Bernyanyi di Perapian — Rasakan Kehidupan Primitif
Mengunjungi Desa Ying-shi, selain menikmati Pemandian Air Panas Pengpeng, Anda juga bisa berpartisipasi dalam program wisata yang dirancang oleh Asosiasi Pengembangan Komunitas Ying shi. Qehung Kumay menyampaikan, “Seluruh paket wisata diharapkan dapat menciptakan sebuah ekowisata, di mana pengunjung dapat mengenal gunung dan sungai, serta tenggelam dalam budaya kami.”
Di dalam rumah api tradisional, Qehung Kumay mulai bersenandung, melantunkan lagu sambutan berjudul “Ima lalu su?” dalam bahasa Atayal berarti “Siapa namamu?” Sama seperti orang di luar negeri yang saat pertama kali bertemu akan saling menyapa dengan “Nice to meet you”, tetapi bagi masyarakat Atayal, ungkapan “Ima lalu su?” adalah cara sapaan khusus suku Atayal ketika pergi ke komunitas lain, di mana para tetua akan bertanya kepada yang lebih muda untuk memastikan apakah mereka adalah bagian dari suku. Sebab dalam tradisi suku Atayal, nama seseorang selalu disertai nama ayahnya sehingga dengan menyebut namanya, orang lain dapat segera tahu anak siapa dia dan dari lembah mana asal keluarganya.
Rumah api yang terbuat dari bambu adalah hasil karya kolektif antara para tetua dan generasi muda, sebuah perwujudan kebijaksanaan. Rumah ini dibangun dari tiga teknik konstruksi, pertama, bambu dibelah dua, lalu disusun dengan pola yin dan yang, saling silang bertumpu membentuk dinding yang menahan angin, atau atap yang mampu menyalurkan air hujan. Kedua, bambu dipukul retak dan diratakan, lalu dikuatkan dengan potongan bambu tipis, dirancang menjadi jendela, di mana saat hujan turun, air mengalir perlahan di sepanjang alur bambu, dan air akan menetes jatuh keluar ketika jendela ditutup. Ketiga, batang bambu utuh dirakit menjadi meja dan bangku. Setiap hari, warga akan datang menyalakan api di dalam rumah ini, untuk menjaga ruangan tetap kering, agar terhindar dari rayap dan jamur. Api adalah lambang penting bagi kehidupan di desa masyarakat adat. Tencen Hayung menjelaskan, dahulu kala pemukiman anggota suku lebih tersebar. Saat pagi hari terlihat asap keluar dari salah satu rumah, itu pertanda keluarga itu baik-baik saja, sedang makan. Namun bila dua atau tiga hari tak tampak asap, anggota suku lainnya akan khawatir dan datang menjenguk, api bukan sekadar kebutuhan hidup, tetapi juga sinyal untuk saling mengabarkan keselamatan.
Setelah mengenal denyut kehidupan di desa Atayal, para pengunjung diajak membuat nasi bungkus pemburu, sebuah bekal sederhana yang sarat makna, isinya terdiri dari daging babi berbumbu rempah maqaw sejenis merica gunung, bersama ikan asin, sayuran, dan nasi ketan hangat semua dibungkus dengan daun jahe cangkang yang sudah direbus. Itulah bekal penuh cinta dari orang rumah untuk pemburu sebelum berangkat ke gunung. Dengan berbekal nasi bungkus, pengunjung dapat mengikuti panduan warga suku untuk berjalan melawan arus sungai dan merasakan keseruan alami Pengpeng Hot Springs, atau memilih untuk menjelajahi misteri jalur kuno hn-kiyan, menapaki jalan patroli dari zaman pendudukan Jepang.
Bagi yang lebih suka ketenangan, desa ini juga menawarkan belajar budaya sablon kain sutera dan kerajinan anyaman yang terinspirasi dari warisan tenun dan celup suku Atayal. Anda bisa menyablon gambar babi hutan, bajing terbang, menjadi tas jinjing yang lucu, atau menenun selembar kartu pos berhias motif hewan, yang bisa dikirimkan ke keluarga di tempat yang jauh, membawa cerita tentang kehidupan masyarakat adat yang menarik.

Dengan aliran air panas yang stabil dan akses yang mudah, Pengpeng Hot Springs dijuluki warganet sebagai sumber air panas alam paling ramah pengunjung di Taiwan.