Destinasi Wisata Sumber Air Panas
Berendam di Beitou, Pemandian Kaya akan Sejarah
Penulis‧Chen Chun-fang Foto‧Jimmy Lin Penerjemah‧Yunus Hendry
Februari 2026
Beitou memiliki Sumber Air Panas Toska yang mengandung radium, salah satu dari hanya dua yang ada di dunia, jenis dan kualitas sumber air panas yang beragam, serta budaya Nakasi (pertunjukan musik keliling) dan kuliner kelas atas yang lahir dari keberadaannya, semakin memperkaya corak budayanya.
Di Lembah Geotermal yang sepanjang tahun diselimuti uap, Anda dapat menikmati pemandangan indah “Embun Giok Sumber Air Belerang”.
Hati-hati! Sumber Air Panas Ini Mengandung “Radium”
Dengan dipandu oleh juru cerita Beitou, Lin Chih-hai, menyusuri Sungai Beitou sambil perlahan menanjak, aliran air deras selokan kecil di tepi jalan bahkan masih mengepulkan uap. Lin Chih-hai menjelaskan, ini semua adalah sumber air panas, tetapi airnya mendidih jadi tidak boleh disentuh.
Menyusuri kabut dari uap air panas ini hingga tiba di Lembah Geotermal, di mana terdapat sebuah kolam rendam tangan penyambutan berbentuk Pulau Taiwan. “Ini adalah air panas yang dialirkan dari Lembah Geotermal, airnya jernih dan dengan warna sedikit kehijauan, secara umum dikenal sebagai ‘Sumber Air Belerang Toska'. Nilai pH Sumber Air Belerang Toska sekitar 1 hingga 2, tergolong asam kuat. Tingkat keasaman ini setara dengan asam sulfat……” Mendengar penjelasan Lin Chih-hai, kami terkejut dan menarik kembali tangan kami. “Namun, Sumber Air Belerang Toska tidak seperti asam sulfat atau asam klorida yang sangat korosif. Setelah berendam, cukup dibilas dengan air bersih tanpa perlu menggunakan sabun, jadi aman……,” tambah Lin Chih-hai.
Sumber Air Belerang Toska di Beitou juga memiliki julukan lain, yaitu “Sumber Air Radium”, karena mengandung unsur radioaktif “radium”. Penelitian medis di Jepang menemukan bahwa kualitas sumber mata air radioaktif semacam ini memiliki efek menghilangkan kelelahan dan meredakan nyeri otot serta tulang. Lin Chih-hai dengan bangga menyampaikan bahwa sumber mata air panas yang begitu langka ini, di seluruh dunia hanya ada di Pemandian Sumber Air Panas Beitou di Taiwan dan Pemandian Sumber Air Panas Tamagawa di Prefektur Akita, Jepang.
Lembah Geotermal, yang sepanjang tahun diselimuti kabut uap, saat mendekat kami sudah dapat merasakan hawa panasnya. Kolam sumber mata air panas yang terbuka seluas 2.800 meter persegi ini dengan suhu air rata-rata di atas 70°C, ada beberapa titik mencapai 90 - 100°C, pada permukaan airnya terlihat gelembung-gelembung mendidih, memenuhi imajinasi orang tentang neraka air mendidih dalam legenda Buddhis. Tidak heran jika Lembah Geotermal pada masa pendudukan Jepang disebut sebagai Lembah Neraka.
Karena perbedaan ketinggian, Sungai Beitou membentuk beberapa air terjun kecil, yang dari hilir ke hulu secara berurutan dinamai Air Terjun Pertama, Air Terjun Kedua... hingga Air Terjun Kelima.
Tanah Diberkati Para Dewa
Beitou yang dikelilingi oleh jajaran pegunungan Datun, ditambah kabut yang senantiasa menyelimuti dari panas bumi, terlebih saat gerimis di musim dingin, membuat keadaan seluruh kota kecil yang diselimuti kabut tipis ini menjadi semakin kentara, seolah ada seorang dukun yang sedang merapal mantra. Suku penduduk asli Ketagalan yang lebih dahulu mendiami tempat ini menyebutnya “patauw”, yang berarti tanah para penyihir, dan inilah yang menjadi asal-usul nama Beitou, melukiskan aura nirwana yang misterius.
Menyebut Beitou memiliki aura nirwana bukanlah sebuah reputasi tanpa dasar. Sumber daya mata air panas yang melimpah, tidak hanya memiliki Sumber Mata Air Belerang Toska dari Lembah Geotermal, tetapi juga Sumber Mata Air Panas Belerang Putih Buram, Sumber Mata Air Panas Belerang Endapan Besi, Sumber Mata Air Panas Lumpur, menjadikannya salah satu dari sedikit wilayah yang memiliki beragam jenis kualitas sumber mata air. Selain sumber mata air panas, Beitou seolah diberkati oleh para Dewa, juga kaya akan kandungan sumber daya alam lainnya, seperti Rumput Igusa, Batu Qilian, kaolin, dan belerang. Batu Qilian yang dapat digunakan untuk membangun tembok benteng, jejaknya hingga kini masih dapat dijumpai di Taman Beitou.
Mata air belerang toska yang mengalir dari Lembah Geotermal memiliki air yang jernih dan berwarna sedikit kehijauan. Ini adalah salah satu dari dua mata air belerang toska di dunia yang mengandung “radium”.

Air Terjun Pertama di Sungai Mata Air Panas Beitou merupakan asal mula budaya sumber air panas di Taiwan, dan juga merupakan lokasi foto yang wajib dikunjungi pada masa pendudukan Jepang. (Foto: Yang Yeh)
Lanskap Budaya Kota Sumber Air Panas
Berkat dukungan sumber daya alam yang melimpah, kawasan Beitou yang telah berkembang sejak dini, sejak masa pendudukan Jepang telah menjadi kawasan rekreasi yang memadukan pariwisata dan hiburan, lalu setelah perang beralih fungsi menjadi tempat untuk bersosialisasi dan menjalin relasi. Pekerja sejarah dan budaya Beitou, Yang Yeh, menyampaikan bahwa kuliner Beitou terkenal dengan kemegahannya. Setelah perang, banyak hotel pemandian air panas di Beitou sebenarnya adalah cabang dari restoran-restoran di Taipei, sehingga para juru masaknya pun dipindahkan silih berganti, dan masing-masing memiliki keahlian yang mumpuni. Menjamu tamu membutuhkan kemewahan, maka hidangannya pun harus megah. Untuk mengimbangi minuman beralkohol, cita rasanya pun dibuat lebih kuat. Hidangan-hidangan mewah nan lezat seperti Fo tiao qiang, ikan karper dan udang jumbo, serta kepiting caihong wugong xun, menjadi ciri khas kuliner restoran Beitou.
Pertemuan dan sosialisasi tak akan lengkap tanpa hiburan untuk memeriahkan suasana, maka lahirlah budaya Nakasi (flow) di Beitou. Nakasi (flow) pada umumnya merujuk pada para penyanyi dan musisi keliling yang mencari nafkah dengan bernyanyi. Pada masa pendudukan Jepang, sebagian besar penginapan menyediakan layanan pertunjukan dari para geisha. Setelah perang, seiring dengan masuknya alat-alat musik Barat, seperti akordeon, saksofon, bas dan gitar, bentuk iringan musiknya pun berubah.
Yang Yeh mengunjungi para musisi senior Nakasi, juga mengumpulkan banyak buku lagu kecil Nakasi, mencatat masa kejayaan Beitou yang pernah terdapat lebih dari seratus grup Nakasi dan itu pun masih belum cukup untuk memenuhi semua permintaan. Sambil tersenyum, Yang Yeh berkata, kemampuan para musisi Nakasi sungguh kelas satu, untuk lagu yang belum pernah mereka dengar, asalkan tamu menyenandungkan beberapa baris nada, mereka bisa langsung mengiringinya.
Meskipun budaya Nakasi di Beitou perlahan meredup setelah kebangkitan karaoke dan KTV, tetapi lanskap budaya Beitou yang lain—layanan antar cepat dengan sepeda motor—telah populer puluhan tahun lebih awal daripada layanan pesan-antar makanan modern, dan masih berlanjut hingga kini. Kawasan Xinbeitou memiliki kontur tanah yang naik-turun dan gang-gang yang sempit, sementara sepeda motor memiliki mobilitas tinggi, karena itu berkembanglah layanan antar-jemput unik dengan sepeda motor. Pada awalnya, layanan ini utamanya adalah untuk antar-jemput para pelayan hotel, mereka juga akan membantu membelikan kuliner khas Beitou atas permintaan tamu, bahkan membayarkan tagihan air, telepon, dan lainnya, ragam layanannya sangat bervariasi. Kini, para kurir sepeda motor ini masih menjadi penolong andal bagi para ibu rumah tangga di Beitou. Saat membeli sayuran dan membawa barang berat, cukup dengan satu panggilan telepon ke pangkalan, kurir sepeda motor akan mengantarkan mereka hingga ke rumah.
Kisah-kisah Beitou yang mendalam dan memikat membuat Yang Yeh mendedikasikan hidupnya untuk mengumpulkan benda-benda kuno dan meneliti sejarah serta budaya Beitou.
Museum Sumber Air Panas Beitou dulunya adalah Pemandian Umum Beitou pada masa pendudukan Jepang. Bangunan dua lantai dengan arsitektur campuran gaya Jepang dan Barat ini merupakan karya dari Matsunosuke Moriyama, dan pernah menjadi pemandian umum terbesar di Asia Timur.
Beitou dalam Bingkai Foto Lama
Kawasan Xinbeitou terkenal karena sumber mata air panasnya, Anda juga bisa mendaki gunung, ditambah lagi dengan transportasinya yang mudah, menjadikannya sebuah destinasi wisata populer sejak masa pendudukan Jepang. Kini, hampir separuh wisatawan di jalanan berasal dari luar negeri, membuat orang penasaran, sesungguhnya, bagaimana pariwisata sumber air panas Beitou ini berkembang?
Yang Yeh yang gemar mengoleksi foto-foto dan benda-benda kuno Beitou, menuturkannya kepada kita melalui literatur. Sebelum sumber mata air panas Beitou dikembangkan, pada abad ke-17 Beitou telah tampil di panggung internasional melalui industri penambangan belerangnya. Namun, yang tak disangka, pada tahun 1893, seorang saudagar belerang asal Jerman, Richard Nikolaus Ohly, menemukan sumber mata air panas di Beitou, dan menjadi orang pertama yang berendam di sumber mata air panas Beitou yang tercatat dalam dokumen sejarah.
Menyadari benar akan khasiat penyembuhan dari sumber mata air panas, Richard Nikolaus Ohly mendirikan sebuah klub pemandian air panas di Fengzipu (kini sekitar Xinmin Road), tetapi di dalamnya tidak terdapat kamar mandi air panas, pengunjung harus pergi ke Sungai Beitou untuk berendam di sumber mata air panas alami. Dua tahun kemudian, Jepang mengambil alih Taiwan berdasarkan “Perjanjian Shimonoseki”. Richard Nikolaus Ohly kemudian menjamu para pejabat Jepang di klubnya untuk merasakan sendiri khasiat penyembuhan dari sumber mata air panas, militer Jepang pun segera memilih lokasi di Beitou dan berencana membangun sebuah rumah sakit militer.
Di antara orang-orang Jepang yang dijamu oleh Richard Nikolaus Ohly, Kametaro Matsumoto, yang saat itu bertugas di Ditjen Administrasi Militer, juga jatuh cinta pada sumber air panas Beitou. Ia bahkan secara diam-diam memulai bisnis sumber air panas. Matsumoto membeli tanah dan merampungkan pemasangan pipa penyaluran air panas. Pada tahun 1896, ia mengundurkan diri dari jabatan publiknya dan membangun penginapan sumber air panas “Shotoen”, yang berhasil memperoleh nomor registrasi usaha penginapan sumber air panas pertama di kawasan Beitou. Pada tahun yang sama, penginapan-penginapan lain seperti Baoyangyuan dan Qingquanguan pun mulai dibuka secara berurutan, menandai dibukanya tirai pariwisata sumber air panas Beitou.
Kemudian, Kepala Prefektur Taipei, Daikichi Imura, menata ulang Taman Beitou, membangun jaringan pipa air bersih, dan juga mendirikan pemandian umum terbesar di Asia Timur pada masa itu, Pemandian Umum Sumber Mata Air Panas Beitou. Baik arsitektur dua lantai bergaya Jepang-Barat pada bangunan pemandiannya, maupun air mancur bergaya Eropa di taman, semuanya merupakan simbol modernitas pada masa itu. Setelah itu, Kantor Gubernur juga membangun sebuah jalur cabang baru pada jalur kereta api Tamsui yang mengarah ke pemandian, yaitu Stasiun Xinbeitou. Sejak saat itu, akses masyarakat untuk datang berendam di Beitou menjadi jauh lebih mudah, dan dari sinilah Beitou mulai terbagi menjadi baru dan lama.
Semua hal inilah yang meletakkan fondasi bagi kemakmuran sumber air panas Beitou.
Kolam pemandian besar di dalam Museum Sumber Air Panas Beitou mengadopsi gaya desain pilar-pilar Romawi, yang menunjukkan kemegahannya.
Lin Chi-hai mendirikan Juru Cerita Beitou, dan melalui wisata jalan kaki budaya, ia membuat lebih banyak orang mengenal kampung halamannya yang indah.
Lingkar Kehidupan Museum Beitou
Para pendahulu telah meletakkan fondasi, dan kesadaran yang kuat dari masyarakat Beitou masa kini untuk membangun komunitas, juga telah menyumbangkan segenap hati dan tenaga demi kemakmuran kampung halaman mereka.
Stasiun Xinbeitou, yang pada awalnya dibangun untuk mempromosikan pariwisata sumber air panas Beitou, ditutup pada tahun 1988 karena penghentian total jalur kereta api Tamsui oleh Taiwan Railways Administration. Seluruh bangunan stasiun ini kemudian dikoleksi oleh sebuah perusahaan swasta dan dipindahkan ke Taiwan Folk Village di Changhua. Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pelestarian warisan budaya, berkat perjuangan berbagai pihak seperti para akademisi, penduduk, dan pegiat sejarah dan budaya lokal, akhirnya pada tahun 2013 datanglah kabar baik yang telah lama dinanti, Stasiun Xinbeitou akan kembali ke kampung halamannya. Setelah melalui proses restorasi dan perakitan ulang, pada tahun 2017 stasiun ini kembali memancarkan pesonanya. Dengan bangunan stasiun dari kayu, atap berlapis tembaga, dan atap tingkap, Stasiun Xinbeitou menjadi satu-satunya bangunan stasiun yang tersisa dari jalur kereta api Tamsui, dan menjadi saksi bisu bagi sejarah perkeretaapian yang telah berusia seabad.
Nasib serupa, yaitu ancaman pembongkaran, juga dihadapi oleh Pemandian Umum Beitou. Lin Chih-hai menuturkan, setelah perang, bangunan Pemandian Umum Beitou pernah dialihfungsikan menjadi pusat pelayanan masyarakat, kantor polisi, bahkan lokasi resepsi pernikahan, tetapi pada akhirnya terbengkalai menjadi reruntuhan. “Waktu kecil, kami semua menyebutnya rumah hantu,” katanya. Untungnya, isu pembangunan kereta gantung berhasil menyatukan kesadaran masyarakat setempat. Akhirnya, Pemandian Umum Beitou ditetapkan sebagai situs bersejarah yang dilestarikan dan kini menjadi Museum Mata air Panas.
Bangunan bergaya campuran Jepang-Barat yang dirancang oleh arsitek Jepang Matsunosuke Moriyama ini, memiliki aula besar berlantai tatami di lantai dua yang disediakan bagi para pengunjung untuk beristirahat setelah berendam. Menara pandang di sampingnya memungkinkan orang untuk memandangi matahari terbenam di atas Gunung Guanyin. Sementara itu, kolam pemandian besar di lantai satu mengadopsi gaya pilar-pilar Romawi. Dinding koridor di bagian luarnya dihiasi dengan kaca patri berwarna. Ketika sinar matahari menerobos masuk ke dalam pemandian, warna-warni dari kaca tersebut terpantul di dalam ruangan yang beruap, mengubah momen berendam di dalamnya menjadi sebuah momen magis yang melampaui realita.
Meskipun kini kolam pemandian tersebut tidak lagi digunakan untuk berendam, orang-orang dapat belajar mengenai perkembangan sumber air panas Beitou di tempat ini. Selain itu, pengunjung juga dapat mengagumi “Batu Beitou”, sebuah mineral langka yang terbentuk di Sungai Beitou, bersifat radioaktif, dan merupakan satu-satunya mineral yang namanya diambil dari nama tempat di Taiwan dan diakui dalam dunia geologi internasional.
Sebagai putra asli Beitou, Lin Chih-hai bercerita bahwa semasa kecilnya, ada paman dan bibi sering datang ke sekolah untuk menceritakan kisah-kisah tentang Beitou. Hal ini menumbuhkan rasa memiliki terhadap kampung halamannya, dan membuatnya bertekad untuk tetap tinggal di Beitou dan memperkenalkan kampung halamannya kepada lebih banyak orang melalui pemanduan wisata budaya. Yang Yeh, yang juga dibesarkan di Beitou, dengan susah payah mengumpulkan peninggalan budaya Beitou, bahkan ia tak segan menawar sebuah kartu pos seharga 20.000 Yen di situs lelang Jepang. Penelitian sejarah dan budaya Beitou adalah pekerjaan yang ia bertekad untuk tekuni seumur hidupnya.
Setelah selesai berendam, seluruh tubuh terasa nyaman dan menyegarkan, meninggalkan kesan yang tak terlupakan. Kisah-kisah Beitou yang mendalam dan memikat juga sulit untuk dilupakan. Kami mengundang Anda untuk berkunjung secara langsung dan menulis babak kisah Anda bersama Beitou.
Kolam pemandian air panas terbuka di Taman Beitou, dengan sumber air dari Lembah Geotermal, menjadi tempat untuk menikmati mata air panas belerang toska dan merilekskan tubuh serta pikiran.
Stasiun Xinbeitou, yang berhasil dilestarikan setelah melalui banyak liku-liku, merupakan satu-satunya bangunan stasiun yang tersisa dari jalur kereta api Tamsui, menjadi saksi sejarah perkeretaapian selama seratus tahun.