Mencari Jalan Pulang Kembali ke Rumah
Kisah Cerita Jahe Cangkang
Penulis‧Cathy Teng Foto‧Jimmy Lin Penerjemah‧Amina Tjandra
April 2026
Dalam dongeng “Hansel dan Gretel” diceritakan, kakak beradik Hansel dan Gretel menemukan jalan pulang dengan mengikuti remah-remah roti ditandai ketika mereka datang. Di Taiwan, Takbanuaz Ishahavut Pune, seorang penduduk adat suku Bunun dan anggota dari Gaia Nahuy Workshop, menjadikan jahe cangkang sebagai penuntun untuk kembali ke kampung halaman, mencari akar budaya sendiri, sekaligus membuka jalan bagi kawula muda untuk pulang ke desa dan menetap di kampung halaman.
Terdapat lebih dari 230 spesies jahe cangkang di seluruh dunia, setidaknya ada 18 spesies yang ditemukan di Taiwan dan luar Pulau Taiwan serta setelah dinamai, ada 16 jenis di antaranya adalah spesies endemik. Saat bepergian di Taiwan, baik disengaja atau secara kebetulan, di daerah pinggiran kota atau tepi jalan sering kali mendapati tanaman jahe cangkang. Tanaman ini akan berbunga pada masa-masa sebelum dan sesudah perayaan Perahu Naga. Pada periode bunga bermekaran berkisar di Mei hingga Juli, Anda bisa menyaksikan gugusan kuncup bunga putih dan merah muda, atau ketika berada di perkampungan masyarakat adat, Anda bisa mendapati kotak penyimpanan yang terbuat dari anyaman jahe cangkang, juga bisa makan bakcang yang dibungkus dengan daun jahe cangkang. Di masa kecil, jahe cangkang juga dijadikan sebagai salah satu bahan obat Jintan yang berkhasiat untuk menghilangkan efek mabuk kendaraan dan menyegarkan pernapasan.

Jahe cangkang dianyam menjadi kotak penyimpanan yang praktis, sekaligus juga merupakan barang kebutuhan sehari-hari masyarakat suku Bunun.
Jahe Cangkang di Komunitas Penduduk Adat
Jahe cangkang tumbuh menyebar dari dataran rendah hingga kawasan dataran tinggi di Taiwan, hal ini sangat memudahkan bagi masyarakat adat yang kerap kali memanfaatkan bahan-bahan alami dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan pemakaian jahe cangkang dari setiap suku masyarakat adat pun berbeda-beda, termasuk untuk sebutan jahe cangkang juga tidak sama. Suku Bunun menyebutnya sebagai Sizu, Suku Rukai memberi nama sebagai Sali, Suku Amis menyebutnya dengan Lenagc, Suku Atayal menyebut jahe cangkang sebagai Bsyaw, sedangkan Suku Tsou menyebut jahe cangkang dengan sebutan Tappa, selain itu, setiap suku memiliki catatan kenangan maupun pantangan sendiri terkait jahe cangkang.
Perkampungan masyarakat adat Naro di Desa Jianshi, Kabupaten Hsinchu merupakan permukiman yang mayoritas dihuni oleh masyarakat adat suku Atayal, hingga saat ini merupakan lahan penghasil jahe cangkang terluas di Taiwan. Manajer Koperasi Pemasaran Industri Pertanian Jahe Cangkang Nashan (Nashan Shell Ginger Agricultural Transport and Marketing Collective, NSGATMC), Tomi Yang menjelaskan, “Jahe cangkang adalah harta karun”. Dahulu masyarakat suku adat mengambil pelepah daun jahe cangkang untuk membuat anyaman atau mengadopsi rimpang yang tumbuh di bawah tanah untuk diolah menjadi makanan bergizi sup iga babi
Ia mengenang di masa kecilnya, para tetua akan memilah bagian muda dari jahe cangkang untuk diberikan kepada anak-anak sebagai camilan, saat bersamaan juga berkhasiat untuk menyingkirkan cacing gelang. Saat mengalami cedera, rimpang jahe cangkang ditumbuk halus menjadi pasta, dioleskan pada luka untuk mengurangi peradangan. Sejak awal, masyarakat adat telah menemukan khasiat pengobatan dari jahe cangkang.
Beragam cara memanfaatkan jahe cangkang, menggunakan daun cangkang untuk membungkus bakcang menjadi cita rasa yang tidak asing bagi orang Taiwan. Serat jahe cangkang juga dimanfaatkan untuk pembuatan kertas Xuan yang digunakan untuk lukisan Tionghoa.
Mengikuti “Aroma” Jalan Pulang ke Rumah
Menyambangi perkampungan Naro di daerah pegunungan, tempat ini dikenal sebagai perkampungan herbal, sejak awal budidaya tanaman herbal utama adalah herbal impor seperti Calendula, Rosemary, dan Lavender. Tujuh tahun yang lalu, Qiu Xin-fa seorang pensiunan guru, sekarang menjabat sebagai Chairman Koperasi Pemasaran Industri Pertanian Jahe Cangkang Nashan (NSGATMC) yang berkeinginan mengembangkan industri desa, sempat mendengar kabar dari teman bahwa industri jahe cangkang di Jepang berkembang dengan sangat baik, lagipula jahe cangkang Jepang berasal dari spesies jahe cangkang Taiwan. Lalu ia berpikir, “Kalau di Okinawa saja bisa, tidak ada alasan tidak bisa dibudidayakan di Taiwan.” Bukankah akan lebih baik memulai tanaman lokal? Untuk itu, ia mengumpulkan sekelompok petani, mulai bercocok tanam jahe cangkang hampir seluas 7 hektar, kemudian melakukan penyulingan dari bunga dan daun jahe cangkang untuk mendapatkan minyak esensial dan hidrosol yang diolah menjadi produk kecantikan.
Tanaman jahe cangkang memerlukan waktu 2 hingga 3 tahun untuk tumbuh dewasa, minyak esensial yang diperoleh dari penyulingan bunga dan daun jahe cangkang, meskipun di perkampungan memiliki pengalaman penyulingan lebih dari 20 tahun, tetapi ekstraksi jahe cangkang bukanlah hal yang mudah. Pada awalnya, hasil penguapan tidak berhasil mengeluarkan minyak esensial setetes pun, memerlukan eksperimen selama setengah tahun penuh baru berhasil menyuling tetesan minyak esensial yang pertama, “lagipula penyulingan dengan bahan 40 kg daun hanya menghasilkan 20-25 ml minyak esensial, penguapan dari sebanyak 80 kg bunga jahe cangkang baru bisa menghasilkan 60-80 ml minyak esensial.”
Upaya kerja keras membuahkan hasil, studio kerja mulai memperoleh keuntungan pada tahun ke-3, 15 petani yang ikut andil sejak awal akhirnya mendapatkan pembagian profit, kemudian semakin banyak orang ikut bergabung dalam penanaman jahe cangkang. Pada tahun 2024, berkat bantuan subsidi dari Badan Pengembangan Perdesaan Konservasi Tanah dan Air, Kementerian Pertanian (Agency of Rural Development and Soil and Water Conservation of the Ministry or Agriculture), mereka merenovasi jalur jahe cangkang, membudidayakan 18 spesies jahe cangkang khas Taiwan, sehingga pengunjung bisa melihat dengan mata kepala sendiri, bahkan menyentuh langsung jahe cangkang. Selain memproduksi minyak esensial untuk produk kecantikan dengan merek sendiri, studio kerja ini juga menjadi penyuplai bahan baku untuk berbagai merek kosmetik dalam negeri, kini memasuki pasar internasional karena ada beberapa produsen Jepang menghubungi mereka untuk mendapatkan bahan baku jahe cangkang.
Selangkah demi selangkah dari sekelompok orang ini membuat kisah perjalanan jahe cangkang semakin mengharukan, juga membuat generasi muda di perkampungan menemukan jalan baru di kampung halamannya sendiri, memungkinkan mereka untuk tetap tinggal di kampung halamannya, seperti yang diyakini sejak awal, “Jahe cangkang adalah tanaman yang bagus dan sangat berpotensi untuk dikembangkan.”
Qiu Xin-fa (kiri) dan Tomy Yang (kanan) menjelaskan kisah jahe cangkang juga memungkinkan kawula muda menemukan jalan keluar baru di kampung halamannya.
Kandungan jahe cangkang memiliki beragam kegunaan, termasuk perawatan kesehatan, anti penuaan dan lainnya. Studio kerja jahe cangkang Nashan melakukan berbagai riset pengembangan produk kecantikan dan wewangian.
Menenun Jalan Pulang ke Rumah
Takbanuaz Ishahavut Pune yang semula berkarir di dunia mode dan selalu memakai sepatu hak tinggi, ternyata ditakdirkan untuk menekuni anyaman jahe cangkang.
Selama bertahun-tahun tinggal di bagian Utara Taiwan, akhirnya Takbanuaz Ishahavut Pune (Pune) kembali ke kampung halamannya untuk merawat ayahanda, kembali ke tanah leluhurnya di Desa Haiduan, Taitung untuk hidup mengakar di ladang tradisional dan anyaman jahe cangkang menjadi bidang yang paling diminatinya. Pada suatu hari, ia bersama saudara-saudaranya mendaki gunung, mendapati ternyata suku mereka sendiri rancu dan tidak bisa membedakan antara jahe cangkang dengan jahe, “Dulunya, jahe cangkang berkaitan erat dengan kebiasaan hidup dan budaya tradisional suku, akan tetapi masyarakat adat sendiri tidak bisa membedakannya, jika demikian, bagaimana mungkin kita mengidentifikasikan budaya kita sendiri?” Ditambah lagi, sudah banyak pengrajin anyaman jahe cangkang di Taitung, sehingga ia memutuskan untuk mencari cara baru untuk fokus pada promosi budaya dan edukasi jahe cangkang. Sejak tahun 2002, ia mulai mengumpulkan berbagai spesies jahe cangkang dari seluruh Taiwan, memanfaatkan jahe cangkang yang mudah didapati di tepi jalan untuk berlatih teknik menganyam.
Pada tahun 2010, Pune mendirikan Taman Ekologi Jahe Cangkang Maslinagan (Maslinagan Shell Ginger Ecological Park), menjadi tempat di mana dia mengembangkan varietas jahe cangkang yang dikumpulkannya. Pune berdua dengan Xie Jian-fei, mitra kerja selama bertahun-tahun, memperkenalkan asal-usul setiap tanaman jahe cangkang. Bagi kami, semua terlihat hijau dan hampir serupa, bagaikan kembaran yang sulit dibedakan, akan tetapi ia meminta kami untuk menyentuh dan merasakan langsung permukaan daun bagian depan dan belakang, ada beberapa bagian belakang daun bertekstur beludru, ada beberapa yang terasa lebih tebal dan berat. Jika diamati permukaan daun, ada yang lebar dan ada yang sempit. Jahe cangkang Jepang berdaun paling pendek, sedangkan jahe cangkang yang berasal dari Pulau Orchid dan Pulau Hijau dengan pembuluh daun membentuk jaringan, masih ada pembuluh daun yang paralel, berfungsi untuk menyimpan air. Ketika daun digosok-gosok akan menghasilkan aroma, setiap spesies memiliki aroma yang berbeda pula. Saat mereka memperkenalkan jahe cangkang dari Alishan, daun digosok-gosok lalu dihirup, seketika akan membuat kita langsung mengerutkan kening karena aromanya sangat tajam dan menusuk seperti kaos kaki yang bau. Inilah pengalaman dengan pancaindra yang sungguh memberikan kenangan tak terlupakan.
Dalam dunia akademis telah diumumkan ada 18 spesies jahe cangkang di Taiwan, akan tetapi untuk pemberian nomor sudah tercatat hingga nomor ke-31 di tamannya. Ia menjelaskan, untuk menamai satu spesies tanaman dalam kalangan akademisi, setidaknya memerlukan waktu lebih dari 4 tahun, “Dikarenakan saya mengumpulkan jahe cangkang dalam jangka waktu panjang, mengamati jahe cangkang, mempelajari bentuk, rangkaian bunga, bentuk daun, detail warna hijau muda hingga hijau tua, saya bisa tahu bahwa ini berbeda.” Istilah ilmiah adalah media komunikasi, akan tetapi dalam taman ini, masih ada beberapa jahe cangkang yang belum sempat diberi nama, maka diberi sebutan lokal seperti “jahe cangkang ibu jari” dengan bunga hanya sebesar ibu jari, dan “jahe cangkang koin”. Ia menyimpulkan, “Di taman kami, ada banyak ilmu pengetahuan yang tidak bisa Anda temukan di google”.
Berdasarkan tradisi suku Bunun, pelepah daun jahe cangkang perlu disisihkan hingga berjamur, muncul bintik-bintik dan kering sepenuhnya baru dimanfaatkan untuk menganyam.
Dalam Taman Ekologi Jahe Cangkang Maslinagan, Pune memperkenalkan kisah dari setiap tanaman jahe cangkang, merasakan jahe cangkang dengan pancaindra.
Mewarisi Pengetahuan Suku Bunun
Pune menyelenggarakan pameran tunggal “Pune Sizu: Manfaatkan Jahe Cangkang untuk Menenun Jalan Pulang ke Rumah”. Mitra penyelenggara meminjam sebuah koleksi sejarah “tikar anyaman jahe cangkang suku Bunun” dari Museum Nasional Taiwan, yang berusia setidaknya ratusan tahun. Ketika melihatnya, Pune sangat terkejut, karya pameran dengan teknik anyaman adalah ciri khas dari keluarganya dan masih tertera nama nenek buyutnya, “Dalam suku Bunun, setiap keluarga memiliki teknik anyaman khas sendiri, mungkin bagi orang luar terasa sulit untuk dipahami, ini agak mirip dengan prinsip “lambang keluarga”.
Tikar anyaman jahe cangkang bernilai sejarah 200 tahun, menjadi koleksi yang dilestarikan oleh museum, dengan pameran ini mempertemukan kembali Pune dengan karya ini, “Sejak saat itu, saya memberitahu diri sendiri, sebenarnya ini adalah takdir, karena saya telah terpilih, untuk itu saya akan menjalaninya dengan baik.”
Pune merasa tidak puas dengan teknik menganyam jahe cangkang tradisional yang tidak membutuhkan tingkat keterampilan tinggi, sehingga ia mengembangkan dan meningkatkannya menjadi seni kerajinan yang halus. Ia menunjukkan karya anyaman yang dikerjakannya, lapisan dalam adalah keranjang anyaman tradisional dari pelepah daun, sedangkan simpul-simpul benang lapisan luar menggunakan jahe cangkang yang dipelintir, dijadikan sebagai aksesoris berbentuk jala, benang simpul yang dibuat dari jahe cangkang bertekstur kasar dan keras, ketika melihatnya, maka dapat dirasakan karya ini memerlukan keterampilan tinggi. Pune mengatakan, pembuatan benang simpul ini, dimulai dari berlatih dengan tali rami, memerlukan waktu 6 bulan penuh untuk menyelesaikan karya jahe cangkang pertamanya. Tanpa ragu-ragu, Pune memamerkan karyanya, berharap agar semua orang turut mengetahui betapa mahirnya memanfaatkan jahe cangkang. Beberapa karyanya dikoleksi oleh museum seni kontemporer baik dalam maupun luar negeri. Ia berharap agar teknik anyaman jahe cangkang dapat dikembangkan menjadi seni kerajinan, dengan demikian, jahe cangkangnya pun akan diingat.
Tidak hanya sekedar anyaman jahe cangkang, yang ingin Pune wariskan adalah kekayaan budaya Bunun yang mendasar. Sama halnya dalam pembuatan anyaman jahe cangkang, proses pengolahan bahan suku Bunun lebih rumit tetapi lebih lengkap, sedangkan suku lainnya hanya mengeringkan pelepah daun jahe cangkang, sementara para tetua suku Bunun mengajarkan, pelepah daun harus digantung hingga berjamur, tumbuh bintik-bintik, setelah melunak baru digunakan untuk menganyam.
“Para tetua tidak akan memberitahu kami, alasan di balik cara pengolahan ini, karena kami terus menerus melakukan eksperimen dan membuat perbandingan, baru menyadari bahwa tahap ini disebut dengan ‘disisihkan supaya berjamur’”. Berapa lama harus dikeringkan? “Anda tidak akan mengetahuinya, akan tetapi jahe cangkang bisa bersuara, saya akan pastikan jahe cangkang bersuara, baru saya kumpulkan.” Ia memandu kami ke bagian tembok depan yang dipenuhi dengan pelepah daun jahe cangkang yang bergelantungan, lalu dengan tangannya ia memainkan gulungan pelepah daun, menimbulkan suara gemerisik yang jernih, juga ada suara berat terendam, maka diketahui kandungan air di dalam serat belum sepenuhnya menguap, jadi masih perlu menunggu.
Ia mengakui, lahir di masa yang beruntung, mewarisi pengetahuan suku Bunun ratusan tahun dari hampir 3 generasi, ditambah lagi dengan riset di lapangan di perkampungan suku, budaya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, semuanya terserap dalam dirinya.
Berawal dari pengetahuan para tetua, ditambah lagi dengan pengalaman nyata yang dijalani selama bertahun-tahun, Pune terus menerus melakukan studi banding dari kedua hal ini, untuk menyempurnakan pengetahuan tentang jahe cangkang. Dengan anyaman jahe cangkang menenun jalan kembali pulang ke rumah, bagi Pune yang berasal dari suku Bunun, sungguh ini adalah jalan yang sangat unik.
Selain anyaman tradisional dari pelepah daun jahe cangkang, Pune berharap agar teknik seni anyaman jahe cangkang dikembangkan menjadi seni kerajinan yang lebih halus.

Pune memanfaatkan jahe cangkang untuk menemukan jalan pulang ke rumah (Sumber: Taman Ekologi Jahe Cangkang Maslinagan)
