Pesona Berendam di Alam Liar
Sumber Air Panas Pengpeng & Pola Hidup Primitif
Penulis‧Chen Chun-fang Foto‧Chuang Kung-ju Penerjemah‧Maria Sukamto
Februari 2026
Dijuluki oleh para warganet sebagai sumber air panas alami paling ramah pengunjung, “Pemandian Air Panas Pengpeng (atau Bong Bong)” terletak di komunitas Kn-bung suku Atayal Desa Ying shi, Kecamatan Datong, Kabupaten Yilan, wilayah pegunungan yang menjadi rumah bagi masyarakat adat suku Atayal. Setelah memarkir kendaraan, hanya dengan berjalan kaki sekitar 15 menit, maka sudah dapat mencapai sumber air panas alami yang dikelilingi gunung dan air terjun. Suku Atayal yang telah turun-temurun mendiami wilayah ini, juga hidup berdampingan dengan Sungai Pengpeng, dan mereka mengundang semua orang untuk datang merasakan budaya masyarakat adat.
Permukiman desa Ying shi, yang dulu dikenal dengan nama Pengpeng, memiliki sebutan asli dalam bahasa Atayal “Kn-bung”, berarti “tanah yang berlimpah dan subur”. Qehung Kumay, Kepala Asosiasi Pengembangan Komunitas Bong Bong menjelaskan, pada masa ketika para leluhur suku Atayal tiba di lembah Sungai Pengpeng, mendapati tanah ini kaya akan sumber kehidupan, ada lebah beterbangan, ikan karper ku hua yaitu Taiwan shoveljaw carp berenang bebas, sehingga mereka menamai wilayah ini “Kn-bung”, melambangkan nuansa kelimpahan dan kesuburan, dan berangsur menetap di sini.

Mencari bahan di sekitar untuk membangun kolam pemandian sendiri, merupakan salah satu kesenangan pemandian sumber air panas alami.
Sumber Air Panas Pengpeng Berlimpah
Sungai Pengpeng tidak saja kaya akan spesies, melainkan juga mengandung sumber daya panas bumi.
Banyak penduduk Desa Ying shi, yang tinggal di sepanjang aliran sungai Pengpeng, tumbuh besar dengan berendam di Pemandian Air Panas Pengpeng. Tencen Hayung, ketua Asosiasi Pengembangan Komunitas Ying shi sambil tertawa mengatakan, “Saya mandi di sana terus sejak kecil.” Bagi masyarakat adat, air panas Pengpeng adalah bagian dari kehidupan mereka.
Dari Sekolah Dasar Siji cabang Ying shi, hanya perlu berjalan kaki sekitar 15 menit untuk mencapai sumber air panas Pengpeng, sebuah destinasi mata air panas alami tingkat pemula yang bahkan bisa dicoba oleh pendatang baru. Lagipula daerah sekitar sumber air panas ini cukup luas, bila datang di musim yang tepat, menghindari masa beberapa pekan pasca hujan besar dan menunggu arus utama sungai mulai surut, anak sungai di sampingnya atau aliran air bawah permukaan akan dihangatkan oleh panas bumi. Genangan air kecil yang ada di kedua sisi lembah mungkin adalah sumber air panas. Tencen Hayung menyampaikan, cukup dengan memanfaatkan beberapa material yang ada di tempat, menumpuk bebatuan, maka sudah bisa membangun kolam air panas pribadi.

Melalui rumah api tradisional, Asosiasi Pengembangan Komunitas Ying shi membagikan warisan budaya suku Atayal yang hangat dan penuh makna.
Bernyanyi di Perapian — Rasakan Kehidupan Primitif
Mengunjungi Desa Ying-shi, selain menikmati Pemandian Air Panas Pengpeng, Anda juga bisa berpartisipasi dalam program wisata yang dirancang oleh Asosiasi Pengembangan Komunitas Ying shi. Qehung Kumay menyampaikan, “Seluruh paket wisata diharapkan dapat menciptakan sebuah ekowisata, di mana pengunjung dapat mengenal gunung dan sungai, serta tenggelam dalam budaya kami.”
Di dalam rumah api tradisional, Qehung Kumay mulai bersenandung, melantunkan lagu sambutan berjudul “Ima lalu su?” dalam bahasa Atayal berarti “Siapa namamu?” Sama seperti orang di luar negeri yang saat pertama kali bertemu akan saling menyapa dengan “Nice to meet you”, tetapi bagi masyarakat Atayal, ungkapan “Ima lalu su?” adalah cara sapaan khusus suku Atayal ketika pergi ke komunitas lain, di mana para tetua akan bertanya kepada yang lebih muda untuk memastikan apakah mereka adalah bagian dari suku. Sebab dalam tradisi suku Atayal, nama seseorang selalu disertai nama ayahnya sehingga dengan menyebut namanya, orang lain dapat segera tahu anak siapa dia dan dari lembah mana asal keluarganya.
Rumah api yang terbuat dari bambu adalah hasil karya kolektif antara para tetua dan generasi muda, sebuah perwujudan kebijaksanaan. Rumah ini dibangun dari tiga teknik konstruksi, pertama, bambu dibelah dua, lalu disusun dengan pola yin dan yang, saling silang bertumpu membentuk dinding yang menahan angin, atau atap yang mampu menyalurkan air hujan. Kedua, bambu dipukul retak dan diratakan, lalu dikuatkan dengan potongan bambu tipis, dirancang menjadi jendela, di mana saat hujan turun, air mengalir perlahan di sepanjang alur bambu, dan air akan menetes jatuh keluar ketika jendela ditutup. Ketiga, batang bambu utuh dirakit menjadi meja dan bangku. Setiap hari, warga akan datang menyalakan api di dalam rumah ini, untuk menjaga ruangan tetap kering, agar terhindar dari rayap dan jamur. Api adalah lambang penting bagi kehidupan di desa masyarakat adat. Tencen Hayung menjelaskan, dahulu kala pemukiman anggota suku lebih tersebar. Saat pagi hari terlihat asap keluar dari salah satu rumah, itu pertanda keluarga itu baik-baik saja, sedang makan. Namun bila dua atau tiga hari tak tampak asap, anggota suku lainnya akan khawatir dan datang menjenguk, api bukan sekadar kebutuhan hidup, tetapi juga sinyal untuk saling mengabarkan keselamatan.
Setelah mengenal denyut kehidupan di desa Atayal, para pengunjung diajak membuat nasi bungkus pemburu, sebuah bekal sederhana yang sarat makna, isinya terdiri dari daging babi berbumbu rempah maqaw sejenis merica gunung, bersama ikan asin, sayuran, dan nasi ketan hangat semua dibungkus dengan daun jahe cangkang yang sudah direbus. Itulah bekal penuh cinta dari orang rumah untuk pemburu sebelum berangkat ke gunung. Dengan berbekal nasi bungkus, pengunjung dapat mengikuti panduan warga suku untuk berjalan melawan arus sungai dan merasakan keseruan alami Pengpeng Hot Springs, atau memilih untuk menjelajahi misteri jalur kuno hn-kiyan, menapaki jalan patroli dari zaman pendudukan Jepang.
Bagi yang lebih suka ketenangan, desa ini juga menawarkan belajar budaya sablon kain sutera dan kerajinan anyaman yang terinspirasi dari warisan tenun dan celup suku Atayal. Anda bisa menyablon gambar babi hutan, bajing terbang, menjadi tas jinjing yang lucu, atau menenun selembar kartu pos berhias motif hewan, yang bisa dikirimkan ke keluarga di tempat yang jauh, membawa cerita tentang kehidupan masyarakat adat yang menarik.

Dengan aliran air panas yang stabil dan akses yang mudah, Pengpeng Hot Springs dijuluki warganet sebagai sumber air panas alam paling ramah pengunjung di Taiwan.
Menginap Semalam di Rumah Sang Pemburu
Selain menjadi Ketua Asosiasi Pembangunan Komunitas, Tencen Hayung adalah seorang pemburu ulung, cukup dengan menatap ukuran taring babi hutan, ia tahu berapa berat tubuhnya, di wilayah buruannya, tak ada hewan yang bisa lepas dari buruannya. Di tanah leluhurnya, ia membangun dengan tangannya sendiri sebuah rumah kayu bernama “Fanfanpo—Nijolona”, semua perabotan dalam rumah termasuk anak tangga, ranjang, dan ukiran kayu adalah karya tangannya. Aroma semerbak kayu memenuhi ruangan, sementara di luar jendela besarnya, pegunungan memeluk lembah hijau dan di kejauhan, Sungai Pengpeng berdesir lembut, benar-benar membuat tamu serasa tinggal di tengah alam.
Rumah kayu yang tersembunyi di tengah hutan ini, telah menyambut tamu-tamu dari India, Korea, Lituania, Inggris, Amerika, Kanada dan lainnya. Tencen Hayung berkata sambil tersenyum, para tamu yang datang ke sini tidak rela untuk tidur, semalaman mereka berkumpul di sekitar api unggun, bercerita, menatap langit yang bertaburan bintang, dan baru beristirahat ketika matahari mulai terbit.
Masyarakat adat hidup berdampingan dengan alam, menikmati keindahan hutan pegunungan, juga memanfaatkan sumber alam secara bijak, dengan tetap menjaga kelestarian tanah mereka, seperti pesan dari Qehung Kumay yang sering disampaikan kepada para pengunjung yang datang untuk berendam air panas, bahwa saat menikmati mata air panas, jangan lupa menjaga kelestarian lingkungan. Impian cetak birunya adalah berharap agar permukiman masyarakat adat ini bisa menjadi tempat di mana siapa pun bisa datang untuk bermain, dan tampaknya sudah mulai terwujud sedikit demi sedikit.

Tencen Hayung membangun rumah kayu dengan tangannya sendiri, dan mengundang siapa pun yang datang untuk tinggal sejenak di pelukan alam.

Program wisata yang dirancang oleh komunitas Ying shi menghadirkan pengalaman mendalam, menyelami kebudayaan Atayal dari dekat, dengan hati yang terbuka.