“Ko-Tong” Zhuzihu Pulihkan “Varietas Nakamura”
Pada musim dingin di bulan Desember, gerimis menerpa Zhuzihu, dengan suhu 5 derajat Celsius lebih rendah hampir dibandingkan dengan suhu kota, kabut awan pada puncak gunung nun jauh di sana, terasa puitis saat berjalan di sepanjang jalan pegunungan yang berkabut. Pada saat ini, petani bunga sekaligus koordinator dari Ko-Tong Rice Club, Chen Yong-ru, membawa tiga kantong kecil berisi “beras Nakamura” yang telah dijemur matahari ke Sekolah Dasar Hu-tian Experimental untuk meminjam mesin penggiling padi.
Mesin winnover (alat untuk memisahkan biji-bijian atau gabah dari kotoran) kuno yang dibeli secara online tampak usang, Chen Yong-ru dengan kaki dan tangan yang cekatan menuangkan padi ke dalam wadah, tangan kanannya memutar gagang mesin, tangan kirinya menggoyangkan wadah ke atas dan ke bawah agar padi dapat dengan mudah masuk ke kotak winnover.
“Anda lihat, yang melayang keluar adalah cangkang kosong.” Ujar Chen Yong-ru sambil menunjuk sekam padi yang tertiup angin, sekam dan benda-benda ringan lainnya akan melayang keluar tertiup angin, sementara butiran beras yang lebih berat akan jatuh dan masuk ke lubang keluar yang miring.
Demikian padi dimasukkan ke mesin winnover seperti ini berulang kali untuk penyaringan kotoran, selanjutnya butiran-butiran padi padat dimasukkan ke dalam mesin penggiling sekam kulit padi. Pertama-tama mengupas sekam, baru kemudian menghilangkan dedak, terakhir menggiling untuk menghasilkan beras bersih. Sekam dan dedak digunakan sebagai pupuk organik, sedangkan beras bersih digunakan sebagai makanan. “Beras yang baru digiling adalah yang paling lezat, jangan ditaruh terlalu lama, nanti aromanya akan cepat hilang.” ujar Chen Yong-ru.
Keesokan harinya, sekitar 20 dari anggota Ko-Tong Rice Club dan relawan “The Eikichi Iso Historical Association” berkumpul di restoran Miauban Garden, menikmati hidangan dengan ditemani nasi varietas Nakamura, sambil berbagi pengalaman dan daya tarik bertani padi dan bunga kala lili. Beras merangkai kehangatan kehidupan desa pertanian.
Beras Taiken No. 9 yang umum dikonsumsi masyarakat saat ini, butirannya bening dengan tekstur kenyal, kami mengamati beras Nakamura berwarna agak putih, butiran tengah bergaris coklat, beraroma lembut nasi, rasanya lebih keras dan kenyal.
“Ini adalah beras dengan rasa yang paling lezat pada waktu itu (masa kolonial Jepang). Saat ini, bagi Ko-Tong Rice Club, varietas Nakamura ini adalah beras yang memiliki kisah, bukan sekedar enak atau tidaknya untuk dikonsumsi.” tutur Chen Yong-ru.

Para petani di Zhuzihu membentuk Ko-Tong Rice Club, membudidayakan kembali “nenek moyang” beras penglai varietas Nakamura seabad yang silam.