdaya ia melihat arakan mulai menjauh, tanpa terasa ia mengeluh kepada Dewi Mazu. Tidak lama kemudian, ia melihat arakan tandu Dewa Pangeran III bersiap untuk balik ke kuil, sedangkan di sebuah gang sebelah kiri ada seorang nenek duduk di kursi roda, secara naluri ia bergegas menghampiri sang nenek. Dan sungguh luar biasa, tandu yang semula berjalan lurus ke depan, tiba-tiba oleng ke arah nenek dan memberikan berkat kepadanya. Gambar momen sang nenek berdialog dengan Dewa Pangeran III, telah masuk dalam bidikan kamera Chen Yi-hong yang saat itu sudah berlinangan air mata haru.
“Kalau bukan kaki kejang, saya sama sekali tidak mungkin menjepret momen itu.” Chen Yi-hong seketika mendapatkan pencerahan bahwa kepercayaan masyarakat yang paling orisinal bukanlah dewa duduk di altar menanti disyukuri, melainkan kepercayaan ini meresap dalam kehidupan warga, hidup berdampingan turut merasakan suka duka warga, ketika dibutuhkan, dewa sudah berdiri di samping, Chen Yi-hong beranggapan itulah sebabnya mengapa masyarakat begitu mempercayai dan menghormati para dewa dan keyakinan ini tak tergoyahkan. Apakah buku “Chao Sheng Taiwan-Beribadah Suci di Taiwan” akan ada buku lanjutannya, Chen Yi-hong berniat untuk membuat sebuah buku berjudul “Ruo Ji Ruo Li-Jarak”. Berbeda dengan buku “Chao Sheng Taiwan” yang merekam karya selama 30 tahun, kali ini ia ingin berkunjung ke pulau-pulau lepas Taiwan, seperti Penghu, Kinmen, Matsu, Xiao Liuqiu, karena kepercayaan warga setempat lebih kental orisinalitasnya, yang membuatnya terpukau.
Dan bagi Chen Yi-hong terbitnya buku Chao Sheng Taiwan bukanlah akhir peliputannya terhadap upacara ritual, melainkan sudah titik awal.