Rasa Terselubung dari Obat Tradisional
Kilas Balik dan Transformasi Toko Obat Tradisional Kuno
Penulis‧Lynn Su Foto‧Lin Min-hsuan Penerjemah‧Amina Tjandra
Juni 2024
sumber City Explorer
Berjalan hingga ke ujung gang, ada kalanya kita dapat menemukan toko obat tradisional Tionghoa yang sudah gulung tikar. Akan tetapi budaya, pengetahuan dan adat istiadat konsumsi obat tradisional telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Taiwan. Mari kita kilas balik melihat sumber penting landasan budaya ini!
Jalan tua Beimen di kota kuno Zhuqiancheng pernah menjadi jalur penting pendistribusian logistik untuk kawasan Taiwan Utara, meskipun arus manusia tidak seramai dahulu, ada sebuah toko obat tradisional Hong An Tang di dalam fasad bangunan bergaya barok yang elegan, terletak berseberangan dengan kuil Changhe tua yang berusia ratusan tahun, toko obat ini tetap setia mempertahankan usaha bisnisnya di jalan tua ini.
Disambut hangat oleh generasi ke-4 pemilik toko obat ini yakni dua bersaudara Robbie Hsieh dan Stanley Hsieh, membuat kami seolah-olah memasuki koridor masa lalu.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Bangunan toko obat tradisional Hong An Tang di Hsincu berusia lebih dari ratusan tahun, mewariskan jejak sejarah kuno dan antik.
Pengobatan ala Tiongkok, Obat Tiongkok dan Budaya Tiongkok
Sebelumnya Hong An Tang adalah toko obat Senmao yang dirintis oleh Xie Sen-hong, kakek buyut dari Robbie Hsieh dan Stanley Hsieh. Silsilah keluarga Hsieh adalah keluarga terpelajar yang berasal dari bangsawan dinasti Jin Timur bernama Xie An. Xie Sen-hong bersama anak sulungnya, Xie Lin-ji aktif dalam perkumpulan sastra dan pernah menjadi sastrawan lokal yang sangat aktif.
Interior toko tetap seperti yang dulu, seolah-olah disegel dalam kapsul waktu sehingga dapat merasakan situasi pendahulu yang sedang bekerja. Lemari obat yang menjulang tinggi, dipenuhi kotak-kotak laci yang menyimpan berbagai bahan obat, sedangkan lemari pendek yang lebar digunakan menjadi meja kerja untuk membantu pelanggan memeriksa denyut nadi, meja kerja untuk menaruh dan meramu obat herbal pada siang hari, pada malam hari menjadi meja yang digunakan kakek buyut dan kakek untuk berkarya dan menulis puisi.
Stanley Hsieh mengatakan, di masa lalu toko obat ini beroperasi sepanjang tahun tanpa istirahat, bahkan sampai malam hari, selama di rumah ada anggota keluarganya maka masih bisa melayani pelanggan yang datang ke toko, menyediakan layanan darurat untuk pelanggan, sehingga sulit bagi mereka untuk mencegah serangga-serangga yang masuk ke dalam rumah mereka.
Untuk mengusir serangga, Xie Sen-hong mengambil bahan herbal dari lemari obat dan meramu menjadi bungkusan obat pengusir serangga, kemudian secara perlahan-lahan menjadi obat anti serangga bermerek Hong An Tang. Bungkusan kain katun putih yang berisikan 8 macam bahan herbal seperti cengkeh, daun mugwort (ai cao), daun mint Korea dan lainnya, setelah digosok dengan perlahan maka akan mengeluarkan aroma kuat yang membuat serangga-serangga menjauh.
Yang tidak dapat dipungkiri bagi toko obat tradisional Tiongkok saat ini, “obat” bukan lagi menjadi produk penjualan utama. Setiap minggu mereka tetap menggiling merica putih dan merica hitam, setiap bulan mengiris tang kuei (Angelica sinensis), bahan-bahan yang diolah mengandung banyak minyak esensial sehingga menghasilkan aroma yang kuat, jauh lebih segar dibandingkan dengan yang dijual di hipermarket, yang tersimpan lama atau dicampur dengan bahan aditif.
Selain itu, tetap berpegang pada konsep pengobatan Tiongkok membuat teh herbal Tiongkok, yang mempertahankan praktik-praktik masa lalu, berat satu bungkusan teh bisa mencapai 20 gram yang berisikan bahan-bahan herbal yang padat seperti bunga krisan (Chrysanthemum grandiflorum) yang besar, dansen (Salvia miltiorrhiza) yang utuh dan sangjisheng (Taxillus chinensis), memiliki penyajian yang berbeda dibandingkan produk minuman kemasan sachet yang sering ditemui, hanya 3-5 gram dengan bahan-bahan digiling halus. Inilah yang menjadi alasan bagi pelanggan untuk tetap membeli produk minuman herbal di toko obat tradisional.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Generasi keempat pemilik Hong An Tang, Stanley Hsieh.
Bagaikan Kuil Dewa Tanah dan Toserba Pada Masa Itu
Berbeda dengan masyarakat modern yang menitikberatkan pembagian spesialis dalam berbagai bidang, usaha obat tradisional Tiongkok dalam masyarakat tradisional tidak hanya semata-mata untuk pengobatan medis. Pada masa lalu, peranan obat tradisional Tiongkok selalu ada dan tidak terpisahkan dalam siklus kehidupan manusia sejak dilahirkan, menjadi tua, menderita sakit sampai meninggal dunia.
Minuman herbal Sheng Hua Tang yang diminum pasca melahirkan atau keguguran, resep obat yang diberikan dari kuil, rempah-rempah dapur seperti merica putih dan merica hitam, bahan terapi makanan Tionghoa, salep Tzu-yun (Purple Clouds Ointment) yang menyembuhkan luka dengan segera, bubuk pembersih gigi, bahkan pewarna rambut, semuanya tersedia di toko obat tradisional Tiongkok, layaknya toserba yang melayani aneka kebutuhan tetangga. Lu Jun-xiong selaku pemilik generasi ketiga toko obat tradisional Tiongkok Shunchang di Distrik Fengshan, Kaohsiung mengenang masa lalu dan mengatakan, “Hanya istirahat sehari saat perayaan tahun baru imlek, toko dibuka 364 hari dalam setahun.”
Toko obat tradisional Tiongkok juga disebut sebagai toko obat, akan tetapi cakupan pelayanannya jauh melampaui “obat”. Karakteristik ini membuka jalan usaha bagi toko obat tradisional Tiongkok tetap eksis hingga sekarang.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Kantong pengusir nyamuk ramuan dari kakek Xie Sen-hong, yang mengandung 8 macam bahan herbal.
Di Laci Obat Adalah Bahan obat, Di Dapur Menjadi Rempah-rempah
Bagi masyarakat Taiwan, pengobatan ala Tionghoa bukan sekedar obat melainkan makanan yang berkhasiat obat. Dalam beberapa tahun terakhir, lada Sichuan (Zanthoxylum bungeanum) yang diolah menjadi minyak, selain menjadi bahan utama untuk makanan Mala hot pot, dari sudut pandang pengobatan tradisional Tionghoa juga dapat digunakan sebagai bahan obat analgesik dan pembiusan (anestesi). Dapat dikatakan untuk satu produk yang sama, “Ketika di dalam laci obat adalah obat, jika digunakan untuk keperluan dapur maka berubah menjadi bumbu rempah-rempah.” ujar Lu Chun-chin, generasi ketiga pemilik toko obat tradisional Tionghoa Shunchang menyimpulkannya dalam dua kalimat.
Meskipun pengetahuan akan penggunaan obat tradisional Tionghoa masih kurang, akan tetapi eksistensi obat tradisional Tiongkok sangat umum, jauh melampaui yang kita bayangkan. Selain beberapa rempah-rempah yang menjadi bumbu dasar di dapur seperti merica hitam, merica putih, lada Sichuan, pekak atau bunga lawang, terapi makanan Tionghoa yang sering ditemui di pasar malam seperti: Siwu, Bazhen, Shiquan, beberapa menu makanan yang sangat disukai masyarakat Taiwan seperti hot pot daging kambing, hot pot bebek jahe, bahkan telur teh (chayedan), nasi daging cincang (luroufan), beberapa makanan ini diperlezat dengan bahan obat.
Eksistensi obat-obat ini malah tidak disadari orang-orang, “Ini dikarenakan cara masyarakat Tionghoa mengolah rempah-rempah berbeda dengan masakan ala India, cara pengolahan masakan kami, rempah-rempah berubah menjadi 『aroma rasa yang terselubung』”.
Lu Chun-chin yang tumbuh berkembang di toko obat tradisional, sejak kecil menyukai bermain di dapur bersama ibunya, mengumpulkan pandangan tentang makanan-minuman dan bahan-bahan obat yang kemudian dituangkan ke karya tulis dalam buku “An Encyclopedia of Chinese Spices”. Ia sangat menguasai dapur dan familiar dengan rempah-rempah, hingga saat ini menjadi konsultan untuk beberapa restoran.
Lu Chun-chin mengatakan, perpaduan antara toko obat tradisional dan usaha makanan-minuman, sebenarnya telah terjalin sejak dikelola oleh ayahnya Lu Shun-fu. Ia membuka laci dari lemari pendek, mengeluarkan satu buku catatan yang usang, di dalamnya terdapat resep tulisan tangan yang bertahun-tahun lamanya (usaha obat tradisional Tiongkok disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan dan resep disimpan permanen di toko). Selain resep obat asma yang ampuh tersebar dan diketahui warga sekampung, resep obat untuk melancarkan peredaran darah yang dipesan khusus oleh pakde tetangga sebelah rumah, masih ada resep kepiting rebus dari tetangga, resep rahasia khusus dari penjual pinang dan bumbu rahasia khusus yang ditunjuk oleh pemilik toko bebek panggang yang populer.
Memperkaya obat tradisional melalui penggunaannya dalam pengolahan makanan menjadi upaya intensif yang dikembangkan oleh 3 bersaudara keluarga Lu. Lu Chun-chin mengadopsi nama ayahnya dan memberi nama Fubo Bencao sebagai merek produk rempah-rempah, dan meluncurkan bubuk rempah kering seperti kantong bumbu, bumbu ngo hiong (5 rempah), bumbu 13 rempah, yang digunakan untuk memarinasi daging babi. Untuk toko online dikelola oleh adik perempuan, Lu Shu-ju menggunakan merek Chiu Shih Chi (97) Shi Tang untuk menjual paket masakan instan seperti Mala hot pot, kubis asam dan lainnya. Meskipun toko obat tradisional tidak akan dapat menikmati kejayaan seperti di masa lalu, tetapi beberapa produk yang menggiurkan ini, secara implisit memberitahu toko obat tradisional tidak akan pudar sepanjang masa.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Setiap laci obat, berisikan resep toko obat yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, dibalik laci memiliki kisah cerita tersendiri.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Masyarakat Taiwan menyukai makan hot pot, bahan kaldu dari hot pot daging kambing, hot pot bebek jahe, Mala hot pot dan lainnya mengandung obat tradisional.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Penerus toko obat tradisional Shunchang, generasi ketiga yang terdiri dari (dari kiri ke kanan) Lu Chun-chin, Lu Jun-xiong dan Lu Shu-ju, menggali kemungkinan inovasi yang berorientasi pada pengobatan tradisional Tiongkok.
Dadaocheng: Sumber Industri Pengobatan Tradisional Tiongkok
Berbicara tentang industri obat tradisional Tiongkok maka harus mengungkit pedagang dan toko yang berkumpul di Dadaocheng, yang menjual bermacam-macam produk tradisional seperti obat tradisional Tiongkok, produk sembako, teh, kain dan lainnya. Jalan Dihua yang tidak panjang namun di dalamnya terdapat puluhan toko obat tradisional. Di tempat ini tidak hanya dikunjungi oleh warga Taiwan saja, tetapi juga warga asing dari Hongkong, Makau, Jepang dan Korea secara khusus mampir berkunjung ke obyek wisata penting ini.
Mengapa Dadaocheng menjadi lokasi penting untuk bahan obat tradisional Tiongkok? Direktur Jenderal Asosiasi Promosi Pengembangan Distrik Dihua Kota Taipei, Chen Shih-che angkat bicara tentang jalan Dihua di masa lalu dan sekarang. Setelah penandatanganan Traktat Tianjin pada tahun 1858, pelabuhan Tamsui dibuka untuk perdagangan luar negeri, pengusaha Inggris John Dodd bekerja sama dengan pedagang dari Xiamen Li Chun-sheng, memasok bibit teh dari Anxi, Provinsi Fujian, untuk dibudidayakan di Taiwan, setelah proses pemanggangan di Dadaocheng baru diekspor keluar negeri. Seiring dengan meningkatnya perdagangan, ditambah lagi cakupan produk komoditi yang tumpang tindih seperti teh, obat tradisional Tiongkok, produk sembako dan lainnya, kemudian pengumpulan, pendistribusian, dan pemasaran beberapa produk komoditi mengakar di tempat ini.
Dalam industri pengobatan tradisional Tiongkok di Taiwan, pelaku usaha di lokasi ini memiliki pengaruh besar, sedangkan bagi konsumen, tempat ini bagaikan surga belanja menjadi pusat perbelanjaan terlengkap, paling segar dan menyediakan barang-barang mewah.
Mengitari jalan Dihua, semua pedagang memiliki satu karakteristik yang cukup jelas yakni, daya tanggap yang lincah, mampu memahami situasi saat ini dan fleksibel melakukan perubahan.
Karakteristik seperti demikian menggemakan sejarah perkembangan jalan tua. Pada tahun 1996, sebelum malam perayaan Tahun Baru Imlek ada fenomena “pasar berakhir”, yang memadukan festival rakyat dan promosi pemasaran “barang kebutuhan untuk perayaan Tahun Baru Imlek” yang meriah.
Membawa misi merevitalisasi industri tradisional dan martabat dari Dadaocheng, seiring dengan kawasan jalanan yang berubah dan berorientasi menjadi obyek wisata, ditambah lagi perubahan konsumsi pasar, serta diambil alih oleh generasi penerus, berbagai faktor memengaruhi, membuat toko-toko di tempat ini, mau tidak mau mencoba sekuat tenaga untuk tetap eksis, selain mempertahankan pelanggan lama, juga aktif menjajaki peluang bisnis.
Karena itu, bermunculan desain merek yang lebih khas dan kompetitif dilengkapi dengan deskripsi produk dalam multi bahasa seperti Bahasa Jepang, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin dan lainnya. Beberapa produk dalam kemasan kecil semakin populer, yang ditargetkan untuk keluarga kecil atau kelompok lajang, produk kemasan terapi makanan Tiongkok tinggal dibuka dan dipanaskan sudah dapat disantap, berbagai produk seperti kemasan bumbu anggur merah yang didesain untuk kelompok muda, menyesuaikan pola kebiasaan dan tren pola makan untuk meluncurkan produk baru. Saat bersamaan, tidak hanya pelayanan toko fisik saja, tetapi hampir setiap toko terhubung dengan usaha dalam dunia maya, secara serentak memperluas bisnis online.
Berkat strategi bisnis baru ini, setelah perkembangan pengobatan tradisional Tionghoa melampaui perbatasan negara, membuat orang-orang menyadari perbedaan budaya heterogen dan di tengah kehidupan modern tidak boleh mengabaikan potensi budaya dan komersial.
Sama seperti Dadaocheng yang telah mengalami pasang surut selama ratusan tahun, hingga kini tetap kokoh tak tergoyahkan, di masa mendatang peranan industri pengobatan tradisional Tiongkok akan semakin meluas dan beragam, akan terus melindungi keseharian masyarakat Taiwan.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Kayu manis、Kulit jeruk Chenpi、Amomum Tsaoko、Sanca、Pekak (bunga lawang)、Amomum villosum、Akar manis Tiongkok 、Lada Sichuan、Jahe kering、Jintan、Bai Zhi (Angelica dahurica)、Pala、Lengkuas
-
“Bumbu 13 rempah” dijuluki sebagai bumbu ngo hiong lanjutan, menjadi rempah-rempah yang umum dipakai di Taiwan, dapat digunakan untuk bermacam cara pengolahan masakan.
.jpg.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Bahan obat tradisional Tionghoa seperti Rosella, Sanca dan lainnya sering ditemui pada racikan minuman. (sumber: City Explorer)
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
Dadaocheng dijuluki sebagai “jalan tua yang hidup”, toko obat tradisional bertransformasi di sini, terjalin dengan masyarakat modern dan berintegrasi dengan budaya lintas negara.
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)
.jpg?w=1080&mode=crop&format=webp&quality=80)