Mewarisi Pengetahuan Suku Bunun
Pune menyelenggarakan pameran tunggal “Pune Sizu: Manfaatkan Jahe Cangkang untuk Menenun Jalan Pulang ke Rumah”. Mitra penyelenggara meminjam sebuah koleksi sejarah “tikar anyaman jahe cangkang suku Bunun” dari Museum Nasional Taiwan, yang berusia setidaknya ratusan tahun. Ketika melihatnya, Pune sangat terkejut, karya pameran dengan teknik anyaman adalah ciri khas dari keluarganya dan masih tertera nama nenek buyutnya, “Dalam suku Bunun, setiap keluarga memiliki teknik anyaman khas sendiri, mungkin bagi orang luar terasa sulit untuk dipahami, ini agak mirip dengan prinsip “lambang keluarga”.
Tikar anyaman jahe cangkang bernilai sejarah 200 tahun, menjadi koleksi yang dilestarikan oleh museum, dengan pameran ini mempertemukan kembali Pune dengan karya ini, “Sejak saat itu, saya memberitahu diri sendiri, sebenarnya ini adalah takdir, karena saya telah terpilih, untuk itu saya akan menjalaninya dengan baik.”
Pune merasa tidak puas dengan teknik menganyam jahe cangkang tradisional yang tidak membutuhkan tingkat keterampilan tinggi, sehingga ia mengembangkan dan meningkatkannya menjadi seni kerajinan yang halus. Ia menunjukkan karya anyaman yang dikerjakannya, lapisan dalam adalah keranjang anyaman tradisional dari pelepah daun, sedangkan simpul-simpul benang lapisan luar menggunakan jahe cangkang yang dipelintir, dijadikan sebagai aksesoris berbentuk jala, benang simpul yang dibuat dari jahe cangkang bertekstur kasar dan keras, ketika melihatnya, maka dapat dirasakan karya ini memerlukan keterampilan tinggi. Pune mengatakan, pembuatan benang simpul ini, dimulai dari berlatih dengan tali rami, memerlukan waktu 6 bulan penuh untuk menyelesaikan karya jahe cangkang pertamanya. Tanpa ragu-ragu, Pune memamerkan karyanya, berharap agar semua orang turut mengetahui betapa mahirnya memanfaatkan jahe cangkang. Beberapa karyanya dikoleksi oleh museum seni kontemporer baik dalam maupun luar negeri. Ia berharap agar teknik anyaman jahe cangkang dapat dikembangkan menjadi seni kerajinan, dengan demikian, jahe cangkangnya pun akan diingat.
Tidak hanya sekedar anyaman jahe cangkang, yang ingin Pune wariskan adalah kekayaan budaya Bunun yang mendasar. Sama halnya dalam pembuatan anyaman jahe cangkang, proses pengolahan bahan suku Bunun lebih rumit tetapi lebih lengkap, sedangkan suku lainnya hanya mengeringkan pelepah daun jahe cangkang, sementara para tetua suku Bunun mengajarkan, pelepah daun harus digantung hingga berjamur, tumbuh bintik-bintik, setelah melunak baru digunakan untuk menganyam.
“Para tetua tidak akan memberitahu kami, alasan di balik cara pengolahan ini, karena kami terus menerus melakukan eksperimen dan membuat perbandingan, baru menyadari bahwa tahap ini disebut dengan ‘disisihkan supaya berjamur’”. Berapa lama harus dikeringkan? “Anda tidak akan mengetahuinya, akan tetapi jahe cangkang bisa bersuara, saya akan pastikan jahe cangkang bersuara, baru saya kumpulkan.” Ia memandu kami ke bagian tembok depan yang dipenuhi dengan pelepah daun jahe cangkang yang bergelantungan, lalu dengan tangannya ia memainkan gulungan pelepah daun, menimbulkan suara gemerisik yang jernih, juga ada suara berat terendam, maka diketahui kandungan air di dalam serat belum sepenuhnya menguap, jadi masih perlu menunggu.
Ia mengakui, lahir di masa yang beruntung, mewarisi pengetahuan suku Bunun ratusan tahun dari hampir 3 generasi, ditambah lagi dengan riset di lapangan di perkampungan suku, budaya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, semuanya terserap dalam dirinya.
Berawal dari pengetahuan para tetua, ditambah lagi dengan pengalaman nyata yang dijalani selama bertahun-tahun, Pune terus menerus melakukan studi banding dari kedua hal ini, untuk menyempurnakan pengetahuan tentang jahe cangkang. Dengan anyaman jahe cangkang menenun jalan kembali pulang ke rumah, bagi Pune yang berasal dari suku Bunun, sungguh ini adalah jalan yang sangat unik.

Selain anyaman tradisional dari pelepah daun jahe cangkang, Pune berharap agar teknik seni anyaman jahe cangkang dikembangkan menjadi seni kerajinan yang lebih halus.

Pune memanfaatkan jahe cangkang untuk menemukan jalan pulang ke rumah (Sumber: Taman Ekologi Jahe Cangkang Maslinagan)