Pelajaran Kebudayaan di Luar Kelas Perpustakaan Mobilitas Asia Tenggara Taitung

:::

2018 / Desember

Artikel‧Chen Chun-fang Gambar‧Lin Min-hsuan


台東有間由學生發起的東南亞移動圖書館,他們募集東南亞語言書籍,無償提供移工借閱,用移工熟悉的文字緩解思鄉的情緒;隨著相處時間演進,學生與移工一起唱歌跳舞、分享美食、語言交換,以改善東南亞移工的生活環境為出發,為在異鄉的心帶來了溫暖,也讓友誼在彼此心中發芽。


Di Taitung terdapat sebuah Perpustakaan Mobilitas Asia Tenggara yang diprakarsai pelajar, mereka mengumpulkan buku-buku berbahasa Asia Tenggara, dipinjamkan gratis bagi Pekerja Migran, menggunakan kata-kata dalam bahasa Pekerja Migran untuk mengurangi rasa rindu akan kampung halaman; seiring dengan berjalannya waktu, para pelajar dan Pekerja Migran bisa berdendang lagu menari bersama, berbagi kelezatan makanan, bertukar bahasa, dimulai dari memperbaiki lingkungan hidup para Pekerja Migran Asia Tenggara, memberikan kehangatan pada kampung halaman yang berbeda, menumbuhkan tunas persahabatan di masing-masing hati.

 

Jelang siang di suatu hari Minggu, kami datang ke Toko Sumber Rejeki di Jalan Guang Ming, Kota Taitung, mencari jejak Perpustakaan Mobilitas Asia Tenggara.

Di luar hanya terlihat sebuah meja Panjang, tidak berapa lama kemudian beberapa pelajar SMA berdatangan masuk ke dalam toko, membawa keluar sebuah koper dan mengeluarkan sehelai kain panjang bercorak oriental sebagai alas meja, kemudian dengan rapi menata buku-buku berbahasa Indonesia, Vietnam dan Thailand, dalam waktu tidak sampai setengah jam Perpustakaan Mobilitas Asia Tenggara telah resmi dibuka!

Berawal dari Ketulusan

Perpustakaan Mobilitas Asia Tenggara untuk para pekerja migran ini diprakarsai oleh Guru Sekolah Menengah Atas (SMA), Andreas Liu dan beberapa pelajar. Di sini, proses meminjam buku dapat berlangsung tanpa harus menggunakan kartu perpustakaan atau kartu tanda pengenal. Hanya dengan mendaftar kepada pustakawan dan membayar uang jaminan, maka dapat meminjam buku tanpa batas waktu.

Semua ini dimulai dari kelas.

Andreas Liu yang berprofesi sebagai guru ilmu sosial, pernah bekerja di International Corporation and Development Fund (ICDF) dan bertanggung jawab untuk urusan Indonesia. Ditambah dengan pengalaman manis yang pernah ia rasakan ketika bepergian ke Indonesia, semakin membuat Andreas Liu terkesan dengan kehangatan masyarakat Asia Tenggara. Berbagai masalah terkait Pekerja Migran Indonesia (PMI) telah menjadi perhatian utamanya selama bertahun-tahun. Di ruang kelas tempat ia mengajar, Andreas Liu tidak lupa berbagi akan kebudayaan Asia Tenggara dan kondisi pekerja mingran di Taiwan. Wajah-wajah asing ini sudah membaur di lingkungan sekitar Taiwan, namun sayangnya masih banyak warga yang merasa asing dengan mereka. Melalui Perpustakaan Mobilitas, Andreas Liu dan para pelajar berharap kegiatan ini dapat mendatangkan perubahan.

Pada malam Idul Fitri yang jatuh di Bulan Mei tahun 2017 lalu, Andreas Liu bersama para pelajar menuju ke Pelabuhan Fugang dengan membawa makanan kecil buatan sendiri berupa pisang goreng, telur balado dan makanan lainnya untuk dibagikan kepada PMI di sana. Para pelajar juga menunjukkan kebolehannya menyanyikan lagu Indonesia dengan diiringi alunan gitar.

Para pelajar melihat sendiri bagaimana para PMI tinggal di ruang yang kecil dan sempit di dalam kapal. Jam kerja di tengah laut yang panjang dan keterbatasan bahasa atau bahkan menghadapi perlakuan diskriminatif di atas kapal; tentu menambah kegelisahan bagai terasingkan di sebuah pulau.

Harapan untuk menghadirkan sesuatu yang berharga bagi para pekerja asing, tumbuh di dalam diri para pelajar. Setelah melalui diskusi konsep Perpustakaan Mobilitas pun berangsur-angsur terbentuk. Mereka mengumpulkan buku-buku dari Toko Buku Brilliant Time, kemudian menggelarnya di lokasi yang menjadi pusat perkumpulan masyarakat Kota Taitung, yakni alun-alun Showtime. Pada hari pertama mereka diusir. Di saat Andreas Liu dan para pelajar tidak tahu harus ke mana, mereka bertemu dengan Sulastri yang adalah penerjemah PMI di Pelabuhan Fugang. Sulastri telah menetap di Taiwan selama 20 tahun dan dirinya juga membuka Toko Indonesia Sumber Rezeki yang menjual beragam kebutuhan sehari-hari di sekitar kawasan itu. Mendengar ide dari Andreas Liu, Sulastri dengan lapang dada mempersilakan mereka menggunakan ruang di depan tokonya. Dan di sinilah Perpustakaan Mobilitas Asia Tenggara mulai menancapkan kakinya.

Kuliner, InstrumenTerbaik bagi Pertukaran Budaya

Paham akan kesusahan sebagai PMI dan imigran baru, setiap hari Minggu, Sulastri membuat beragam makanan dengan ulekan rempah-rempah asal Indonesia, menjaga dan merawat PMI ; tidak heran Sulastri sering dipanggil dengan sebutan kesayangan 「Mami」.

Hari Minggu tiba menandakan hari tersibuk telah tiba, Sulastri juga tidak lupa mengajak Andreas Liu beserta para murid untuk bersama menikmati makanan khas Indonesia. Di atas meja telah tersaji menu andalan Indonesia, seperti daging sapi, kari ayam dan lalapan. Andreas Liu juga membawa beberapa menu khas Taiwan, seperti kimchi ala Taiwan dan tahu kering. Bersama-sama menikmati sajian sambil diselingi obrolan Bahasa Indonesia bercampur dengan Bahasa Mandarin serasa sebuah keluarga. Ketika para PMI berkaraoke ria, ia juga mengajak para pelajar untuk bernyanyi bersama, bahkan Sulastri mempersilakan para pelajar untuk mencoba pakaian tradisional Indonesia yang terpampang di dalam toko. Para murid pun dibimbing Sulastri untuk menari tarian tradisional khas nusantara, perlahan-lahan mengurangi kesenjangan jarak di antara mereka.

Pertukaran Bahasa Pererat Hubungan Persahabatan

Setelah selang beberapa waktu bersama, Sulastri tersentuh akan ketulusan para pelajar, ia bertanya kepada Andreas Liu; apakah bisa mengajarinya menulis huruf Mandarin? “Dibutuhkan keberanian yang besar untuk memperlihatkan kelemahan atau hal yang tidak dimengerti. Ini bukan perkara mudah. Melalui proses yang panjang, mereka percaya bahwa para murid tidak akan menertawakan, melainkan mengajari mereka”, demikian ujar Andreas Liu.

Namun di hari kelas berlangsung, yang awalnya pelajaran diberikan bagi Sulastri yang sudah memiliki kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Mandarin untuk mengenal dan membaca huruf Mandarin, membantunya membaca surat kontrak, bank dan dokumen lainnya; Keseriusan Sulastri terlihat dari ekspresi wajahnya saat menghantar Andreas Liu menuju ruang kelas yang terletak di lantai 2 dari Toko Indonesia Sumber Rezeki. Dalam ruang kelas sederhana dengan papan tulis dan beberapa meja kursi sederhana sudah terisi beberapa PMI telah duduk manis menanti. “Ajarkan mereka dulu, mereka lebih membutuhkan Bahasa Mandarin dibandingkan saya”, ujar Sulastri.

Ternyata sebelumnya ada seorang PMI tanpa didampingi penerjemah diminta oleh majikannya untuk menandatangani surat kontrak yang tidak adil. Setelah beberapa hari berturut-turut bekerja selama 24 jam, sang PMI tersebut meminta waktu istirahat, namun sang majikan malah memukulinya dan akhirnya PMI tersebut dipulangkan. Sulastri membayangkan seandainya ia berada di sana atau setidaknya sang PMI tersebut mengerti Bahasa Mandarin, bukankah dapat mengurangi kemungkinan penyesalan seperti itu.

Para pelajar mengajar PMI mulai dari pelafalan zhuyin Bopomofo, latihan menulis, bahkan sambil memegang tangan PMI, melatih mereka menggoreskan aksara Mandarin, “Sebelum kelas berakhir, saya mengajari seorang PMI menulis namanya. Dengan mata berkaca-kaca ia memberi tahu saya, akhirnya ia tahu bagaimana menulis namanya sendiri”. Hal tersebut sangat berkesan dan menggugah hati pelajar yang bernama Li Zi-ti.

Karena kesibukan bekerja, sehingga jumlah dan tingkat kemampuan pekerja migran yang hadir selalu berbeda. Dalam ruang kelas yang sederhana, para pelajar membaginya dalam kelompok belajar. Selain mengajar Bahasa Mandarin, para pelajar juga meminta PMI menggunakan bahasa Indonesia dalam pengucapannya. Andreas Liu mengemukakan bahwa mengajar Bahasa Mandarin merupakan sebuah pemberian, yang secara tidak tampak merupakan hubungan dari atas ke bawah, tetapi ia dan para pelajar berharap hubungan mereka dengan para PMI adalah setara, saling belajar, menggunakan Bahasa Mandarin dan Indonesia, sehingga turut meningkatkan rasa percaya diri dan kontribusi pekerja migran.

Para pelajar merancang materi pelajaran dengan pemikiran situasi yang dihadapi dalam kehidupan pekerja migran seperti ke dokter, beli tiket kendaraan, menonton film dan lain-lain. Liburan musim dingin tahun ini yang sebenarnya adalah waktu liburan untuk pulang kampung halaman, tetapi para pelajar yang datang dari Taichung, Tainan, Hualien dan tempat lainnya malah kembali ke Taitung dan menggelar kelas intensif dua hari Bahasa Mandarin, bahkan bersama-sama ke pelabuhan Fugang, untuk lebih memahami situasi kerja para pekerja migran.

“Terkadang ada begitu banyak hal yang membuat ingin menyerah, tetapi hati kecil mengatakan jika tidak diteruskan, siapa yang akan mengajari mereka Bahasa Mandarin”, ujar pelajar, Zhang Hui-yi. Setelah sekian lama, hubungan para pelajar dan PMI menjadi seperti kerabat keluarga, membuat mereka berinsiatif memperhatikan masalah sosial terkait pekerja migran, melalui bahan penelitian dan peluang kerja sama dengan NGO yang menaruh perhatian utama akan isu Asia Tenggara. Ini bukan untuk jam tugas relawan dan juga bukan untuk keperluan tugas sekolah, namun merupakan panggilan misi dari diri pelajar.

Perpustakaan Mobilitas Asia Tenggara telah berperan sebagai wadah kepedulian sekelompok guru dan murid atas situasi pekerja migran, tidaklah penting berapa banyak buku yang dipinjamkan, yang mereka inginkan adalah pekerja migran mengetahui bahwa di sini ada satu tempat dan segelintir orang yang selalu menemani mereka. Ketika pertukaran budaya menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari, maka akan mendapati kebaikan dan kesamaan satu sama lain, menghadirkan nuansa pengertian dan toleransi, serta berbagi kehangatan pada sahabat yang datang dari tempat nun jauh di sana. 

 

Artikel yang berkaitan

近期文章

X 使用【台灣光華雜誌】APP!
更快速更方便!